Akhirnya, tidak sabar juga saya untuk menuliskan poin-poin dari Orang-orang Bloomington yang selama ini mungkin kita lewatkan. Kali ini, saya akan mulai dengan membeberkan salah satu poin paling penting yang hadir terus-menerus di sekujur kumpulan cerpen pak Budi Darma itu: spirit pro-teknologi. Maksudnya? Ada kesan yang kuat dalam Orang-orang Bloomington bahwa Pak Budi adalah orang yang pro-teknologi dan merangkul teknologi untuk dihirup dan dijadikan satu elemen penting dalam cerpen-cerpennya, setidaknya dalam buku ini.

Lekak-lekuk cerita dalam Orang-orang Bloomington seringkali mendapatkan bentuknya dari penggunaan telepon secara intensif. Kok menggunakan telepon saja dianggap pro-teknologi? Mari kita lihat secara historis. Untuk kebanyakan orang Indonesia yang tinggal di Jawa dan Sumatera pada zaman sekarang, telepon bukan sesuatu yang aneh. Bahkan di kantor balai desa ada. Bagaimana dengan orang-orang Indonesia pada tahun 1983, ketika Orang-orang Bloomington ini diterbitkan untuk pertama kalinya? Menurut penelitian seorang kawan yang kuliah di jurusan Teknik Elektro ITS pada akhir tahun 80-an dan awal 90-an yang kebetulan mengerjakan skripsi tentang penyebaran telekomunikasi di Indonesia, pada akhir tahun 80-an itu, bisa dibilang hanya sedikit warga Indonesia yang bisa menikmati penggunaan telepon. Apalagi pada awal tahun 1980-an, ketika buku Pak Budi itu terbit. Menurut teman tersebut, hanya orang-orang penting, para pejabat, misalnya, yang memiliki telepon di rumahnya dan fasih menggunakannya. Sementara orang pada umumnya, pembaca cerita-cerita Pak Budi Darma, saya yakin hanya tahu tentang telepon dari film-film di bioskop atau televisi. Dalam Orang-orang Bloomington, kita bisa lihat bagaimana tokoh-tokoh Pak Budi dengan intensif menggunakan telepon, buku alamat, buku telepon, untuk menggali informasi tentang orang-orang yang disasarnya. Mereka juga menggunakan telepon untuk melakukan tindak keusilan yang sangat merata di seluruh buku ini. Akhirnya, berkat telepon juga mereka bisa terbelit masalah ini dan itu. Dan praktik semacam ini bisa ditemukan di seluruh cerita. 

Apa signifikansinya? Sabar sebentar, saya harus masuk kelas untuk kuliah. Insya allah postingan ini akan diupdate begitu ada waktu. 

Salaam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s