Gina: Kalau kamu diberi dua voucher membunuh, siapa yang kamu bunuh?
Boy: Apa? Dua voucher apa?
Gina: Sudahlah, nggak usah pura-pura kaget.
Boy: Bener, aku meragukan pendengaranku. Dua voucher apa tadi?
Gina: Nggak, kamu nggak salah dengar.
Boy: Nggak, nggak, aku salah dengar. Pasti.
Gina: Nggak, nggak, nggak, kamu nggak salah dengar. Kamu dengar apa?
Boy: Nggak 2012x. Aku salah dengar. Titik! Kalau aku ngomong, nanti kamu pikir aku sadis.
Gina: —
Boy: Sebentar, jangan mulai omonganmu dengan “nggak.” Aku sudah bosan dengar nggak, nggak, nggak, nggak, nggak dari tadi. Kita ini bukan burung gagak yang suka saling bantah nggak, nggak, nggak, nggak, nggak.
Gina: Berapa Nggak itu?
Boy: Satu koloni!
Gina: Hahaha…
Boy: Hahaha…
Gina: Oh ya, balik lagi, kamu dengar apa tadi?
Boy: Menurut pendengaranku, kamu tadi bi– Eh, enak saja, jangan mancing ya. Aku tadi sudah bilang aku salah dengar, gak mau ngomong, aku bukan orang sadis. Aku cuma salah dengar.
Gina: Nggak–
Boy: Jangan bilang Nggak, Nona. Aku sudah gak kuat membayar “Nggak”mu.
Gina: Hahaha… Iya deh. Aku tadi bilang kalau… kamu… dapat… dua… VOU-CHER… MEM-BU-NUH–
Boy: Amit-amit!
Gina: –akan kamu pakai buat bunuh siapa.
Boy: Dasar sadis! Sudah gitu ngomongnya sambil senyum lagi.
Gina: Terus? Buat bunuh siapa? Cepet, aku sudah di-SMS Kaka dua kali nih, aku harus cepet-cepet nelpon dia.
Boy: SADIS!
Gina: Jawab, atau…
Boy: Aku akan pakai buat bunuh kamu!
Gina: Kenapa?
Boy: Karena kamu terlalu sadis, jadi aku harus bunuh kamu sebelum kamu mengakibatkan pembunuhan-pembunuhan sadis lain.
Gina: Hehehe… oke. Tapi kan itu baru satu, satunya lagi buat bunuh siapa?
Boy: Aku simpan dulu, siapa tahu kamu ternyata muncul di sekuel kisah pembunuhanku. Biasanya kan orang sadis sulit matinya di film-film thriller itu.
Gina: Sialan. Ya sudah deh, aku telpon dulu si Kaka. (Gina bangkit dari tempat tidur, berhenti sebentar, jemari tangan kanannya bersiap memencet nomor pacarnya, Kaka, dan jari-jari kirinya merapikan rambutnya dan mengumpulkan rambut panjangnya itu di bahu kirinya yang telanjang.)
Boy: Tunggu dulu, Gin. (Boy memiringkan badannya di balik selimut putih.)
Gina: Kenapa? (Gina men-cancel panggilan yang masih belum terhubung itu.)
Boy: Setelah aku pikir-pikir, kayaknya aku mau pakai voucher pertama buat bunuh Kaka dulu deh. Tapi ini voucher tanpa syarat dan ketentuan berlaku, kan?
Gina: Hahaha… (Sambil ambil bantal putih yang tadi dia tiduri dan dilemparkannya ke Boy)
Boy: Aduh! (Pura-pura sakit)
Gina: Happy valentine, Boy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s