Vincent: Mau daging babi asap? (Vincent menawarkan potongan daging babi asap di ujung piringnya kepada tokoh kita, Yulianto, waktu mereka makan sama-sama makan di dining hall. Oh ya, sebenarnya dialog ini berlangsung dalam bahasa Inggris, tapi demi kenyamanan bersama dialog ini sebisa mungkin di-Indonesiakan.)
Yulianto: Makasih, aku nggak makan daging babi. (Dia melanjutkan makan Veggie Taco yang berisi nasi, pinto bean, red bean, guacamole plus parutan keju cheddar yang ditumplekkan di atas tortilla lembut ukuran kecil.)
Vincent: Oh ya, kamu Muslim sih.
Yulianto: Bukan karena itu sih. Aku nggak seneng saja makan babi, celeng atau apa saja yang nggak tahu bedanya antara makanan sama kotorannya sendiri. Jijik. (Dia menutup tortilla lembut yang hangat itu).
Vincent: Hmm… bayi juga gak bisa mbedakan makanan sama kotorannya sendiri. Aku pernah lho lihat bayi njilat eeknya sendiri waktu pampersnya mbukak.
Yulianto: Tapi aku juga gak makan bayi.
Vincent: Hmm… Berarti, kalau bayi bisa mbedakan antara makanan sama kotoran, kamu mau makan?
Yulianto: Kamu kok ndak beres gini sih, man? Ngomong makan bayi segala, kayak orang ndak beres saja. (Dia kemudian melanjutkan sambil mulai menggigit ujung tortilla yang sudah dilipat jadi setengah lingkaran itu.)
Vincent: Aku cuman nyari celah dari omonganmu tadi, man.
Yulianto: Dasar filosof, hughanya ghok nyari kesalahan omongan! (Yulianto ngomong sambil mengunyah taco, terasa sekali bawang putih yang tercampur dalam guacamole. Terlihat guacamole nyaris meleler keluar tortilla.)
Vincent: Bukan begitu, tapi banyak sekali lho ketidakberesan yang bisa dibaca dalam bahasa, bos. Bahasa bisa menyingkap banyak hal, man!
Yulianto: Tapi kan mestinya kamu ngerti kapan waktunya mengaplikasikan kecanggihan telaah linguistik dekonstruktif derridean lacanian etc, etc, etc…
Vincent: Oke, oke, santai, man! (Vincent mulai memakan sandwich isi daging babi asap, lettuce, buah zaitun dan acar cabe jalapeno dengan honey mustard yang manis-manis asem.)
Yulianto: Dan aku juga gak makan makhluk karnivora.
Vincent: Berarti kamu juga mau makan veg–
Yulianto: Yo, yo, you, man. I’m getting a little pissed here with you investigation methodology!
Vincent: Sorry, nggak akan pakai lagi deh. Aku agak kuatir kuatir saja, soalnya pacarku vegetarian.
Yulianto: Oh ya? Sejak kapan? (Dia mulai meletakkan taconya.)
Vincent: Kayaknya sejak kecil deh. Bapaknya generasi 70-an gitu… Katanya hidupnya lebih sehat. Sudah agak lama dia ngajak aku jadi vegetarian.
Yulianto: Hmm… Jadi pingin nyoba nih…
Vincent: Jadi vegetarian?
Yulianto: Oh, nggak kok.
Vincent: Maksudmu?
Yulianto: Nggak… forget it… (Dia lanjutkan lagi makan Veggie Taco-nya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s