Ternyata, setelah baca lebih banyak lagi, ada perasaan lain dalam puisi-puisi Nirwan Dewanto. Ada imaji dan gaya yang kerap muncul. Imaji “perenang buta” atau “ubur-ubur” muncul beberapa kali. Dan menggunakan “mengiri” sebagai ganti simile kerap muncul (mis. “layar iri bola matanya” [sepertinya maksudnya bola matanya sama putihnya dengan matahari]).

Ada puisi-puisi yang berpotensi di baca sebagai manifesto estetika perpuisian si penyair. “Perenang Buta” jelas-jelas menawarkan sebuah parabel, entah tentang apa. Dengan segala hormat kepada Cleanth Brooks, saya akan memparafrase “Perenang Buta” sbb: seorang perenang buta berhenti di laut(?) padahal di depannya beberapa puluh depa sudah terlihat hanya putih. Saya tidak tahu harus diapakan puisi ini. Tapi kalau melihat posisinya yang membuka bagian pertama, di mana terdapat banyak puisi yang (seperti saya sebut di atas) banyak mengandung manifesto estetika, mungkin ada yang penting dari puisi ini.

Nah, kalau puisi-puisi manifesto itu sendiri, ambil salah satunya adalah puisi “Semu” di mana si puisi menjelaskan bahwa dirinya bisa berupa macam-macam (bisa kulit limau bisa putih telur) dan si puisi “menuduh” “kau” (yang mungkin saja pembaca secara umum, atau pembaca yang syakwasangka terhadap Nirwan? :D) sebagai pembaca yang mencari “jantung kata kuning” yang dianggap si pembaca sebagai miliknya sendiri (mungkin di sini si pembaca cenderung membaca untuk mencari apa yang ingin dia temukan sendiri) dan di bagian akhir si puisi mengklaim bahwa pembaca tidak akan bisa menjangkaunya (atau memahaminya) karena dia (si puisi) adalah “sayap kata/terbang sendiri, birahi sendiri.” Mungkin begitulah estetika yang dipegang Nirwan. Yang jelas, untuk puisinya, dia sama sekali tidak TAK TERJANGKAU. Dia jelas-jelas sudah menyerahkan dirinya kepada bahasa positivis yang ingin menyampaikan sesuatu dan mengorbanan “ketakterjangkauan” yang sepertinya dia banggakan.

Dan terakhir, puisi “Harimau” cukup menarik saya, sebab di situ “aku” berbicara kepada “kau” dengan gaya dua pendekar berbicara. Si aku menunggu si kau dari kegelapan. Si aku membaca kitab-kitab demi menyiapkan pertarungan dengannya. Ah, tentu saja puisi ini juga bisa dibaca sebagai “keyakinan estetis” Nirwan Dewanto, yang caranya melawan “Harimau” yang menantangnya dengan cara membaca dan membiarkan dirinya mendapat pengaruh dari kitab-kitab lama (Pada lembar demi lembar segenap kukuku akan terasah oleh jejak darah kaum pendahulu.). Di ujung puisi, si aku mengatakan bahwa pada saatnya pertarungan itu, si aku dan si kau saling mengambil pengaruh dari satu sama lain (ketik kau mencuri terang dari kulitku ketika aku mencuri gelap dari kitab-kitabmu). Demikianlah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s