Semakin besarlah kecurigaan sahaya terkait kesemenamenaan ruang dan sejarah dalam karya-karya Budi Darma seiring dengan laju berbaliknya lembar demi lembar buku Orang-orang Bloomington. Dulu saya curiga dengan politik bahasa Budi Darma yang dengan senang hati menggunakan dialog sampean-sampeanan di sekujur buku Olenka. Selanjutnya saya juga curiga dengan sosok aku dalam cerpen Lelaki Tua Tanpa Nama yang super reseh dan nyinyir yang berbanding terbalik dengan tokoh2 lain yang cenderung dingin dan tidak urus. Terus lama kelamaan saya jadi curiga jangan-jangan buat pak Budi tidak ada bedanya orang yang tinggal di Bloomington, Indiana, dan orang yang tinggal di Ketintang, Jawa Timur. Dengan asumsi seperti itu, bisa-bisa gampang saja orang yang tinggal di Bloomington sejak lahir untuk merujuk ke Banteng Ketaton untuk memberi padanan atas kemarahan yang luar biasa. Jadi, kayaknya bisa kita kritisi Orang2 Bloomington atau karya Pak Budi yg lain dengan pemicu ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s