Pada tahun 1824, ada perjanjian antara Inggris dan Belanda terkait kawasan Asia Tenggara. Perjanjian ini kelak akan mempengaruhi perkembangan bahasa Melayu.

Jadi, pada tahun 1824 itu, Belanda dan Inggris melakukan perjanjian untuk membagi lingkup pengaruh mereka di Asia Tenggara. Belanda mendapat “jatah” untuk “menguasai” kawasan kepulauan nusantara (yang tentu saja kelak terkumpul jadi satu menjadi sebagian besar negara Indonesia) dan Inggris mendapat kawasan Melayu daratan, yaitu kawasan indah yang kelak mereka “bebaskan” dan menjadi negara Malaysia.

Ya, berbagi jatah ini mirip dengan perjanjian antara Inggris dan Perancis saat membagi kawasan Afrika, berbekal peta dan penggaris, terus memisah-misah tanah agung afrika yang tua itu menjadi cuilan-cuilan kecil yang sekarang kita kenal sebagai negara-negara Afrika itu. 

Kembali ke kasus perjanjian 1824 itu, ada dampak negatif dan positifnya, tentu saja. Negatifnya, ada bangsa yang dulunya satu kini terpisah jadi dua, yaitu Kesultanan Riau-Johor. Sejak perjanjian itu, sedikit demi sedikit mereka terpisah (tentu saja tidak langsung).

Dampak positifnya (maaf kalau saya buat paragraf baru di sini, biar lebih tersoroti), terjadi perkembangan linguistik yang menarik. Kawasan yang “diurusi” Inggris (yang saat itu dikenal di dunia internasional sebagai British East Indies) sedikit demi sedikit menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Melayu tetap digunakan tapi oleh etnis-etnis yang memang merupakan pemilik bahasa Melayu tersebut. Kelak bahasa Melayu mereka sangat banyak terpengaruh bahasa Inggris. Sementara untuk kawasan yang “diasuh” Belanda, bahasa Melayunya menyebar di seluruh kawasan kepulauan, bahkan menjadi lingua franca tidak resmi pada abad ke-19 itu. Sebagai anak asuh Belanda, para pengguna bahasa Melayu “swasta” ini juga sedikit demi sedikit mengadopsi bahasa Belanda. Dan karena bahasa ini kini digunakan oleh bangsa-bangsa yang sebenarnya juga punya bahasa sendiri-sendiri, maka bahasa Melayu ini pun jadi diperkaya bahasa-bahasa daerah. Dan, ketika kelak diputuskan bersama-sama untuk dijadikan bahasa pemersatu bangsa-bangsa (yang kelak akan disebut “suku” saja biar lebih bersahaja) ini pada tahun 1928, maka perkembangan bangsa Melayu 2.0 ini pun berbelok arah. Kelak—lagi-lagi kelak!—bahasa inipun menjadi bahasa Indonesia. 

Sementara begini dulu, kalau nanti bukunya sudah dibaca 2 kali pastinya akan ada update.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s