1) Bukankah bahasa Indonesia itu bahasa buatan? Argumen: memang secara tata bahasa bahasa melayu—dan banyak diksinya dari bahasa melayu—tapi sangat banyak elemen pendukungnya dari bahasa daerah—terutama Jawa—dan bahasa asing—Arab dan Belanda dan mungkin juga Spanyol dan Portugis. Lha kalau begitu, sebagai konterargumen, 2) sejak kapankah mulai ada upaya menyarungtanganantihamai bahasa Indonesia agar kuman-kuman diksi bahasa asing tidak masuk dan mencemari “kemurnian imajiner” bahasa Indonesia, bahkan dari bahasa daerah?! Sejak lama banyak yang bilang bahwa bahasa di Indonesia semakin berkurang, banyak yang sudah sekarat, bahkan bahasa Jawa sendiri yang penuturnya paling banyak sudah banyak mengalami penyusutan. Pertanyaannya 3) apa ini pengaruh dari upaya pengantihamaan bahasa Indonesia, terutama di domain formal dan pemerintahan, yang sampai membuat orang berusaha lebih fasih berbahasa Indonesia yang tanpa sadar berdampak mematikan terhadap bahasa ibunya? Maka, muncullah pertanyaan iseng, kalau sekarang repot-repot menyarankan—tentu saja ini “menyarankan” yang mematikan, karena mengeliminasi salah satu pihak, terutama kalau terjadi di media—menggunakan “tetikus” daripada “mouse,” kenapa sejak awal dulu tidak memutuskan saja mengganti kata “kantor” (yang asalnya dari “kantoor” dalam bahasa Belanda) menjadi “graha karya” atau apa gitu? Maka 4) temukan jawabannya dalam riset yang kita lakukan bersama!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s