Jadi, selaan muncul secara merata di sekujur tubuh Pulp Fiction. Kalau boleh menyebutnya dengan peristilahan yang lebih sok tahu, terdapat ketegangan yang konstan antara pencapaian sebuah tujuan dengan hal-hal yang menyela proses tersebut. Ada kekuatan yang membuat pencapaian tujuan berjalan tidak dengan tergesa-gesa, tapi perlahan-lahan, di mana para pencapai tujuan dipaksa “menikmati” hal-hal yang tidak memiliki relevansi yang signifikan dengan tujuan yang hendak dicapai. Baru setelah adanya selaan itu, mereka kembali ke urusan asli mereka dan terkadang berhasil dan terkadang tidak, dan biasanya tingkat keberhasilannya tergantung niat dari para pelaku ini. Biar tidak berbusa-busa, mari kita silikiditi, maksud saya selidiki😀, dari level yang paling renik hingga yang paling menonjol. Saya akan pilih satu dua contoh untuk menjelaskan maksud saya tersebut.

Pada level yang paling renik, mari kita pelototi dua tukang hajar Jules Winnfield (Samuel L. Jackson) dan Vincent Vega (John Travolta) yang sedang menjalankan order dari bos mereka Marcellus Wallace (Ving Rhames). Kedua tukang hajar tersebut diberi tugas mengambil koper berharga milik Marcellus dari beberapa anak muda yang mencurinya dari Marcellus dan, tentu saja, menghajar anak-anak muda itu. Dalam perjalanan mereka ke tempat anak-anak muda itu, mereka memperbincangkan tentang banyak hal, mulai dari perbedaan bahasa dan budaya antara Aa’ Syam dan Belanda (karena si Vincent Vega baru saja pulang dari tugas luar tiga tahun di Belanda), tentang Tony Rockamora yang dihajar Marcellus gara-gara, konon, mijat kaki istri Marcellus. Balik ke Jules dan Vincent lagi, ketika sudah sampai di pintu apartemen para pencuri koper itu, Jules berhenti dulu dan mengajar Vincent minggir sebentar, melanjutkan perbincangan mereka hingga sampai kesimpulan dan baru setelahnya kembali lagi ke pintu apartemen, masuk, dan menyelesaikan urusan memberi pelajaran anak-anak muda itu. Itu satu. Selanjutnya saya kasih contoh lagi selaan dalam level yang sama tapi dengan jenis yang berbeda. 

Di dalam apartemen para pencuri koper itu, Jules bertindak sebagai juru bicara dan juru mulai urusan penghajaran. Sebelum memulai pembantaian, Jules minta Bret menjelaskan, dan dialog versi gampangnya saya berikan berikut: 

“Sebenarnya maksud kami awalnya baik—”

DORR! Jules nembak teman Bret sampai mati. Bret gemetaran dan gak bisa ngomong lagi. Dia cuman mangap-mangap.

“Oh sori, Bret, aku ngganggu konsentrasimu ya?” kata Jules. “Teruskan, Bret!”

“——” Bret cuman mangap-mangap.

“Oh, ya sudah, sudah selesai ya? Oke deh, sekarang ganti aku yang ngomong,” kata Jules. “Gimana tampang Marcellus, Bret? Gambarkan!”

“Apa?” masih gelagapan.

“Asalmu mana, Bret?”

“Apa?” masih gelagapan.

“Orang dari ‘Apa’ ngomongnya pakai bahasa Indonesia gak?”

“Apa?”

“Ngomong pakai bahasa Indonesia, tolol!” kata Jules. “Ngomong ‘Apa’ sekali lagi tak tembak kamu. Sumpah. Sumpah tak tembak!”

“Iya, iya, iya, tahu, tahu, tahu,” Bret masih gelagapan.

“Gimana tampang Marcellus itu Bret?”

“Kulitnya gelap.”

“Apa dia kayak lonte?”

“Apa?”

DORR! Jules menembak Bret. Bret kesakitan dan mulet-mulet dan nangis-nangis. 

“Apa dia kayak lonte?”

“Tidaaaaaak, tidaaaak,” teriak Bret sambil nangis-nangis. 

“Lha terus kalau nggak kayak ‘lonte’ ngapain juga kamu GARAP dia?”

Setelah itu berlanjutlah urusan pembantaian. 

Dari dua contoh di atas, kita bisa melihat bagaimana bahkan dalam proses melakukan sesuatu yang serius, sesuatu yang merupakan bagian dari pekerjaan, Jules dan Vincent bisa menyelanya dengan sesuatu yang sifatnya tidak begitu relevan. Padahal kalau dipikir-pikir mereka itu adalah orang-orang yang profesional. Apa implikasi dari selaan-selaan itu, terutama di bagian ini? Selaan itu membuat kita tidak segera sampai langsung ke tujuan. Jadi, pembunuhan bukanlah satu-satunya hal yang penting dalam order membunuh orang. Pembuat film lain mungkin akan mengajak serta penikmat untuk segera menyaksikan terjadilah pembunuhan. Tapi Tarantino menunjukkan bahwa untuk membunuh dua orang penjahat itu harus nyetir mobil dulu ke TKP, dan dalam perjalanan mobil yang panjang itu, tentu saja mereka tidak hanya ngomong soal cara menggarap orang-orang yang mau dia bunuh ini. Lima belas menit itu waktu yang panjang, dan untuk mengisinya banyak yang bisa diperbincangkan. Tarantino ingin menyertakan juga urusan lima belas menit ini dengan menyertakan perbincangan antara mereka berdua (dan perbincangan itu juga cukup efektif, karena dari situ kita jadi tahu siapa para tokoh kita ini dan setelah tahu mereka, mau tak mau kita jadi kenal dan bersimpati dengan mereka—kata orang nusantara ‘tak kenal maka tak sayang’ dan Tarantino benar-benar membuktikannya dengan memperkenalkan kita dengan mereka ini dan membuat kita bersimpati dengan mereka). 

Dengan membuat kita tidak buru-buru masuk ke dalam cerita dan terlarut di sana, Tarantino membuat kita jadi lebih kenal dengan para tokoh ini. Atau, kalau kita ambil dari omongan Tarantino tentang film yang pertama kali dia sutradarai, yaitu Reservoir Dogs, yang dikutip Paul Gormley dalam bukunya “New Brutality Film”, dalam film-filmnya dia ingin memberikan “detak jantung manusia.” Dia tidak hanya mengetengahkan penyelesaian sebuah job, tapi juga menunjukkan orang-orang yang mengerjakan job tersebut. Dengan menunjukkan orang-orang tersebut, dia melengkapi filmnya dengan “detak jantung manusia.” Seorang kritikus film menyebut film, nanti saya lihat lagi referensi saya😀, sebagai film yang menggarap sisi lain dari kisah kriminal. Benar, Tarantino menggarap sisi manusiawi dari sebuah tindak kejahatan (yang memiliki etika tersendiri, jadi kita tidak bisa menggebyah uyah film ini dengan menggunakan etika standar. 

(Oke, sementara saya akan bernafas dulu, dan begitu selesai saya akan lanjutkan dengan pembahasan close reading/watching atas selaan dalam Pulp Fiction, mungkin setelah ngopi nanti… Pembahasan close reading/watching ini baru horizon pertama pembahasa dialektis kita yang tercinta lho ya?).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s