Makhluk politis. Itulah manusia. Seperti halnya raja Midas yang menjadikan emas segala yang disentuhnya, si makhluk politis berjudul manusia ini juga meninggalkan politik dalam segala hal yang disentuhnya. Tak terkecuali karya sastra. Bahkan pada karya sastra yang tidak diniatkan politis. Begitulah kira-kira menurut Fredric Jameson. Sikap politis itu merupakan sesuatu yang inheren dalam hasil olah daya manusia. Ada kalanya sikap politisnya pro-status quo dan ada kalanya pula yang anti-status quo. Namun, mengetahui sikap politik tersebut, apalagi yang tidak sadar, bukanlah sesuatu yang gampang. Dia menyodorkan, tapi tidak membatasi pada, tiga jalan untuk meraba ketidaksadaran politis itu, yaitu 1) penelaahan terhadap isi karya yang bersangkutan, 2) mengamati karya yang bersangkutan dalam lingkup yang lebih luas, yaitu karya-karya kultural lainnya, 3) menyoroti karya yang bersangkutan dalam kaitannya dengan nafas sejarah. 

Nah, mendengar penuturan Jameson yang seperti itu, saya langsung terpikir tentang film yang sepertinya akan jadi sangat gamblang saat diamati dengan memakai kacamata tebalnya Jameson tersebut. Yaitu, film Pulp Fiction (hehehe… padahal sih sebenarnya saya mencoba-coba memahami film ini, tapi belum mendapatkan pemahaman yang memuaskan dan berkat sebuah kebetulan yang bersejarah, akhirnya saya bertemu dengan Jameson dan mengajari saya tentang hal-hal di atas yang pada akhirnya menurut saya membantu saya memahami film tersebut). Dilihat sekilas, memang film Pulp Fiction ini tidak ada politis-politisnya, dalam artian politik praktis tentunya. Bahkan, kalau kita ngomong soal “political correctness” pun, film ini bisa dibilang “politically incorrect” dengan penggunaan kata-kata kasar, adegan pemerkosaan sodomi, penggunaan bahasa-bahasa yang berasosiasi rasis, dll. Tapi, ada pola yang tak biiasa yang terus-terusan muncul dalam film ini, yang menjadikannya terlalu mudah untuk diabaikan. Dari situlah saya tertarik untuk mengamati ketidaksadaran politis macam apa yang dimiliki film ini. Itung-itung, saya pingin juga menguji diktumnya Jameson bahwa semua karya pada intinya bermuatan politis. 

Mengikuti anjuran eyang guru Jameson, saya pun melancarkan pelacakan ketidaksadaran politis itu melalui tiga rute yang berlainan, yang semoga saja (insya allah) bisa menuju sasaran yang kita kehendaki bersama, atau pun kalau tidak, setidaknya kita bisa menemukan sesuatu yang membantu memahami pemahaman kta atas film tersebut. 

Wilayah pertama yang menjadi area pelacakan saya adalah bentuk dan isi karya sastra itu sendiri. Di sini, penelaahan yang berlaku benar-benar murni menggarap yang terhormat Pulp Fiction sahaja. Nah, di antara berbagai hal dalam Pulp Fiction yang menurut saya layak ditelaah, ada satu hal yang sepertinya memiliki tempat vital dalam film ini, yakni selaan atau, ehem-ehem, “disruption”. 

(Tapi, karena saya ngantuk banget, ya sudah lah besok saya lanjutkan kalau bangun pagi-pagi ya…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s