Sastro: Terus, kamu jadi ambil iPhone itu gak?
Misdi: Nggak, Oom. Setelah tak pikir-pikir, itu iPhone 3Gs, teknologi sekitar 3 tahun lalu.
Sastro: Sebenarnya tempo hari aku mau bilang itu, tapi nggak jadi, Bos. Takutnya kamu keburu pingin, dan siapa pula aku ini nglarang-nglarang kamu beli smartphone.
Misdi: Nggak masalah–
Sastro: Tapi, Bos, ada yang menarik dari urusan smartphone ini sebenarmya, Bos. Maksudku, ada yang tidak beres dengan kegemaran kita dengan gadget yang terus-menerus harus baru, terutama Apple, yang kayaknya tiap tahun harus merilis produk uptodate, terutama sekarang yang di jajaran iPhone. Ada yang komentar di blog siapa gitu, Apple ini sukanya bikin kita terus-terusan merasa tertinggal dan harus mengupgrade diri. Dia mencicil satu demi satu teknologi gaulnya, bikin orang terus-terusan mengikuti.
Misdi: Tapi memang kerasa lho, Oom, itu–
Sastro: Padahal, Bos, kita gak sadar bahwa sebenarnya dengan teknologi yang sudah ada di tangan kita saja sebenarnya kita ini sudah “kuasa” tak pakai huruf besar ya, KUASA, melakukan banyak hal dengan gadget yang sudah kita miliki saat ini.
Misdi: Iya, kayak organizer, jam, kalkulator, software adzan, eBook reader.
Sastro: Yang sebenarnya bisa dilakukan di hp-hp yang nggak begitu smart sekalipun. Nokia mu yang pakai Symbian, misalnya, sebenarnya banyak kemudahan hidup yang bisa didapatkan dari memaksimalkan teknologi yang ada pada hp macam itu. Bahkan yang suka ngaji bisa nginstall software Qur’an atau semacamnya–
Misdi: Tapi aku memang sudah memaksimalkan itu, Bos. Tapi… teruskan dulu, Oom.
Sastro: Ya, memang para teknokrat ini–btw, istilahnya ini bener gak?–super canggih, Bos. Mereka bikin hal-hal baru, yang awalnya tidak terlalu penting, tapi dia promosikan sedemikian rupa sampai-sampai menjadi kebutuhan buat sebagian orang, dan bahkan membuat orang lain merasa ketinggalan kalau nggak punya.
Misdi: Kayak BBM misalnya.
Sastro: Nah, betul. Kamu sendiri ingat kan waktu teman-teman nanya kenapa kamu gak beli Blackberry biar bisa BBM-an. Padahal, buat apa cobak BBM-an? Bukannya itu malah nambah kegiatan saja.
Misdi: Betul!
Sastro: Cobak kalau Nirwan Dewanto tahu, pasti dia bilang BBM-an ini hanya mengukuhkan budaya lisan kita.
Misdi: Hahaha… memangnya Nirwan Dewanto apa masih suka mengeluhkan kelisanan kita?
Sastro: Nggak tahu juga, sih, yang jelas dia dulu punya facebook.
Misdi: Hahaha…
Sastro: Oh ya, yang pingin aku ceritakan tadi itu sebenarnya ini, Bos: Beberapa waktu lalu aku lihat di youtube ada orang Inggris dalam program “idiotabroad”. Dia ini jalan-jalan ke berbagai negara dan melihat perbedaan.
Misdi: Hahaha… aku nemu hubungannya dengan Pulp Fiction sekarang. Jadi apa dia ini terus membanding-bandingkan antara nama Quarter Pounder with Cheese di Amerika dengan di Perancis dan perbedaan legalitas ganja di Amerika dan Perancis?
Sastro: Nggak, Bos. Agak lain lagi ini. Gini maksudku, singkat kata si Inggris ini jalan-jalan ke Mesir dan masuk ke KFC. Di situ orang-orangnya diam semua dan pelayannya cuman menunjuk-nunjuk buku menu waktu dia pesan. Ternyata, baru ketahuan bahwa itu adalah KFC tuna rungu.
Misdi: Wah, ada ya?
Sastro: Sebentar, Bos, yang lebih menarik adalah, dia melihat manajer KFC di situ pakai semacam smartphone dengan dual-camera yang bisa dipakai video chat gitu. Nah, karena dia juga tuli, maksudku tuna rungu, maka di depan smartphonenya itu dia chatting dengan bahasa isyarat. Dan si Inggris ini terperangah. Dia jadi melihat lagi ke dirinya sendiri. Apa yang sudah dia lakukan dengan hp-nya. Dia juga punya smartphone, dan dia menunjukkan kepada kamera apa isi smartphone-nya. Di situ, dia tunjukkan foto MMS yang dikirimkan temannya dari Inggris–diasumsikan temannya ini juga pakai smartphone. Isinya adalah: temannya itu melotot dengan mata dijulingkan dan mulut dipolah sedemikian rupa kayak orang olok-olok. Dia lalu bilang, lihatlah apa yang kita lakukan dengan smartphone kita, dan lihatlah apa yang dia, maksudnya manager KFC tuna rungu itu, lakukan dengan smartphone-nya? Dia bilang, mereka ini lebih tahu guna smartphonenya daripada dia sendiri, yang kita asumsikan saja mewakili peradaban barat.
Misdi: Wow!
Sastro: Wow, Bos!
Misdi: Iya ya….
Sastro: Makanya, Bos…
Misdi: Makanya, apa?
Sastro: Makanya, kadang-kadang, kalau kita menuruti kemauan si iPhone, Android, Galaxy Tab, Samsung Infuse, 3G, 4G, 4s, dll, kadang-kadang itu tanpa sadar kita hanya menuruti hasrat pingin punya barang yang ganas, padahal kita sendiri tidak tahu mau digunakan buat apa barang yang ganas itu?
Misdi: Hmmm…
Sastro: Mestinya kan kita maksimalkan dulu yang kita punya ini, terus setelah yang ini tidak cukup, baru kita melangkah ke level selanjutnya.
Misdi: Hmm… bisa juga sih.
Sastro: Untung kamu gak jadi beli iPhone 3Gs itu.
Misdi: Iya sih, tapi akhirnya aku beli Samsung Infuse 4G, Bos (Sastro terlihat canggung).
Sastro: Eee…
Misdi: … Yang ini teknologinya lebih uptodate dari iPhone 3Gs, dan bahkan kalau disandingkan dengan iPhone 4, unda-undi lah, malah banyak yang lebih seneng Infuse ini, hehehe…
Sastro: Eee… hmmm… berarti ya… from great power comes great responsibility.
Misdi: Hehehehe….
Sastro: Mungkin ini artinya sampean harus lebih rajin blogging dan nulis cerpen dan macem-macem..
Misdi: Bisa jadi, hehehe…
Sastro: Lagian… tiap orang punya sunnahnya sendiri-sendiri, sih. Ya, kan? (Sastro garuk-garuk rambut.)
Misdi: Iya juga sih… (Seminar telaah budaya massa pun berhenti sampai di situ.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s