Sastro: [sambil berjalan menanjak di trotoar di belakang Misdi yang sesekali menoleh kepadanya] Terus gimana, Mis. Apa kali ini sampean tetep ndak mau nulis lagi tentang Amerika-amerikaan?
Misdi: Kali ini sejak awal sudah dilematis, Bos. [Sambil menoleh sebentar lawan bicaranya yang berjalan kira-kira dua langkah di belakangnya]
Sastro: Dilematis piye?
Misdi: [Membalik badan, tapi tidak berhenti berjalan, jadi dia berjalan mundur menanjak trotoar] Ada keinginan sedikit, Bos, mau nulis.
Sastro: Waduh, alamat bakal banyak yang ditulis. Konon sih begitu biasanya.
Misdi: Maksudmu? [Tetap sambil berjalan mundur]
Sastro: Lha dulu, tiga tahun lalu, sampean sejak awal bilang ndak bakal nulis cerpen berlatar Amerika-amerikaan. Gak bakal latah-latahan. Katanya Joyce saja yang lama tinggal di Paris, Trieste, Zurich nulisnya tetap tentang Dublin? Katanya sampean dulu pernah baca kalau Mark Twain bilang setelah tinggal 15 tahun, baru orang bisa nulis tentang daerah yang bukan tempat lahirnya secara legit.
Misdi: Peh. Kok kamu masih ingat, Bos?
Sastro: Haiyyah, sampean ini kok mempertanyakan hamba yang anak angkut–weis, anak angkat maksudku–sir Google dot com ini? Kan sampean tulis semua itu di blog?
Misdi: Hehehe… iya juga sih.
Sastro: Lha iya, dulu sampean mikir gitu saja ujung-ujungnya tetap nulis cerpen yang Seribu Tapal Kuda di Arkansas itu?
Misdi: Hehehe… iya juga sih.
Sastro: Lho? Kok diulang-ulang? Kok diulang-ulang? Kok diulang-ulang.
Misdi: Hehehe–
Sastro: Hayo, ngomong “iya juga sih” lagi?
Misdi: Tapi, Bos, waktu itu memang ada yang sangat memaksa.
Sastro: Ehem-ehem, saudara-saudara, apologi akan segera disampaikan oleh Bapak Misdi. Kepada Bapak Misdi, waktu dan tempat kami persilakan.
Misdi: Hahaha… Gini, Bos. [Misdi berhenti berjalan, kali itu mereka tepat berada di depan kompleks apartemen Pierce Properties yang di halaman depannya ada patung babi merah. Oh tidak, sejak beberapa minggu yang lalu, patung babi itu diganti cat jadi warna pink] Waktu itu memang aku merasa ada sekali yang perlu dituliskan. Dan yang aku tuliskan dulu–menurutku lho ya–bukan sesuatu yang sekadar setting Amerika, Bos. Aku coba sedikit banyak memasukkan sesuatu yang aku merasa paling aku mengerti, Bos. Kehidupan desa, lagu country–
Sastro: Okey, okey. Terima kasih Bapak Misdi atas apologi yang telah diberikan. Selanjutnya mari kita lanjutkan jalan ke kampus, kuliah sudah tinggal 7 menit lagi.
Misdi: Hehehe… Iya ya. [Misdi membalik badan dan mulai berjalan normal menanjak lagi. Tanjakan tinggal beberapa puluh meter lagi.]
Sastro: Terus yang sekarang piye, Bos? Kenapa sampean bilang sekarang kok dilematis dan ada kemauan sedikit?
Misdi: Nah, yang sekarang ini, begini… [Misdi menoleh lagi, sepertinya dia kesulitan menjelaskan konsep tanpa memandang mata lawan bicara dan menggunakan tangan untuk membantu menjelaskan.]
Sastro: Mendengarkan, Pak.
Misdi: Jangan sela dulu, Bos. Konsep sulit ini. Sstt [dia angkat tangannya, menghentikan Sastro yang hampir berbicara]… Ternyata, Bos, aku menemukan kalau beberapa cerpenis Indonesia yang nulis cerpen-cerpen Amerika itu melakukan sesuatu yang tidak biasa.
Sastro: Antara lain?
Misdi: Trio Macan kita: Budi Darma, Umar Kayam dan Kuntowijoyo. Bapak-bapak bertiga itu memiliki sesuatu yang khas dalam cerpennya, yang tidak aku temukan di cerpen-cerpen bersetting luar negeri karya cerpenis-cerpenis muda yang latah.
Sastro: Yaitu?
Misdi: Ambil contoh Kuntowijoyo.
Sastro: Saya amb–
Misdi: Ssst, jangan disela dulu. Kuntowijoyo di cerpen-cerpen luar negeri yang ikut disertakan bersama cerpen-cerpen “normal” lainnya dalam buku Hampir Sebuah Subversi itu. Cerpen-cerpen luar negeri itu tidak sibuk memperbincangkan tentang setting luar negeri, taman-taman indah, salju yang anyes, musim gugur yang indah, musim semi yang penuh sakura–
Sastro: dst, dsb, dll, dllajr! Contohnya cukup, Pak. To the point saja.
Misdi: Hahaha… tetep aja kamu ini. Oke, begini, cerpen-cerpen Pak Kuntowijoyo itu repot mengurusi dampak dari permasalahan sejarah terhadap orang-orang jaman sekarang di luar negeri, tentu permasalahan sejarah di sini yang paling banyak berkaitan dengan orang Indonesia dan orang dari negara yang pernah menjadi bapak asuh-nya Indonesia, atau yang terlibat sendiri dengan proses kebapakasuhan itu.
Sastro: Yaitu sisa-sisa kolonialisme. So pasti. Lha wong panjenenganipun itu ahli sejarah. [Kali ini mereka sudah melewati tanjakan tertinggi dan trotoar mulai menurun.]
Misdi: Betul. Jadi, bisa dibilang, ada agenda tersendiri dalam proyek penulisan cerpen-cerpen luar negeri beliau. Beliau punya pandangan, punya obsesi, dan obsesi itu bisa terjadi di mana-mana. Dan kebetulan saja beliau berada, misalnya, di Amerika. Sehingga proyek beliau itu dilanjutkan di situ. Jadi, cobak sampean lihat, meskipun setting-nya Amerika, bisa saja keluar dari beliau kisah tentang orang Indonesia yang leluhurnya pernah bercita-cita jadi pegawai pabrik gula di Jawa. Ada juga kisah tentang mahasiswa Indonesia yang “kehilangan” istrinya karena direbut oleh orang Belanda.
Sastro: Oke, masuk akal, Pak.
Misdi: Point yang bagus, kan, Bos?
Sastro: Haiyyah, jangan dipuji-puji sendiri. Nanti kalau sampean blogkan, dikira narsis lho sama orang?
Misdi: Hahaha…
Sastro: Terus lainnya, Bos?
Misdi: Nah, kalau Umar Kayam lain lagi, Bos. Panjenenganipun almarhum itu gayanya adalah–lho?
Sastro: Kenapa, Mis? Terus saja. Waktu dan tempat kami per–
Misdi: Sas, ada bis, ayo cepet lari ke halte. Lumayan, biar lebih cepet. Ayo [Mereka berdua lari terus menuruni bukit sekitar dua puluhan meter. Tujuan mereka adalah pertigaan Mapple St. dan Leverett Ave. Tempat itu adalah juga halte bus. Dan biasanya bis tidak menunggu terlalu lama. Setelah berlari sekuat tenaga, mereka pun bisa sampai ke pertigaan tepat ketika bis membuka pintu depan. Dan sopirnya, yang berwajah mirip Lorenzo Lamas dan suka membaca novel itu Menyapa dengan senyum dan kacamata hitam “Good morning!”]
Sastro: Morning, man. [Sastro masih terengah-engah. Tapi dia masih antusias mendengar cerita Misdi.] Terus gimana … [engah-engah] … terusannya, Mis? [engah-engah]
Misdi: Halah [engah-engah] sudah dulu [engah-engah] bos. Ambekan sik! [engah-engah]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s