Judas Iscariot and Others adalah novela karya penulis Rusia masa revolusi bolshevik Leonid Andreyev. Bisa ditebak, Judas Iscariot yang dimaksud di sini adalah Judas yang secara mainstream dikenal sebagai orang yang termasuk salah satu murid Jesus yang kemudian menghianatinya. Tapi, karena buku yang saya baca ini adalah sebuah karya sastra, maka tentunya dia menawarkan penyajian yang berbeda dengan gaya didaktik kitab suci atau apa yang secara umum dipercayai orang. Di sini, Judas disajikan sebagai sosok yang problematis dan mengundang simpati.

Kisah tentang Jesus dan penyaliban dalam novela ini diliput dari sudut pandang narator orang ketiga yang mungkin mewakili sudut pandang Judas sendiri, meskipun tidak ada pernyataan tegas seperti itu. Saya sampai pada kesimpulan itu karena kisah diawali dengan perkenalan atas sosok Judas—mulai dari ciri fisiknya yang buruk rupa hingga kebiasaan dan sifatnya—dan kemudian berlanjut dengan kisahnya ketika sudah menjadi murid Jesus, hingga kemudian menghianatinya, mengikuti proses penyiksaan Jesus dan diakhiri dengan kematian Judas.

Karena kedekatan narator dengan Judas inilah, kita jadi tahu berbagai hal kecil yang menjadi motivasi di balik tindakan-tindakan Judas, yang kalau kita lihat sekadar sekilas saja mungkin seperti perbuatan yang murni tidak tercela. Salah satu contoh yang terlihat jelas di situ adalah ketika suatu hari Judas ditemukan mencuri uang derma yang diterima Jesus dan murid-muridnya dari orang-orang yang mempercayai ajaran Jesus. Bisa disimpulkan dari narasi novela ini bahwa Judas mencuri uang derma itu (dan menggunakannya untuk berasyik-masyuk dengan pelacur) karena dia ingin mendapat kemarahan Jesus, yang artinya adalah perhatiannya (selama ini Judas tidak terlalu diperhatikan Jesus). Sayangnya, Jesus malah membiarkan Judas melakukan itu karena dia adalah juga termasuk pengikut Jesus, yang artinya berhak juga mendapatkan uang derma tersebut.

Problematika yang paling mengemuka dalam novela ini, bagaimanapun, adalah terkait “penghianatan” Jesus yang dia lakukan itu. Pada awalnya, tampak seolah Judas melaporkan tentang Jesus yang berpotensi subversif terhadap kekuasaan kependetaan yahudi sekaligus pemerintah Romawi di Judaea. Tapi, belakangan, dia malah mencoba sebisa mungkin mengingatkan para murid Jesus lainnya tentang kemungkinan ditangkapnya Jesus karena tindakan subversifnya. Bahkan, ketika Jesus telah ditangkap dan disiksa, ketika para murid Jesus lainnya mengingkari keterlibatan mereka karena mematuhi perintah Jesus, Judas adalah satu-satunya yang terus mengikuti proses penyiksaan, penyalipan hingga pembunuhan. Setelah Jesus gugur di kayu salib itu, Judas kemudian malah menemui si pendeta Annas dan mengatakan bahwa sebenarnya, kematian Jesus ini adalah bukan kemenangan bagi para pendeta itu. Justru kematian itulah yang selanjutnya membuat mereka hina hingga berabad-abad kelak. Biarkan saya kutipkan banyak-banyak bagian di mana dia menceramahi pendeta Annas:

“But who are you, the clever ones! Judas deceived you—hear! It was not [Jesus] that he betrayed—but you—you wiseacres, you, the powerful, you he betrayed to a shameful death, which will not end, throughout the ages. Thirty pieces of silver! Well, well. But that is the price of YOUR blood—blood filthy as the dish-water which the women throw out of the gates of their houses. Oh! Annas, old, grey, stupid Annas, chock-full of the Law, why did you not give one silver piece, just one obolus more? At this price you will go down through the ages!” (63)

Siapa saja mungkin akan menentang akal bulus seperti ini, membiarkan seseorang terbunuh demi membuat hina kelompok yang membunuhnya. Memang si pembunuh jadi hina, tapi tetap saja sudah ada yang menjadi korban. Judas sepertinya berpikir berpuluh kali lipat lebih rumit dari apa yang saya sampaikan di dua kalimat sebelum ini.

Maka, di sinilah harus saya tutup postingan singkat ini. Menurut pembacaan saya, inilah satu poin paling menonjol dari novela Judas Iscariot and Others karya Andreyev ini. Untuk lebih jelasnya, silakan baca sendiri. Oh ya, lihat juga perbincangan problematis (lagi-lagi problematis!) antara Judas dan para murid Jesus yang lain di bab-bab akhir novela ini. Dan tentu saja, sebelas-duabelas dengan menjadi simpatiknya sosok Judas ini, menjadi kurang simpatik juga sosok murid-murid Jesus yang lainnya. Silakan temukan sendiri kejutannya di buku ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s