Sebelum berdikusi, saya pingin kutipkan dulu lagu ini: 

Summer loving had me a blast
Summer loving happened so fast
Summer days drifting away to oh oh the summer nights!
(Summer Nights, John Travolta & Olivia Newton John)

Setelah dipenthelengi lagi, kali ini dengan kacamata Oakley (tiruan) baru, ternyata semua cerpen Amerika Umar Kayam itu berlatar musim panas (selanjutnya disingkat CAUK, yang mencakup cerpen “Seribu Kunang-kunang di Manhattan,” “Istriku, Madame Schlitz, dan sang Raksasa,” “Sybil,” “Sepotong Donat, Secangkir Kopi,” “Chief Sitting Bull,” dan “There Goes Tatum”). Padahal, cerpen-cerpen tersebut bertema suram, yang berlawanan dengan stereotipe musim panas. CAUK adalah kisah-kisah suram di musim panas. Apa yang tidak beres dari komplikasi musim panas dengan kesuraman ini? Berikut ini sejumlah hipotesis yang perlu dikejar nantinya.

Pertama, sebagai penulis yang disoroti oleh penulis pengantar kumpulan cerpen Parta Krama (saya lupa siapa panjenenganipun itu) sebagai penulis yang lihai mengusung “kisah hayat tragis” atau “tragic sense of life,” sepertinya Pak Kayam memiliki kesadaran bahwa kisah tragis bisa terjadi kapan saja, sepanjang tahun, atau bahkan sepanjang zaman. Kalau hidup suram ya suram saja, tidak perlu menunggu musim gugur atau dingin. Hal ini membedakan Pak Kayam dengan penulis-penulis semacam Richard Wright, misalnya, yang dalam novel Native Son menggunakan latar musim dingin akhir tahun 30-an untuk menggambarkan kisah suram Bigger Thomas yang tanpa sengaja membunuh anak majikan dan dikejar-kejar dalam dinginnya angin Lake Michigan dan salju awal musim dingin yang akhirnya membuatnya nekad menghabisi pacarnya, atau Diana Abu Jaber dalam novel Origin yang berkisah tentang Lena Dawson yang merasa dikejar pembunuh bayi misterius di tengah musim dingin Buffalo yang menghajar.

Kedua, ada kemungkinan pak Kayam menggunakan latar musim panas karena beliau menyasar pembaca Indonesia, yang tentu saja lebih bisa mengidentifikasi diri dengan suasana musim panas daripada musim lain. Dari bahasa yang dipakai, bahasa Indonesia dengan cita rasa Jawa di beberapa bagian (tidak seintensif di cerpen-cerpen lebaran panjenenganipun), jelas-jelas Pak Kayam menulis untuk pembaca Indonesia, meskipun beliau memperlakukan publik pembaca Indonesia seperti tahu sama tahu soal-soal Amerika semacam aktor Orson Welles yang fenomenal dengan film Citizen Kane atau Adam Clayton Powell, Jr. yang merupakan salah satu politisi kulit hitam pertama, dll (soal ini mungkin bisa dibahas disoroti di lain kesempatan). Sebelum berkesempatan merasakan sendiri musim gugur, dingin dan semi, saya yang orang Indonesia asli tidak memiliki pembayangan yang cukup berarti soal musim-musim itu. Tahunya saya hanya musim kemarau dan hujan, yang kira-kira mirip dengan akhir musim semi dan awal musim panas—orang-orang yang kebetulan tinggal di Kediri atau Surabaya mungkin tahu rasanya akhir musim panas yang super gerah. Jadi, karena ini yang akrab buat publik Indonesia, maka musim panaslah yang paling memungkinkan buat orang Indonesia mengidentifikasi diri dengan tokoh-tokoh tersebut. Sehingga, kalau yang dipakai adalah musim dingin, maka pembaca akan kurang bisa menghayati (kira-kira begitulah istilahnya :D) kisah-kisah tragis tersebut. Atau bahkan, musim dingin, misalnya, malah mengalihkan perhatian pembaca; bukannya menghayati kisah dan ketragisan yang terjadi, malah membayang-bayangkan asyiknya bermain salju dll. Dengan asumsi ini, saya menduga Pak Kayam memiliki pandangan bahwa penikmatan yang utuh (mengandung imaji, rasa, dan pikir) atas karya sastra itu penting.

Demikianlah akhirnya kita mendapati 1) kisah murung musim panas antara Jane (minum Martini) dan Marno (Scotch) ketika Marno teringat anak istrinya (dan kunang-kunang) di kampung sementara Jane seperti masih depresi karena ditinggal suaminya sampai dia harus terus-terusan nguntal obat tidur, 2) perbincangan pasangan muda Indonesia di New York tentang madame Schlitz yang mengaku bersuamikan orang Austria dan menggemari Yoga dan suka melatih anjingnya belajar nyanyi dan bayangannya tentang “negeri Timur” benar-benar Orientalis, 3) kisah gadis beranjak remaja yang mulai coba-coba minum miras ibunya dan menyedot cerutu pacar ibunya yang suka menginap di rumah dan Sybil ini sempat membahayakan nyawa seorang anak kecil yang harusnya dia jaga, 4) kisah Charlie tua yang suka naik komidi putar, mengeluhkan tentang ketidakbecusan anak menantunya, dan menghabiskan waktunya memberi makan merpati dengan pacar lamanya, padahal di rumah dia diperlakukan dengan baik oleh menantunya (semacam kisah post power syndrome atau post traumatic syndrome), 5) kisah seorang gadis yang terlihat selalu ceria di tempat kerja dan ternyata di rumah menjadi saksi tindakan KDRT dan mungkin karena itu harus terus-menerus mengkonsumsi obat tidur, dan 6) kisah seorang mahasiswa Indonesia yang ditemui seorang preman kulit hitam yang meminta uang dan jam tangan swissnya (yang terakhir ini dialognya mirip novel-novel “hard-boiled” yang banyak berkisah tentang detektif dan pembunuh berantai berdarah dingin dengan dialog yang dingin tapi selalu memancing). 

Nah, betapa ini berbeda dengan stereotipe musim panas Amerika, yang kira-kira seperti ini: Di kampus-kampus kita bisa melihat para mahasiswa mengenakan celana pendek dan t-shirt atau gaun panjang tanpa lengan atau sejenisnya. Wajah-wajah tampak santai—atau bahkan gembira tanpa alasan yang jelas. Sekitar jam 6-an sore—jam segini matahari masih terang benderang di musim panas—pasti tidak akan jarang tercium aroma daging bakar nan menggairahkan. Sementara itu, di alam bebas nan megah kita akan temui orang-orang menyusuri setapak dalam rangka hiking keluarga atau hikin dengan kawan-kawan. Di trail sepeda kita bisa melihat orang-orang bersepeda santai, yang cewek pakai celana pendek dan yang cowok biasanya telanjang dada. Mungkin, buat pak Kayam, “summer time” bukanlah hanya saat memadu kasih seperti yang digambarkan dalam film Grease John Travolta dan Olivia Newton John.

Maka saat John dan Olivia menyanyikan lagu yang saya kutip di awal postingan ini, Pak Kayam bilang “Iya buat sampean, bagaimana dengan orang-orang ini?” Well, wallahu a’lam bissawaab. Semoga ada kesempatan untuk melanjutkan hipotesis ini menjadi skripsi yang bagus, dan memberi saya gelar Sarjana Sastra Indonesia🙂.

P.S. btw, kesuraman pak Kayam ini mungkin termasuk tema-tema yang dilarang oleh Kode Produksi Hollywood yang berlaku mulai tahun 1930-an hingga 1960-an karena menawarkan kesuraman hidup, atau “the obverse of the American dream” (seperti halnya film noir) kata R. Baton Palmer dalam buku Hollywood’s Dark Cinema. Haiyyah! Kok sampai ke sini… (Tapi untung hanya saya sertakan di P.S. :D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s