Sekarang, mari kita naik lagi ke level kedua penelaahan close reading/watching atas Pulp Fiction tetapi masih di horizon pertama penelahaan dalam kerangka Jamesonian dalam upaya kita menginvestigasi ketidaksadaran politis dalam film tersebut. Baiklah, level kedua ini lebih ke permukaan lagi dibandingkan dengan level renik yang barusan kita bahas dalam postingan sebelumnya (sementara, kita sebut saja telaah ini sebagai ‘postingan’ meskipun kelak pasti akan dikembangkan jadi makalah sok ilmiah, presentasi powerpoint dan notes konferensi yang seksi :D). Sorry atas selaan barusan. Ya, back to business again. Di level ini kita akan membahas level cerita dalam Pulp Fiction (sekadar mengingatkan, di sini saya sementara menggunakan istilah “cerita” secara longgar, meskipun kelak di pembahasan-pembahasan selanjutnya saya akan membuat pembedaan ketat antara “cerita” dengan “alur”, antara “story” dan “plot”, atau antara “fabula” dan “sjuzet”). 

Dalam hal cerita, ada satu hal menonjol yang insya allah pasti membuat penontonnya bertanya-tanya: cerita yang urutannya tidak linear wal-kronologis. Kita para penikmat film ini melihat film ini diawali dengan perbincangan sarapan di sebuah restoran antara Pumpkin (Tim Roth) dan Honey Bunny (Amanda Plummer) yang berujung pada dimulainya perampokan restoran tersebut. Setelah dimulainya perampokan itu, kita dibawa memasuki kisah Jules dan Vincent yang mengambil koper (yang saya bahas sebagiannya di cicilan postingan sebelum ini), yang sebenarnya terjadi sebelum perampokan restoran. Dan di tengah-tengah kisah yang belum selesai itu. Selanjutnya, ketika kita sudah lihat Jules dan Vincent mengambil koper tapi belum juga sampai rumah, kita dibawa memasuki kisah Jules yang harus menemani istri Marcellus pada suatu akhir pekan (yang kalau diurut kronologisnya terjadi lebih akhir dibanding kejadian perampokan restoran). Selanjutnya kisah dilanjutkan dengan kembali ke bagian Vincent dan Jules pulang dari mengambil koper dan mendapat masalah karena “kecelakaan ganjil” yang menyebabkan mobil mereka penuh darah, yang terjadi pas sebelum mereka sarapan di restoran yang kemudian dirampok Pumpkin dan Honey Bunny. Selanjutnya ada kisah Butch (Bruce Willis) yang melarikan diri dari kejaran Marcellus dan anak buahnya tapi ujung-ujungnya bertemu lagi, yang mana terjadi paling belakangan, setelah Vincent menemani istri Marcellus malam mingguan. Baru setelah semua hal ini selesai, kita akan melihat bagaimana kelanjutan kisah perampokan yang disela oleh si koper merah dan ceramah Jules dan akhirnya gagallah upaya perampokan itu dan berakhirlah film. 

Kalau dilihat sekilas seperti itu, kita bisa juga melihat Pulp Fiction sebagai film tentang selaan atau disruption; kisah perampokan restoran oleh Pumpkin dan Honey Bunny yang disela oleh kisah-kisah tentang Jules, Vincent, Marcellus, dan Butch. Terus apa signifikansi dari selaan-selaan ini? Pertama, selaan terhadap narasi perampokan ini memungkinkan digagalkannya perampokan dengan cara yang baik, atau berakhir dengan “suka sama suka”😀. Kalau misalnya tidak terjadi “mukjizat” dalam proses pembantaian anak-anak muda oleh Jules dan Vincent, nyaris bisa dipastikan bahwa perampokan restoran itu akan berujung dengan matinya Pumpkin yang ketika membuka koper bawaan Jules langsung terpesona dan hilang konsentrasi hingga belasan detik, yang mana sangat memungkinkan buat Jules untuk membeldoskan pistol yang sudah dia genggam di bawah meja. Tapi, karena mukjizat yang terjadi pada Jules pada pagi harinya, yang membuatnya memutuskan untuk bertobat dari hidup sebagai tukang jagal manusia, dia akhirnya tidak membunuh Pumpkin dan malah membiarkannya pergi dengan memberikan semua uangnya dan semua uang yang telah dia ambil dari seluruh pengunjung restoran plus uang dari cash register. 

Di sinilah kita bisa melihat bagaimana interupsi dalam cerita itu juga bisa dipandang sebagai sesuatu yang membawa kepada kebaikan. Selaan pada level ini berbeda dengan selaan pada level renik, yang fungsinya lebih pada memberikan kita pemahaman kepada karakter kita dan membuat kita mengetahui bagian-bagian renik yang tidak dikover oleh kisah-kisah lain yang cenderung to the point, atau lebih mengikuti etika Hollywood yang ingin membuat kisah yang terfokus pada satu hal dan segera menyelesaikan urusan dan membuat orang terus-terusan tertarik kepada film (yang akarnya bisa dirunut hingga ke zaman booming-nya produksi film Hollywood antara tahun 1930-1950-an, di mana rumah-rumah produksi menuntut para sutradara membuat film yang terus bisa menarik perhatian pemirsanya agar tetap tertarik ketika rol yang pertama habis; untuk ini silakan baca lebih lanjut pembahasan tentang terobosan film noir terhadap tradisi pragmatis Hollywood dalam buku Hollywood’s Dark Cinema karya R. Barton Palmer). Maaf atas selaan barusan, dalam level ini, selaan bertujuan untuk menunjukkan alasan yang memungkinkan terjadi pembelokan kejadian yang sebenarnya bisa berakhir dengan buruk. 

Sebenarnya hal ini juga bisa dicontohkan dengan selaan Butch terhadap proses perkosodomi yang dilakukan oleh Zed kepada Marcellus di ruang bawah tanah Pawn Shop. Sebenarnya cerita bisa saja berjalan dengan lancar dan lebih memudahkan buat Butch ketika dia berkesempatan meloloskan diri sementara Zed memperkosa Marcellus. Tapi, kata hatinya—menurut Michael esainya yang dibungarampaikan dalam buku Movies and the Meaning of Life hal ini didorong oleh sportivitasnya sebagai petinju, yang membuatnya tidak mau mengalah hanya karena dibayar, dan juga membuatnya tidak mungkin lenggang kangkung dengan santai sementara seorang lain diperkosa di depan matanya—membuatnya kembali dan membebaskan Marcellus dari perkosaan. Contoh ini menunjukkan bagaimana selaan dalam Pulp Fiction bisa juga berfungsi sebagai sesuatu yang mengubah arah bergulirnya kejadian yang berpotensi mengarah kepada keburukan. Selaan seperti ini berlaku pada proses-proses yang berpotensi membahayakan pihak-pihak yang (relatif) tak bersalah. Buat pihak-pihak yang bersalah, selaan ini tidak bisa menyelamatkan (lihatlah contoh bagaimana Vincent, yang sudah membunuh orang dan tetep tidak mau bertobat setelah melihat mukjizat, akhirnya terbunuh oleh Butch dan Zed serta kawannya pemilik Pawn Shop yang juga terbunuh oleh Butch). 

Nah, setelah melihat bagaimana jenis kedua selaan-selaan ini, maka dengan ini saya memberanikan diri untuk bergumen bahwa penataan film Pulp Fiction yang tidak linear ini cukup efektif. Kisah ini tidak akan memiliki bentuknya yang kompleks tapi cantik seperti ini kalau dia disusun secara linear. Bahkan, Pulp Fiction yang linear hanya akan menjadi kisah yang tumpuk menumpuk tanpa awal dan akhir yang menyatu. Penyusunan kisah yang tidak linear tapi diawali dan diakhiri oleh sebuah kisah yang tersela adalah cara membungkus kisah-kisah yang beragam rupa dengan kemasan yang bagus dan, nyaris, tanpa sobekan. 

Maka, dengan ini saya akhiri pembahasan atas Pulp Fiction dari horizon pertama ini dengan simpulan bahwa “selaan” adalah kecenderungan yang muncul secara merata di sekujur film dan memiliki berbagai relevansi, yaitu antara lain, tapi tidak terbatas pada, 1) memberikan pemahaman tambahan dan 2) mengubah alur kisah yang sedang berjalan.

Selanjutnya, mari kita melompat ke horizon selanjutnya, yang insya allah akan saya lanjutkan besok…. insya allah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s