Mumpung belum ada larangan nulis resensi di tumblr, saya akan bikin satu resensi yang mendesak. Fokusnya kali ini adalah buku berjudul What I Believe yang ditulis oleh Tariq Ramadan. Bagi yang menekuni sastra Inggris atau kebudayaan Inggris masa kolonial, judul ini pasti mengingatkan kepada karya yang ditulis oleh E.M. Forster (yang tentu saja lebih terkenal sebagai penulis A Passage to India). Kira-kira dengan tujuan yang sama dengan E.M. Forster, Tariq Ramadan dalam buku manis ini menyajikan dengan manis tapi penuh percaya diri hal-hal yang dia percayai terkait pandangan keislamannya, sosialnya, budayanya, politiknya dan intelektualnya. Karena tipisnya ruang yang ada di sini, maka saya akan bahas beberapa kata kunci saja dari buku tersebut yang kira-kira bisa memberi gambaran super singkat.

Sekadar perkenalan awal: Tariq Ramadan adalah seorang berkewarganegaraan Swiss yang terlahir dari orang tua Arab asal Mesir. Tariq adalah cucu dari Hasan Al-Banna, pendiri organisasi Islam Ikhwanul Muslimin yang tewas tertembak di Mesir. Tariq dibesarkan di Swiss, pernah sekolah di Perancis, dsb, dst, dll, dllajr (silakan digoogle sendiri). Selanjutnya mari kita langsung:

Reformis. Pak Tariq berpandangan di antara berbagai jenis Muslim, ada dua jenis yang seringkali dipertentangkan: literalis dan reformis. Literalis cenderung membaca sumber-sumber Islam sebagai sesuatu yang sudah siap pakai, sehingga berupaya mengikuti selurus-lurusnya apa yang ada di Alqur’an dan Hadith. Sementara itu, para reformis biasanya berpandangan bahwa Qur’an dan Hadith diturunkan pada masa tertentu dan para imam madzhab memiliki metode-metode tertentu (istilahnya ushul fiqih) yang oleh orang-orang pada masa kini bisa diikuti untuk mengadaptasi nilai-nilai Qur’an dan hadith untuk konteks masa kini. Tariq menyebut diri sebagai orang yang berupaya lebih jauh dari kelompok yang kedua ini. Buat Pak Tariq, metode-metode ini pun masih perlu dipertanyakan kembali karena mereka hadir pada satu masa tertentu yang semangatnya sudah sangat jauh berbeda dengan masa saat ini. Bahkan, Qur’an dan hadith pun memiliki konteks tempat dan zaman tersendiri. Praktisnya, yang diperlukan adalah menggali ke nilai-nilai inti dari Qur’an dan hadith dan memisahkannya dari elemen-elemen waktu dan zaman.

Muslim Barat. Saat mendiskusikan persoalan Islam di negara Barat, pengamat Islam (dan mungkin muslim dari kelompok-kelompok tertentu) cenderung mengungkit-ungkit kembali terminologi Darul Islam (alam Islam, negeri-negeri yang berpenduduk mayoritas Islam) dan Darul Harb (alam perang, negeri-negeri yang mayoritas beragama lain, biasanya sih Kristen). Ini adalah terminologi warisan jaman  Perang Salib. Tariq menyatakan bahwa banyak pemikir Islam yang membawa diskusi ke arah Darul Ahd (alam kontrak), yang mengacu pada fenomena kelompok-kelompok kecil Muslim yang tinggal di negara berpenduduk mayoritas non-Muslim. Bagi Tariq, bahkan pandangan Darul Ahd ini pun dia rasa masih memiliki keterkaitan dengan dua pandangan sebelumnya, dan masih mengandung pola pikir “kita” vs “mereka.” Tariq menawarkan konsep Darul Syahadah (alam kesaksian), yang maksudnya adalah di mana pun muslim berada hendaknya dirinya menjadi saksi (atau dengan kata lain: menjamin) terciptanya nilai-nilai kemanusiaan. Implikasi dari konsep ini adalah dalam kehidupan sosial muslim hendaknya tidak memisahkan diri dan bersama-sama menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

“Kita.” Tariq Ramadan berpandangan bahwa satu hal yang penting dalam Islam adalah menghormati perbedaan. Dalam kehidupan pribadi, seorang Muslim menyebut dirinya Muslim dan membedakan diri dengan cara menjalankan spiritualitas dengan orang-orang beragama lain. Tapi, menurutnya hal itu hendaknya tidak menghalangi muslim yang bersangkutan untuk menerima pelajaran dari orang lain dan menjalankan nilai-nilai yang dijalankan oleh masyarakatnya. Karena itulah, ketika dia tinggal di Swiss, misalnya, sudah sepantasnya dia menjunjung tinggi hukum yang berlaku di sana, dan bahkan menganggapnya sebagai hukum yang sesuai “syariah,” meskipun hukum itu bukan dibuat oleh muslim, karena hukum-hukum tersebut menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Perkenankan saya kutipkan di sini:

Thus, all the laws that protect human life and dignity, promote justice and equality, enforce respect of Nature, and so on, are my sharî`ah implemented in my society, even though this is not a Muslim majority society or those laws have not been devised and produced by Muslim scholars.

Terkait dengan ini juga, dia berpandangan bahwa sudah saatnya diskursus muslim di Barat menjalankan apa yang dia sebut sebagai pendekatan “pos-integrasi.” Integrasi mengindikasikan bahwa masih ada dua elemen, mayoritas dan minoritas, di mana mayoritas berupaya merangkul minoritas atau sebaliknya minoritas berusaha mendekati mayoritas. Di situ masih ada dikotomi “kita” dan “mereka.” Sudah saatnya muslim sekaligus penduduk “asli” di negara-negara Barat melangkah lebih jauh dari sekadar “integrasi” dan langsung bekerja bareng menyelesaikan masalah-masalah sosial yang lebih kongkrit.

Sementara begitu dulu postingan-postingan singkat dengan topik “Pemikiran Islam Modern.” Semoga ada kesempatan dan kemauan untuk melanjutkan dengan postingan-postingan selanjutnya.

2 thoughts on “Tiga Kata Kunci dari What I Believe-nya Tariq Ramadan

    1. Sama-sama, Mbak Nur. Saya cuma mencoba mencatat hasil baca saja waktu itu, biar tidak lupa. Malah, sebenarnya saya lupa pernah nulis ini, sampai ada notifikasi komentar sampean tadi. Jadi, saya yang berterima kasih sama sampean. Jangan lupa, gaya anak jaman sekarang: Like dan Share. Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s