Mikail Bakhtin, seorang musuh Stalin yang sampai harus menggunakan nama teman-temannya agar bukunya bisa terbit itu, di salah satu esainya tentang novel mengatakan bahwa novel adalah karya sastra yang unik. Menurut Bakhtin, di antara keunikan novel adalah karena hingga saat ini—yang dimaksud saat ini adalah ketika Bakhtin menulis di pengasingan, yaitu ketika masa rezim Stalin suka buang-buang orang, antara tahun 1937-1953-an—novel masih berproses. Novel masih terus berkembang terdefinisikan, bentuknya bermacam-macam dan tidak terbatas.

Kalau ada satu yang mencirikan novel, masih kata Bakhtin, elemen itu adalah nadanya. Nada yang menjadi ciri novel ini akan terasa jelas kalau dibandingkan dengan pendahulu novel, yaitu epik. Seperti kita tahu, epik adalah kisah yang dipenuhi kepahlawanan, kemanusiasuperan, ketokohan, silang sengkarut awal mula sebuah bangsa, dll. Sementara itu, novel adalah karya sastra yang berkutat dengan tokoh-tokoh manusia kecil di dunianya yang besar, yang terus berputar menggilas-gilas. Tokoh-tokoh dalam novel adalah manusia-manusia yang bisa dijadikan bahan olok-olok, manusia-manusia yang terasa dekat dengan pembaca karena dia berpretensi memiliki sifat-sifat yang juga ada pada pembacanya. Dengan upaya pendefinisian yang seperti itu, Bakhtin pun akhirnya sampai pada pandangan bahwa dialog-dialog Plato itu bisa dianggap berbentuk novel.

Terus bagaimana kita mesti melihat anomali yang ada di Indonesia saat ini? Ada penulis yang penuh semangat menulis novel tentang tokoh-tokoh pemerintahan, almarhum mantan presiden, pendiri NU dan Muhammadiyah, tokoh perjuangan, perjuangan diri sendiri (yang kini akhirnya jadi genre “novel inspirasi” itu), termasuk yang baru muncul dalam hitungan hari, novel Anak Sejuta Bintang yang menurut penulisnya memang berkisah tentang masa kecil Abu Rizal Bakrie yang “disinyalir” akan mencalonkan presiden itu.

Apakah kemoncolen membawa Bakhtin untuk mendiskusikan novel-novel ini? Apa novel-novel ini akhirnya ada di pasaran karena karena desakan kapital? Apa bukannya kemunculan novel-novel macam ini sebenarnya hanya gejala saja dari suatu krisis yang lebih besar dalam sastra Indonesia yang kritiknya kurang subur tapi petualangnya rajin memberi label?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s