Rahnema, Ali (Ed.). Pioneers of Islamic Revival. London & New Jersey: Zed Books Ltd. 1994. Print.

Buku ini berisi tulisan 9 tulisan panjang dari para ahli studi keislaman dan sejarawan keislaman tentang 9 tokoh yang kini dikenal sebagai para pioner revivalisme islam, atau gerakan mengeluarkan nilai-nilai Islam dari linkup pribadi ke lingkup sosial dan politik. Kesembilan pioneer itu adalah: Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh, Khomeini, Maududi, Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, Musa al-Sadr, Ali Syariati dan Muhammad Baqer as-Sadr. Tulisan-tulisan tersebut tampak berusaha seluas mungkin mengurai para revivalis tersebut. Selain pemikiran masing-masing, para penulis juga menelusuri latar belakang geografis dan sejarah serta kependidikan masing-masing tokoh, dan selanjutnya mencari keterkaitan antara hal-hal tersebut dengan pemikiran revivalisme mereka.

Tulisan-tulisan ini dihantarkan dengan sebuah esai yang cukup jelas dan komprehensif oleh Ali Rahnema, seorang profesor Ilmu Ekonomi dan direktor program magister Kajian Timur Tengah dan Keislaman di American University of Paris. Dalam esai pengantar ini, Ali Rahnema memberikan narasi singkat tentang kemunculan ideologi politik Islam pada Abad ke-20 tanpa mengingkari bahwa gagasan revivalisme Islam sendiri sebenarnya sudah pernah dikemukakan oleh Imam Muhammad Ghazali (biasanya sih saya nyebutnya Imam Gahazali, tapi hari ini saya pingin keren saja :D) dari Baghdad dalam buku Kebangkitan Ilmu-ilmu Agama (biasanya sih saya sebutnya Ihya’ulumuddin, :D). Salah satu argumen Ghazali dalam buku itu, sebagaimana dikutip Ali Rahnema, adalah korupnya para ulama membuat bejatnya pimpinan yang berkuasa, dan pimpinan yang berkuasa ini akhirnya menyebabkan kemerosotan rakyat. Bagi Ghazali, yang demi menghindari anarki dan kerusuhan massal memilih menghindari perlawanan bersenjata terhadap penguasa, menjadi intelektual yang menyimpang dari mainstream dalam masyarakat seperti ini diperbolehkan dan—saya simpulkan—solusinya adalah pendidikan masyarakat. Para revivalis modern, sebaliknya, menganggap pendidikan-ulang masyarakat (dengan nilai-nilai yang mereka percayai kebenarannya) hanyalah sebuah pengantar menuju kebangkitan Islam (secara politik) yang sesungguhnya. Demikian menurut pengantar Ali Rahnema.

Membaca tentang para pionir ini sangat memungkinkan membuat kita takjub dengan keluasan pandangan dan kepedulian mereka terhadap berbagai masalah sosial—yang tentunya tidak hanya menyangkut masalah orang Islam. Bahkan, mengetahui fakta bahwa sebagian di antara para pionir itu yang sebenarnya berpendidikan Eropa dan menggunakan peradaban Eropa dalam menggodok pandangan revivalis mereka adalah sesuatu yang tak urung bisa membuat kita terkejut. Iya, kita bisa terhenyak, apalagi kalau kita lihat bagaimana gerakan revivalisme Islam itu kini seringkali tidak bisa dibedakan dengan fundamentalisme Islam (yang sayangnya di media Amerika sekarang punya “sebutan halus”: Islamism) yang cenderung muslim-sentris dan tidak berempati dengan sesama anggota komunitas yang beragama lain (atau tidak beragama).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s