Misdi: Sas, tahu nggak kali ini aku mau nulis apa?
Sastro: Apa, Oom? Kok tumben sampean minta pendapatku soal tulisan? Kan sampean sangat terkenal di seluruh pelosok nusantara sebagai penulis yang egois dan anti minta pendapat orang lain tentang tulisan sendiri sampai seolah-olah merasa sampean adalah penulis mapan yang sudah sangat–
Misdi: Titik. Sudah bos.
Sastro: Untung sampean titik tadi. Kalau nggak pasti aku gak akan berhenti sampai low bat.
Misdi: Oke, to the point boss.
Sastro: Listening…
Misdi: Aku kan lagi getol-getolnya nonton Pulp Fiction.
Sastro: Ya, kan tugas kita di kelas, Oom.
Misdi: Iya, memang. Kamu lihat kan aku kemarin bikin percakapan yang terinspirasi Pulp Fiction itu?
Sastro: Ya tahu lah. Kan sampean ngetag aku, Oom. Tapi, sebenarnya aku punya kritik soal tulisan sampean itu–
Misdi: Titik. Kritiknya nanti dulu, bos. Sekarang biar aku cerita dulu.
Sastro: Oalah, ternyata belum berubah. Tetep gak mau menerima kritik.
Misdi: Kalau kamu gak suka menyela, menunggu saat yang tepat untuk menyampaikan kritik, mungkin aku akan mau mendengar.
Sastro: Mungkin. Gaya Vincent, Bos!
Misdi: Hahaha…
Sastro: Tapi, Bos, kalau aku gak suka menyela ya pasti gak jalan percakapan kita ini. Jadinya kan ceramah di pihak sampean dan jamaah di pihakku?
Misdi: Hahaha…
Sastro: Waktu dan tempat kami persilakan.
Misdi: Nah, terkait minatku soal Pulp Fiction itu, Bos, aku pingin bikin novel yang dilengkapi dengan semacam OST, soundtrack gitu. Bos. Dan soundtrack-nya yang khas. Kayak di Pulp Fiction itu lho.
Sastro: Oke… (dia mengangkat telunjuknya, tapi tidak sampai berbicara).
Misdi: Oke?
Sastro: Boleh ngomong?
Misdi: Oke-oke.
Sastro: Begini, pertama-tama: aku punya referensi sastra yang mungkin melakukan hal serupa.
Misdi: Kedua?
Sastro: Kedua, aku punya pandanganku sendiri soal penggunaan soundtrack di kedua karya itu. Oh ya, rujukanku itu ada dua.
Misdi: Yaitu, titik dua…
Sastro: Wah, jangan niru gaya ngomongku, Oom. Sudah tak trademark-kan lho itu.
Misdi: Ampuss bon.
Sastro: Salah satu contohnya adalah novel Taqwacores, yang sedang aku skripsikan ini. Pasti tahu kan? Dan sekadar mengingatkan, novel ini bukan novel abad ke-19.
Misdi: Hahaha…
Sastro: Di novel ini, karena ceritanya tentang anak-anak punk yang hidupnya gak pernah jauh-jauh dari musik, di novel ini ada beberapa lagu yang bisa dibilang sebagai OST-nya. Dan sekadar info, lagu-lagunya bukan lagu-lagu punk yang biasa ada. Ada country, Johnny Cash, man! Ada Tori Amos, embuh apa itu alirannya. Ada country gaya Billy Bragg dll.
Misdi: Wah asyik juga ya. Enak juga ya belajar Comparative Literature, makanannya gak jauh-jauh dari makanan anak band.
Sastro: Well, I’m anak band at heart, amigo!
Misdi: Terus gimana signifikansinya.
Sastro: Jadi lagu-lagu itu muncul di novel Taqwacores sebagai lagu-lagu yang didengarkan para tokohnya.
Misdi: Mirip yang ada Pulp Fiction, Jules dengar Jungle Boogie di mobil, Butch Bruce Willys dengar Captain Kangaroo di mobil, Mia dan Vincent berdisko diiringi Chuck Berry.
Sastro: Oke, Bos, sama-sama tahunya, gak usah diulang-ulang, gak usah diulang-ulang, gak usah diulang-ulang.
Misdi: Hahaha… Maklum, Bos, baru sekali ikut kuliah anak-anak Comp. Lit. Terus gimana tadi?
Sastro: Jadi, di novel itu, menurutku soundtrack diperlakukan nyaris persis seperti perlakukan film terhadap soundtrack. Menekankan pada bunyi. Bedanya, kalau di buku ini, asosiasi bunyinya yang diandalkan. Taqwacores mengharap kita akrab dengan musisi dan lagu-lagu yang dia jadikan soundtrack-nya.
Misdi: Oke… Sambil mencerna pelan-pelan, Bos.
Sastro: Kurang ada eksplorasi ke teks-nya. Padahal karya sastra kan traditionally merupakan written text. Jadi, menurutku perlu ada usaha mendekatkan karya sastra ke elemen linguistik, kata-kata, lirik, lagu-lagu tersebut.
Misdi: Oke, oke. Jadi you are suggesting that kalau menyertakan soundtrack dalam karya sastra jangan sampai terlalu jauh meninggalkan elemen tekstualnya begitu?
Sastro: Oui! Tapi tetap tanpa meninggalkan kesan itu lirik lagu, musik. Jangan sampai lupa musiknya juga.
Misdi: Mantep.
Sastro: Meminjam kata-kata Greg Graffin, kata-kata thok, terlepas dari konteksnya dalam A Punk Manifesto, “walking the fine line … with masterful precision”. Oh ya, Greg Graffin itu vokalisnya Bad Religion.
Misdi: Peh! Kamu ngomong saja kayak nulis pendahuluan skripsi, pakai kutipan.
Sastro: Ehem-ehem!
Misdi: Kalau rujukan yang kedua, Bos?
Sastro: Nah itu dia, dari bumi pertiwi, buku Recto Verso-nya Dee.
Misdi: Oh iya, itu sih aku juga tahu. Kan buku yang ada CD-nya. Istriku pernah dipinjami muridnya.
Sastro: Oke, tapi aku ada kritik juga soal itu.
Misdi: Hmm. Asyik lho idenya, buku dan lagu, orisinil. Mengingatkan sama proyeknya Oktarano Sazano waktu bikin kumpulan puisi cyber dulu.
Sastro: Oh ya? Kayaknya kok pernah dengar namanya. Khas banget!
Misdi: Iya, muridnya mas Nanang Suryadi itu lho di Brawijaya. Tapi bos, kamu lanjutkan dulu tadi kritiknya.
Sastro: Nah, kalau Dee itu memang hebat, multi-talenta, nulisnya asyik, gagasannya selalu fenomenal, dan pipinya juga kayak halus kayak porselain gitu, katamu dulu, waktu lihat launchingnya di Malang.
Misdi: Hahaha. Masih ingat saja.
Sastro:Tapi… di situ dia memperlakukan CD-nya “hanya” sebagai semacam kristalisasi, atau versi abstrak dari cerita-cerita yang ada di buku tersebut.
Misdi: Jadi?
Sastro: Jadi, kalau sampean baca bukunya tanpa mendengarkan CD-nya juga gak jadi soal. Sementara, menurutku, menurutku lho ya, yang sampean hasilkan nanti harusnya hibrida yang masing-masing elemennya sudah melebur jadi satu, seperti waktu sampean masukkan keju ke dalam pinto bean soup yang masih panas.
Misdi: Wahaha. Dan besoknya kentutnya jadi bau.
Sastro: Wahaha… Begitulah!
Misdi: Jadi, apa tadi? With masterful precision?
Sastro: Ya, jadi proyek sampean ini nanti mestinya seperti “walking the fine between two extremes … with masterful precision”!
Misdi: Hmm…
Sastro: Gimana rasanya mendengarkan omongan orang lain?
Misdi: Enak juga…
Sastro: Makanya.
Misdi: Sesekali…
Sastro: Maksudnya?
Misdi: Setelah itu kuping ditutup rapat-rapat dan kamar ditutup rapat-rapat.
Sastro: ?
Misdi: Kayak Stephen King, bos, atau seperti A Room of One’s Own, Virginia Woolf.
Sastro: Haiyyyah, penulis abad ke-19 lagi!
Misdi: Salah! Woolf terkenalnya pada abad kedua puluh, bos, angkatan Eyang Joyce.
Sastro: Tetep saja, lawas!
Misdi: Tutup kuping.
Sastro: Lawas pol!
Misdi: Tutup kamar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s