Saudara-saudara, bertemu lagi dengan sahaya dalam sesi resensi film. Kali ini yang kita gosipkan adalah film Emirati (yaitu kata sifatnya United Arab Emirates, atau Uni Emirat Arab) yang berjudul City of Life, film yang ditulis dan disutradarai oleh Ali F. Mostafa. Kota ini berlatar di kota Dubai, sebuah kota internasional yang 40 tahun yang lalu masih berupa kota gurun dan pelabuhan yang menjadi pintu masuk ke teluk Persia—btw, kita cukupkan di sini saja pelajaran geografi kita. Balik ke film, satu kata yang menurut saya paling pas mewakili film ini adalah “kebhinekaan” (hayo ngaku, sudah berapa tahun Anda belum pernah dengar kata ini?). Dalam beberapa paragraf ke depan saya akan coba tunjukkan beberapa wujud “kebhinekaan” itu.

Kebhinekaan sosialCity of Life menyajikan tiga kelompok sosial, ekspatriat dari Eropa, pekerja migran asal Asia Selatan,dan orang-orang Arab (tentu saja :D). Dubai memang dikenal sebagai negara Timur Tengah yang paling maju dalam hal perdagangan dan teknologi. Dan semua itu tentu saja tak lepas dari peran para pekerja asing, baik itu dari Eropa maupun dari Asia Selatan. Menurut statistik, rasio antara orang Arab dan pendatang di Dubai saat ini adalah 1:20. Karena ramainya bisnis di Dubai, negara yang awalnya mengandalkan pada minyak dan mutiara itu kini sama sekali tidak bergantung pada minyak. Ketiga kelompok itu diwakili oleh 1) Natalia (Alexandra Maria Lara), seorang pramugari mantan penari balet asal Romania, 2) Faisal (Saoud Alkaabi), seorang anak pengusaha real estat yang dipaksa bapaknya melanjutkan bisnis. dan 3) Basu (Sonu Sood), seorang sopir taksi asal India yang wajahnya mirip artis Bollywood dan dibuai mimpi jadi selebriti. Mereka bertiga ini hidup dalam kantong-kantong sosial mereka sendiri dan saling terpisah meskipun beberapa kali mereka bersilang jalan. Meskipun ada satu insiden dalam film ini yang mempertemukan mereka semua (saya yakin Anda sudah bisa menebaknya kalau elemen2 yang berbeda dalam sebuah film pada akhirnya bertemu), tetap saja mereka tetap nyaman di kantong-kantong sosial mereka. Bahkan, mereka bertiga bisa dibilang sudah nyaman dengan support system di masing-masing kantong sosial mereka dan tidak perlu ada alasan untuk lintas kantong. Para ekspatriat high class sudah memiliki pesta-pesta dan bar-bar mereka yang membuat Teluk Persia tidak jauh berbeda dengan Sungai Thames. Ekspatriat kelas bersahaja dari India (sekadar mengingatkan bahwa pekerja migran pada intinya juga sama dengan ekspatriat, cuma mereka beruntung) memiliki bar-bar India, jaringan mata pencaharian, dan gedung-gedung bioskop Bollywood. Anak-anak Arab berkumpul di padang pasir untuk saling pamer motor dan mobil, sambil sesekali mencoba melintas kantong menghadiri pesta-pesta para ekspat (tentu, orang kaya bisa lebih fleksibel menghadapi batasan sosial).

Kebhinekaan Linguistik. Satu hal yang membuat saya tidak bosan saat menonton film ini adalah gonta-gantinya bahasa. Meski secara umum disatukan oleh bahasa Inggris, ketiga kelompok sosial yang ada di film itu menggunakan bahasa mereka sendiri-sendiri, dan seolah-olah tidak ada usaha dari pihak sutradara untuk membekap satu pun dari mereka dalam hal bahasa. Tokoh-tokoh ini hanya menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibu mereka, semua itu karena keadaan menuntut mereka melakukan itu. Faisal misalnya, dia hanya menggunakan bahasa Inggris saat berada di sebuah setting ketika tidak mungkin dia menggunakan bahasa Arab. Begitu juga dengan Guy, seorang pimpinan perusahaan periklanan; dia baru menggunakan bahasa Arab saat berbicara dengan kliennya, itupun secara terbatas. Buat saya pribadi, tentu saja yang seperti ini sangat cocok, sesuai dengan logika naratif.

Kebhinekaan Naratif. Seperti saya singgung sebentar di atas, ketiga tokoh utama kita di film ini memiliki konflik mereka sendiri-sendiri. Natalia berkonflik dengan pacar dan teman satu apartemennya. Permasalahan yang dia hadapi semestinya tidak terlalu menjadi masalah untuk latar Barat, tapi karena mereka ada di Timur Tengah, yang meskipun sedikit masih tetap mempertahankan nilai-nilainya dalam hubungan sosial, permasalahannya pun menjadi semakin berat. Sementara itu, Faisal ada di ujung masa suka-sukanya dan dituntut untuk menjadi seorang profesional yang bisa melanjutkan usaha bapaknya. Meskipun tampak masih seperti anak-anak saat duduk di meja kantornya (yang telah menunggu lima belas tahun untuk dia duduki), Faisal sebenarnya sudah tampak terlalu “dewasa” saat bermain-main dengan temannya—dalam permainan-permainan yang bisa dibilang seperti mainannya orang yang tiba-tiba saja punya duit dan bisa beli apa saja. Basu, sementara itu, hidupnya digoyang oleh mimpi-mimpi yang sebenarnya juga dipicu oleh orang-orang di sekitarnya. Kemiripan wajahnya dengan bintang film Peter Patel membuat teman-temannya mendorong agar dia menjadi bintang film dan ketika kesempatan itu datang, hidupnya sendiri malah sempat kacau. Satu hal yang menarik terkait kebhinekaan naratif ini adalah tidak adanya upaya penyatuan ketiga naratif itu dengan paksa. Segala persinggungan antara ketiga naratif itu terjadi secara fisik dan tidak pernah sampai melibatkan penyatuan yang ikhlas. Natalia sempat naik taksi yang disupiri Basu. Basu sempat mencoba melamar pekerjaan sebagai bintang iklan di perusahaan Guy, tapi tidak diterima. Faisal menghadiri pesta di mana Natalia juga ikut berpesta, tapi tidak ada hubungan berarti dari pertemuan itu. Hal ini sepertinya cocok dengan penggambaran tentang kehidupan di Dubai yang sebenarnya. Ketiga kelompok sosial yang ada di sana benar-benar hidup dalam gelembungnya sendiri dan tidak benar-benar menyatu, dan masing-masing menerapkan nilai-nilainya sendiri untuk kalangan mereka sendiri—well, kira-kira begitulah, saya pernah tinggal serumah dengan seorang anak Bangladesh yang dari bayi sampai selesai SMA tinggal di Dubai dan tidak mengerti bahasa Arab dan tidak banyak bergaul kecuali dengan kelompoknya sendiri.

Sementara begitu dulu lah resensi film City of Life ini. Semoga Anda sekalian berkesempatan menonton film asyik ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s