Misdi: (Berjalan meninggalkan gedung kuliah bersama Sastro) Kadang-kadang bosen juga ya dengar orang ngomong sampai 2 jam lebih.
Sastro: Sama, Oom. Untungnya–
Misdi: Apa lagi untungnya? Kan sudah jelas-jelas bosen?
Sastro: Untungnya omongannya itu belum pernah kita ketahui sebelumnya.
Misdi: Iya lah. Tapi tetep saja bosennya.
Sastro: Menurutku ya, Oom, inilah saatnya kita mengubah perspektif. Soalnya omongan si Prof Ganas ini isinya tidak hanya satu lapis, multifacet bener, kayak sirkus!
Misdi: Halah, sudah bener-bener multifacet, kedengarannya intelektual, kok ditambahi “kayak sirkus” segala. Jadinya imut deh…
Sastro: Hahaha… Masak gak pernah dengar? (Terus pandangannya teralih dari yang berjalan di sebelah kirinya. Kini Sastro menoleh ke sebelah kanan, ada seseorang bersepeda balap melambat, seperti menunggu Sastro menoleh). Hey, whats up, man?
Orang Bersepeda: Not much, Mr. Sastro. How about yourself?
Sastro: Doing alright!
Orang Bersepeda: Did you get my email this morning?
Sastro: I didn’t get the chance to check it, man. Is it anything urgent?
Orang Bersepeda: Nah, it’s just the paper topic, it’s due tomorrow actually.
Sastro: Alright, I’ll look into it and get back to you soon.
Orang Bersepeda: Sounds good. Well, I guess I’ll see you … Thursday Mr. Sastro.
Sastro: OK then. take it easy, man. (Setelah mendengar jawaban Sastro ini si Orang Bersepeda langsung menggenjot sepeda balapnya menjauh)
Misdi: Mister Sastro, gitu loch. Ngeriiiii.
Sastro: Hahaha… Sesekali, Bos, masak kita terus yang manggil londo “Mister”. Gantian lah kita minta dipanggil Mister.
Misdi: Ampus boooon. Btw, mahasiswamu?
Sastro: Lebih tepatnya mahasiswa di kelas yang aku asisteni, Oom.
Misdi: Oh, gitu. Eh, terus gimana tadi?
Sastro: Apa tadi? … Oh iya, kayak sirkus. Istilahnya sirkus tiga ring, tujuannya untuk menjangkau semua penonton. Ada singa melompati api, ada gajah, ada badut. Kalau gak suka singa bisa lihat gajah, kalau gak suka gajah bisa lihat badut–
Misdi: Kalau gak suka semuanya?
Sastro: Lha terus buat apa ke sirkus?
Misdi: Lha wong diajak bapak, kok.
Sastro: Lha terus kalau gak mau kok ya tetap ikut?
Misdi: Lha wong diiming-imingi lollipop–
Sastro: Heh, kita ini ngomong apa sih?
Misdi: Hahaha–
Sastro: Lollipop-nya rasa apa?
Misdi: Halah!
Sastro: Hahaha…
Misdi: Eh, bos, kamu kemarin bilang ada kritik soal percakapan Vincent-Yulianto? Aku gak bisa tidur tadi malam waktu kamu bilang ada kritik soal percakapan itu!
Sastro: Wah, peningkatan ini, Oom, sampean jadi menunggu kritikan.
Misdi: Hahaha…
Sastro: Sampean jadi menyerupai manusia, hahaha…
Misdi: Bajindul!
Sastro: Sorry, Bos! Hmmm… sebentar, tak loading dulu, Oom. Soalnya kalau gak dipikirkan dengan baik bisa-bisa mbulet omonganku ini nanti.
Misdi: Oke, bos. Tak tunggu.
Sastro: …
Misdi: Eh, bos. Gimana kalau ngobrolnya di Starbucks sini. Kan lumayan mumpung sepi. (Mereka mendekati Starbucks. Langit mulai gelap, di musim dingin, maghrib sudah datang bahkan sebelum kita mandi sore. Apalagi, sore itu kabut sangat tebal, super tebal, mengingatkan pada film The Others.)
Sastro: (Menghentikan langkahnya) Ada apa?
Misdi: Ya ada kopi lah! Eh, ada Sumatran Coffee lho di situ. Lumayan lah kita mendukung perkebunan di nusantara dari seberang Pasifik sini.
Sastro: Alah, gak ngefek, Oom. (Dia mulai lagi berjalan mendekati perempatan Dickson Street dan Mc Ilroy Avenue.) Sampean tahu nggak sebanyak apa profit yang diperoleh para pekebunnya sendiri dari sang KOPITALIS–kalau memang mereka beli dari para pekebun kopi di Sumatra sana.
Misdi: Kesimpulannya?
Sastro: Jadi kalau niatnya buat menyumbang, tanda kutip, ke nusantara, Starbucks bukan tempat yang tepat, Oom.
Misdi: Terus?
Sastro: Eh, omong-omong soal perkebunan, ada lagi yang lebih menrenyuhkan ada lagi, Oom. Pekebun coklat.
Misdi: Lah, bukannya pekebun coklat itu sangat romantis? (Sambil bicara Misdi mengembangkan tangannya, seperti menangkap gerimis renik yang berhasil menerobos kabut. Atau mungkin, yang dia kira gerimis renik itu sebenarnya adalah kabut yang mengumpul.)
Sastro: Yang romantis itu ngirim coklat Valentine, Pak Lik!
Misdi: Haha…
Sastro: Ternyata, kata temanku anak Fulbright asal Aceh yang dulu pernah kuliah di sini, banyak lho pekebun coklat di Aceh sana yang nggak pernah merasakan coklat.
Misdi: Kan mereka yang tanam?
Sastro: Merasakan coklat dalam bentuk jadi, maksudnya, yang kayak Silver Queen gitu.
Misdi: Wah. Terus gimana soal kopi?
Sastro: Di rumah aku ada kopi bali Banyuatis.
Misdi: Rasanya?
Sastro: Alah, menurutku sih gak ada bedanya sama “regular”-nya Starbucks …
Misdi: Mari kita kemon! Oke, sebelum kena distraksi lagi, ayo presentasikan kritikmu tadi.
Sastro: Hahaha… kayaknya aku belum ditakdirkan untuk presentasi kritik sebelum minum kopi!
Misdi: Halah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s