Selamat sore, Saudara-saudara. Pada kesempatan yang sangat oye ini, saya akan mulai pembacaan mendetail cerpen “Seribu Kunang-kunang di Manhattan.” Hampir semua penikmat sastra Indonesia akan bilang kalau cerpen ini bagus. Bagus. Bagus. Kenapa bagus? Ada berbagai macam. Nirwan Dewanto bilang karena cerpen ini “hanya” cerpen suasana, tidak memaksakan satu narasi tertentu, serupa omong-kosong, tapi bisa berlanjut ke penafsiran yang lebih jauh, tak terbatas. Ada lagi yang bilang karena di cerpen ini Umar Kayam tidak berpihak dan tidak berusaha melakukan moralisasi, dan artinya membiarkan tokoh-tokohnya berjalan sendiri. Dan banyak lagi alasan yang membuat orang menganggap cerpen ini bagus, termasuk alasan yang menganggapnya bagus karena banyak orang lain menganggapnya bagus.

Saya secara pribadi menganggap cerpen ini “akan” bagus. Saya tidak tahu apakah cerpen ini memang bagus, tapi setelah saya baca berulang-ulang, saya merasa cerpen ini akan bagus. Tapi, saya kuatirnya segala hal berpotensi menjadi bagus kalau kita terus-terusan mementhelenginya dan mencoba-coba mencari bagian-bagian yang mungkin bagus. Tapi begini, saya sementara berargumen bahwa cerpen ini bagus karena hubungan yang misterius itu. Di sini saya memiliki pendapat yang sama dengan Nirwan Dewanto bahwa cerpen ini memberikan gambaran-gambaran sekilas saja, tidak lengkap. Tapi, alih-alih menggunakan metafora lukisan yang banyak bagiannya masih gelap seperti yang digunakan Oom Nirwan, saya dulu (dulu lho ya, saya punya metafora sendiri sebelum baca Nirwan Dewanto) beranggapan bahwa membaca “Seribu Kunang-kunang” ini seperti menonton film noir (film gelap Hollywood tahun 40-an) di televisi yang layarnya buram karena embun. Ya, karena embun, saya masih berharap embun itu sedikit-demi-sedikit bisa menguap dan akhirnya saya bisa melihat film noir itu (tapi, tentu saja ada kemungkinan bahwa ketika embun itu menguap layar tivi sudah berlumut :D).

Begitulah, setelah saya baca berkali-kali dan mencoba menghubung-hubungkannya dengan beberapa hal, sejarah Amerika tahun 60-an dan beberapa karya sastra lain (termasuk novel James Baldwin yang berjudul Another Country yang terbit pada tahun ‘62—kira-kira tahun ketika pak Kayam menulis “Seribu Kunang-kunang”) saya sampai pada gagasan bahwa sebenarnya ada elemen rasialisme yang laten di cerpen ini, dan beberapa cerpen pak Kayam lainnya di kumpulan Seribu Kunang-kunang di Manhattan.

Tahun 60-an, sebagaimana banyak dari kita tahu, adalah masa-masa yang rawan dalam kaitannya dengan isu rasialisme di Amerika Serikat. Dekade itu adalah dekade terakhir berlakunya hukum Jim Crow, yang kita sebut saja apartheid ala Amerika, di negara-negara bagian selatan di Amerika Serikat. Tahun itu juga kita melihat Gerakan Nasionalisme Kulit Hitam memanas dengan beberapa tokoh utamanya, termasuk Malcolm X—yang mewakili retorika keras ala Nation of Islam, meskipun selanjutnya dia keluar dari Nation of Islam—dan Martin Luther King, Jr, yang mewakili cara lebih lunak bersama teologi pembebasan yang terilhami oleh semangat Kristen. Kelak, sepertinya setelah Pak Kayam menyelesaikan program Doktornya di Cornell University dan kembali ke Indonesia, kita ketahui bahwa Malcolm X gugur di tangan beberapa penembak misterius—ada yang mencurigai mereka sebagai orang suruhan Nation of Islam, tapi ada juga yang menuduh orang-orang bayaran agen rahasia—dan begitu pula Martin Luther King, Jr. tidak lama setelahnya. Untuk seorang sosiolog dan sastrawan sepeka Umar Kayam—kepekaannya saya ketahui dari tulisan Faruk dalam pengantar buku Jaring Semiotika—tidak mungkin isu sepanas itu dia lewatan begitu saja. Lha wong saya saja yang anak band jelata tidak begitu saja melewatkan momen peringatan 20 tahun meledaknya album Nirvana Nevermind yang berperan besar menambah satu lema penting dalam ensiklopedia musik dunia dari masa ke masa.🙂

Baiklah, kembali ke ”Seribu Kunang-kunang,” saya berargumen bahwa ada isu rasialisme yang laten di cerpen ini dan Jane adalah agen yang bersentuhan dengan rasialisme itu. Tapi, Umar Kayam, sebagai juru tulis pikiran Marno, tidak mau begitu saja menjustifikasi persoalan ras itu. Malah terasa ada kesan Umar Kayam mencoba menutup-nutupi hal tersebut. Dia tidak akan berkomentar tentang apa yang sebenarnya terjadi di situ. Dia biarkan Jane saja yang menyatakannya. Tapi, karena hal itu adalah hal yang biasa bagi Jane, dan spertinya Jane sendiri tidak tahu ada masalah itu, dia pun tidak begitu saja curhat kepada Marno. Akhirnya, sementara saya berani berargumen bahwa Tommy adalah seorang lelaki kulit hitam dan Jane adalah orang yang memiliki kecenderungan menjadi pengendali tapi kemudian depresi karena hal-hal yang biasanya bisa dia kendalikan tidak lagi bisa dikendalikan. Dengan kata lain, Jane depresi karena kehilangan “boneka kekasih”-nya.

Nah, untuk mendukung klaim saya tersebut—dan agar tidak dimarahi Oom Saut Situmorang dan dituduh sebagai “petualang sastra” karena sukanya melempar klaim sembunyi bukti—maka saya ajak Saudara-saudara sekalian melihat seluruh isi apartemen Jane, memintanya cuci muka agar lebih segar lagi, menyuruhnya duduk di sofa sebentar, mumpung Marno sudah pulang. Mari:

Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.

“Bulan itu ungu, Marno.”

“Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu ?”

“Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?”

“Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?”

“Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-ng-u! U-ng-u!

“Kuning keemasan!”

“Setan! Besok aku bawa kau ke dokter mata.”

Marno berdiri, pergi ke dapur untuk menambah air dan es ke dalam gelasnya, lalu dia duduk kembali di sofa di sebelah Jane. Kepalanya sudah terasa tidak betapa enak.

Saya pikir sulit rasanya untuk tidak teringat terus bagian pembuka cerpen ini, terutama baris dialog pertama “Bulan itu ungu, Marno.” Puthut EA, yang pernah saya dengar sendiri bilang bahwa dia selalu tertarik mencari kalimat pembuka yang ganas, pasti akan berpendapat bahwa ini adalah “lead” cerpen yang ganas. Dialog diawali dengan sesuatu yang bertentangan dengan gambaran standar. Kelak, beberapa dekade setelah Umar Kayam, kita juga akan dibikin terpelongoh dengan gaya yang sama oleh KLa Project ketika Katon melanjutkan intro melodi gitar jernih memantul-mantul dari Lilo berlatar belakang permain kibord penuh nuansa dari Adi Adrian dan drum lembut rapi dari Ari dengan salah satu kalimat paling dahsyat dalam sejarah musik Indonesia: “Bulan merah jambu, luruh di kotamu”. Ya, sama-sama ganasnya. Dia ganas karena membunuh logika standar. Sesuatu yang kita anggap alami berwarna kuning keemasan langsung dicoret-coret menjadi “Bulan itu ungu.”

Tapi tahan dulu. Bukan itu yang menjadi topik bahasan saya. Biarkan ahli semantik yang membahas soal pembongkaran logika itu. Yang menarik buat saya adalah implikasi luas dari kalimat tersebut. Kenapa Jane menganggap bulan itu ungu? Belakangan, setelah selesai membaca seluruh cerpen ini, dan mulai menentukan bidikan isu yang saya curigai ingin disasar pak Kayam, saya mulai curiga bahwa sebenarnya ini adalah manifestasi puitik dari Jane yang buta warna. Kalau dibawa ke lingkup hubungan sosial, Jane adalah seorang wanita yang buta warna kulit. Kita tidak tahu benar apa warna kulit Jane, tapi yang pasti, seorang wanita yang bisa mampu membayar apartemen sendiri—dan bahkan punya cukup uang untuk membelikan Marno piyama—di New York pada masa itu adalah seorang wanita kulit putih. Tapi kita tahan dulu, bisa jadi dia bukan kulit putih. Tapi yang pasti, dia sudah mau berpacaran dengan Marno, yang jelas-jelas orang Indonesia dan pastinya berbeda warna kulit dengan seorang Amerika. Maka, dengan ini saya nyatakan, satu tugas sudah terlampaui. Jane buta warna kulit. Mungkin saja dia iseng ketika bilang “bulan itu ungu.” Tapi kita bisa membacanya sebagai satu wujud puitik dari kebutawarnakulitannya.

Selanjutnya, yang terlihat jelas di sini adalah nada dan nuansa bicara Jane kepada Marno: mengendalikan. Jane bisa dengan tegas bicara “Bulan itu ungu” kepada Marno, betapapun sangat tidak ungunya bulan itu buat Marno. Dia hanya ingin menyatakan kepada Marno. Dia bukan minta persetujuan, sebab mungkin tidak ada artinya persetujuan dari Marno. Marno, yang bisa kita asumsikan sudah terbiasa dengan gaya Jane yang seperti ini, langsung membalas “kamu hendak memaksa aku mempercaya?” Dan selanjutnya Jane mengatakan bahwa dia mau Marno untuk “[meng]akui” hal itu. Dan pertanyaan yang keluar dari mulutnya pun “tag question” yang tidak butuh jawaban. Dia hanya butuh konfirmasi. Dan ketika Marno tetap tidak mau percaya, Jane langsung bilang “Setan!” dan akan membawa dia ke dokter mata, sebuah otoritas di luar yang akan membuktikan bahwa Marno salah (meskipun kalau akhirnya mereka jadi ke dokter mata kita semua akan tahu siapa yang salah).

Sejak awal sudah terlihat ketegangan. Jane memiliki kecenderungan mengendalikan, sementara Marno tidak begitu saja mau menurut. Pada titik ini, kita masih belum bisa membuktikan apakah sebelumnya Marno selalu menurut apa kata Jane atau tidak. Yang pasti, sudah ada isyarat ketegangan, ketidakbertemuan sejak awal. Dan hingga akhir dialog ini pun tetap tidak ada titik temu di antara mereka. Yang menghentikan adalah kegiatan ke dapur untuk mengambil air dan es, untuk mengencerkan minumannya.

(to be continued)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s