Lyndsy: How’s it going?
Misdi: Not bad. Are you done with the finals?
Lyndsy: Yeah. In fact, I wouldn’t be here if I were still working on finals and papers. Ngomong bahasa Indonesia saja, ya? Aku kan aremanita.
Misdi: Hahaha… who taught th– Maksudku siapa yang mengajari… eh, siapa yg ngajari kamu ?
Lyndsy: Bahasa Indonesia? Aku kan–
Misdi: No, no, siapa yang ngajari kamu, yg ngasih tahu soal Aremanita?
Lyndsy: Sastro yang ngajari, dulu waktu masih di Malang.
Misdi: Dia dulu gurumu ya?
Lyndsy: Family teacher, sebenarnya. Jadi Mom dan Dad, mereka pokoknya tiba-tiba sadar, setelah sepuluh tahun di Indonesia–he was an English teacher, you know–dia sadar, sayang sekali kalau kami nggak bisa bahasa Indonesia. Lalu Dad, dia bayar semacam tutor (Lyndsy tentu saja mengucapkan kata ini dengan pronunciation bahasa Inggris) untuk mengajar kami sekeluarga.
Misdi: That’s when Sastro came into the scene.
Lyndsy: Well, he was the third tutor, I guess, buat Dad and Mom. Tapi buat aku, dia tutor pertamaku. Well, aku dulu sudah agak bisa bahasa Indonesia. Kamu tahu, kids learn faster. Tapi mungkin Indonesiaku tidak selancar kamu.
Misdi: Hahaha… You’re funny, Lyndsy.
Lyndsy: Ya, Sastro ngajar aku untuk membetulkan, so to speak, bahasa Indonesiaku. Dad pingin aku bisa bahasa Indonesia betulan, biar nggak kayak Cinta Laura.
Misdi: Hahaha… That’s funny again. Kamu ini bener-bener Aremanita, Lyndsy.
Lyndsy: I am! Ibunya teman-temanku dulu suka panggil aku “Lin” instead of Lyndsy.
Misdi: Ya, kalau di Indonesia memang yang bikin nama panggilan itu orang lain, kalau di sini kan kita yang minta dipanggil ini atau itu. Di sini, kita kenalan sama orang bilang ‘Name’s Nancy Elmira Richards, but I go by ‘Mira”. Tapi di Malang, people don’t care how you want to be called. Pokoknya paling gampang buat orang ya itulah nickname-mu.
Lyndsy: Exactly!!! Itu yang aku suka dari Indonesia. Everybody’s just… you know
Misdi: Hehehe… I know… they’re just… Indonesian!
Lyndsy: Yeah…
Misdi: Yeah…
Lyndsy: So…?
Misdi: So…?
Lyndsy: Katanya kamu pingin tahu tentang dia, I mean K. Kenapa?
Misdi: Ah, iya, kata Sastro kamu ada hubungan darah sama dia. Kenal dia.
Lyndsy: Kenal as in sama-sama tahu. Tapi kenal orangnya sendiri, saling tahu, suka ngobrol, nggak.
Misdi: Nggak pa-pa, setahumu saja. Aku baca cukup banyak soal dia, yang pasti ditulis orang lain. Aku pingin tahu dari sudut pandang keluarga dekat.
Lyndsy: Sebenarnya sih kami sering ketemu, tapi aku ya gak ingat sama sekali pernah ngomong apa. Terakhir ketemu dia waktu itu aku masih kecil banget. Waktu pre- K mungkin.
Misdi: Oh ya? Kamu lahir tahun berapa?
Lyndsy: Haha. Itu cara yang pintar untuk tanya umur. But don’t ever try that with a lady! Don’t ever again!
Misdi: No, no. I … I didn’t mean it like… you know…
Lyndsy: Hahaha… I got you! Don’t worry. Aku lahir 89.
Misdi: Hehehe… You almost got me there….
Lyndsy: I did. I got you…
Misdi: Ehm… hehehe… (Di luar kontrol, tiba-tiba saja Misdi merasa kikuk. Sebenarnya dia sudah lupa kapan terakhir kali kikuk).
(Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s