Sudah lama sekali saya merasakan sensasi nikmatnya belajar bahasa baru. Terakhir saya mencoba belajar bahasa baru secara intensif adalah sekitar tahun 2003, yaitu ketika saya ambil kursus bahasa Perancis di CSN Kopma Universitas Brawijaya. Waktu itu, saya cukup tertantang dan merasakan kembali sulitnya belajar bahasa asing: pronunciation yang berbeda, kosakata baru yang benar-benar tidak saya mengerti dan hanya bisa saya tebak-tebak sedikit awalnya, dan aturan tata bahasa ganjil yang harus saya hadapi. Sayang, sensasi nikmat dari belajar bahasa Perancis itu hanya sebentar saya nikmati. Setelah satu level selesai, ternyata jumlah murid yang melanjutkan ke level berikutnya tidak cukup untuk memulai kelas. Akhirnya: saya pun berhenti belajar bahasa Perancis. Saya coba pinjam buku praktis belajar bahasa Perancis dari perpustakaan Universitas Negeri Malang. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada paksaan. Minim motivasi. Tidak ada bahan yang memungkinkan saya mendengar sendiri seperti apa pronunciation yang tepat dalam bahasa Perancis. Dan sedikit demi sedikit bahasa Perancis yang cuma sedikit saya punya di satu sudut otak itu pun menyublim. Kini, yang saya ingat hanya beberapa patah kata dan konstruksi tata bahasa super mendasar. Kalau pun ada beberapa ungkapan ramah tamah dalam bahasa Perancis yang saya ketahui dan bisa ucapkan saat ini, itu berkah berkawan dengan sejumlah kawan dari Niger, Chad, Rwanda atau beberapa negara Afrika lain yang berbahasa Perancis. 

Kini, nyaris sepuluh tahun sejak mandeknya upaya belajar bahasa Perancis itu, datang lagi kesempatan belajar bahasa asing. Kali ini bahasa Arab. Buat orang Indonesia, yang dibesarkan di lingkungan Islam, dan cangkruk sehari-harinya di Langgar, bahasa Arab seperti ayam bekisar: dia sangat dekat dan bisa kita nikmati fisiknya, tapi kalau bukan pemiliknya kita pasti takut membuka sangkar dan memegang atau bahkan mengelus-elusnya.

Buat arek Langgar, cara baca alifba’ta’ Arab sudah tidak ada masalah sejak kecil (bahkan kalau di langgar baca alifba’ta’ itu sudah default mencakup Tajwid, ilmu yang tidak semua orang Arab menguasainya!). Banyak kosakatanya sudah hapal di luar kepala (kalau bacaan sholat kan mestinya harus dipahami artinya :D) atau bahkan seperti bahasa ibu (lihat betapa buanyaknya kosa kata bahasa Arab dalam bahasa Indonesia!!!!!!). Bahkan, setidaknya di masa kecil saya, para ta’mir Langgar pernah dua kali berusaha mengajari kami bahasa Arab, yang pertama waktu kami kelas 4 SD (kali itu bahasa Arab yang diajarkan adalah bahasa Arab komunikasi—saya masih ingat banyak kosakatanya “al-ustaadzu amamas sabburoh/pak guru di depan papan tulis” atau “kirtosun/kertas”) dan waktu kelas 1 SMP (waktu itu yang diajarkan adalah bahasa Arab al-quran, atau ilmu nahwu dan sharaf, dan saya terus terang hanya ingat soal perubahan bentuk kata “fa’ala, yaf’alu, fa’lan, wamaf’alan, wahua faa’ilun dll” dan sama sekali tidak ingat soal tata bahasanya). Tapi, semuanya terhenti begitu saya kursus bahasa Inggris dan lebih menikmati bahasa Inggris. Kelak di kemudian hari, bahasa Arab saya sentuh lagi ketika membaca al-Qur’an dan ingin tahu artinya terus. Tapi tentu saja, sama sekali tidak terasa kenikmatan belajar bahasa asing. 

Baru sejak 2,5 bulan lalu saya mulai lagi merasakan kenikmatan belajar bahasa Arab. Kali ini bahasa Arabnya adalah Bahasa Arab Modern Standar, yang lazimnya dipakai sebagai lingua franca di antara negara-negara berbahasa Arab. Kali ini, benar-benar terasa lagi frustasinya menghafalkan kosakata (yang cukup banyak di antaranya sebenarnya saya bisa tebak artinya karena sudah dipinjam—atau lebih tepatnya dicuri, karena tidak pernah dikembalikan, oleh bahasa Indonesia—tapi tidak bisa saya pastikan karena perubahan bentuknya), asyiknya mengakrabkan diri dengan bentuk feminin dan maskulin (istilahnya muannats dan mudzakkar, pamer boooo’—btw, ‘mudzakkar’ bisa ditebak artinya dengan menghubungkan dengan apa yang ada dalam bahasa Indonesia, kan?) dan kerja keras menghafalkan bentuk jamak dan tunggal (dalam bahasa Arab juga disebut ‘jamak’ :D). 

Dan sekarang, saya tidak tahu akan seberapa lama proses belajar ini bertahan. Yang pasti, saya sangat senang karena seminggu tiga kali saya bisa ikut kelas bahasa Arab ini, ada kewajiban mengerjakan PR, ada sumber belajar yang diupload ustadza-nya (btw, ustadza-nya orang Amerika keturunan Lebanon) di sebuah situs pembelajaran di internet, ada DVD yang sudah saya jadikan .iso dan bisa saya putar lewat virtual drive di komputer (yg tentunya pada jaman sekarang bisa dibawa ke mana-mana asal nggak males), dan banyak teman dari negara-negara berbahasa Arab yang sedikit banyak bisa kita curi pronunciationnya. 

Ya, saya tidak tahu akan sejauh mana belajar saya ini. Yang pasti, sejauh ini saya sudah bisa menulis satu paragraf menceritakan tentang diri dan keluarga saya dan pekerjaan saya. Dan saya sangat menikmati prosesnya. Well, well, well, tidak sabar kapan kira-kira saya akhirnya bisa baca bukunya Al-Qazali yang kata Pak Effendi Kadarisman punya Prakata super indah itu, atau puisinya Abu Nuwwas yang cantik, filosofis tapi nakal itu, atau prosanya Naguib Mahfoudz yang dalam bahasa aslinya bisa dibilang tidak standar itu, atau dst, dsb, dll, dllajr!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s