Sastro: Wahai Al-Misdi, katakan kepada kami tentang kebijaksanaan.
Misdi: Dengarlah wahai Sastro Prayogo, tidak ada kebijaksanaan. Tidak di jaman ini, tak pula di jaman dulu.
Sastro: Cerahkanlah kami, wahai Al-Misdi.
Misdi: Tidak wahai Sastro Prayogo, wahai duta umat manusia di jamannya, yang selalu ada adalah kebijaksanasinian. Apakah itu kebijaksanasinian? Tanyakan kepadaku, kalau kamu siap menerima kebenaran pamungkas ini. Sungguh menyakitkan, tapi sungguh menyehatkan.
Sastro: Ya, Al-Misdi. Aku siap menerima sakitnya–Eh, Oom, tapi tolong diingat, aku bukan masokis lho ya…
Misdi: Ssst! Balik ke penokohanmu, Bos!
Sastro: Ya, wahai Al-Misdi, ceritakanlah kepadaku hikmah kebijksanasinian.
Misdi: Alkisah, kebijaksanasinian adalah burung yang terbang abadi. Sebut saja dia K demi singkatnya. Maka, kuulangi lagi: Alkisah, K adalah burung yang abadi terbang. Tak sekalipun dia menjejak tanah. Yang dia ketahui adalah hinggap sejenak di reranting waktu. Ketika hinggap sejenak itulah biasanya dia melihat membekunya pemahaman, mengentalnya kesadaran. Bekukentalnya pemahaman dan kesadaran itu bukanlah api yang menyala sendiri. Dia adalah api yang memberikan nyala sembari menggerogoti serat-serat kayu. Seketika kesadaran membeku, ada yang mengering di situ, yakni masa lampau. Seketika itulah K maujud nyata dan menampakkan dirinya kepada bocah-bocah yang berlalu lalang di bawah ranting tempat K hinggap. Di saat itulah K menyala dengan warnanya di antara rerumbun dedaunan. Terdengar pula nyanyinya. Tapi tak satupun kamera mampu menangkap ujudnya, tak sekalipun.
Sastro: Lalu bagaimana bocah-bocah itu bisa mengabadikan K buat mereka, wahai Al-Misdi.
Misdi: Siapakah yang yakin K bisa diabadikan? K tidak bisa diabadikan, karena bocah itu adalah bocah yang selalu tumbuh dan melihat banyak hal di dunia. Untuk bisa mengabadikan K, bocah-bocah itu bisa memandang dengan mata dan hati mereka. Terarah. Dengan begitu, K abadi bersama mereka. Abadi pada saat itu. Saat mata dan hati memandang ke satu titik, maka waktu sudah tidak ada artinya. Si bocah dan K menjadi abadi. Selama apapun keabadian itu, tetap saja harus menjalankan tugasnya sebagai K yang selalu abadi terbang di antara awan gemawan. Maka tibalah saatnya pendar K menjadi Lindap dan waktu kembali melingkungi berpilin jemalin bak menjalin bersama hasrat terbang. Dan K kembali terbang.
Sastro: Bagaimana dengan bocah itu, wahai Al-Misdi?
Misdi: Dia hanya bisa kembali berjalan hingga akhirnya kelak K hinggap lagi menunggu membekunya pemahaman dan mengentalnya kesadaran.
Sastro: Apakah demikian halnya keadaannya?
Misdi: Ya…
Sastro: Peh! Kamu tulis gak itu tadi, Bos?
Misdi: Ya nggak lah.
Sastro: Peh! kamu bisa jadi semacam Gibran lho kalau mau nulis…
Misdi: Gibran Saribran a?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s