Pasti kau tidak tahu, bahwa dia suka berlama-lama di kantornya. Sebagai asisten dosen, dia mendapat kantor di gedung jurusannya. Dosen yang dia asisteni berbaik hati menyerahkan kantornya agar bisa digunakan si asisten. Si dosen sendiri sedang sibuk dengan urusan luar kampus (yang dia sebut sebagai ‘pengabdian masyarakat’) sehingga dia hanya datang ke kampus saat mengajar. Selain itu, dia membiarkan kantornya sebagai ‘tempat’ memarkir buku. Karena itulah, dia beri izin asistennya untuk memakai kantor itu.

Demikianlah, tokoh kita ini suka berlama-lama memakai kantornya itu. Alasan utamanya adalah karena tempatnya sangat luas, banyak sekali buku untuk bidang studinya, dan sangat tenang. Tapi, yang paling menarik dari kantor itu adalah karena dia bisa menggunakannya kapan saja. Sama sekali tak ada batas waktu.

Sebagai asisten dosen, dia mendapat akses sepenuhnya atas gedung jurusan itu. Tentu, ‘sepenuhnya’ di sini adalah dalam batas kewajaran. Dia mendapat kunci untuk memasuki gedung ini dari pintu darurat, sehingga dia bisa masuk ke gedung ini kapan saja dia perlu, meskipun gedung secara resmi sudah tutup. Dia juga dapat kunci untuk membuka kantor jurusan, di mana dia punya kotak surat, tempat mahasiswa-mahasiswanya menyerahkan tugas, atau tempat dia mendapat kiriman. Kunci untuk kantor jurusan itu juga bisa dipakai untuk membuka lap teknologi cukup lengkap khusus untuk asisten dosen, di mana dia bisa mencetak, memfotokopi, dan menscan secara lebih leluasa (berbeda dengan fasilitas serupa yang ditawarkan di perpustakaan utama kampus.

Kunci terakhir tentu saja kunci kantornya itu.

Sejak mendapat akses luar biasa itu, tokoh kita ini jadi merasa lebih nyaman mengerjakan apa saja. Dia bisa ke kampus malam-malam dan menikmati kesunyian gedung tujuh lantai itu. Dia habiskan waktu di sana, seorang diri di gedung tersebut, hingga jam 12 atau bahkan 1 dini hari. Mungkin ada asisten dosen lain yang juga ada di gedung itu, mungkin di lantai lain, mungkin di kantor lain. Kalaupun memang ada, tentu mereka dan tokoh kita ini sama-sama tidak tahu keberadaan masing-masing.

Dia suka datang ke kantornya itu ketika kebanyakan orang pulang dari gedung itu, sekitar pukul 6 sore. Saat itu, biasanya hanya ada beberapa kelas saja yang masih hidup. Dia langsung menuju kantor dan melakukan apa yang perlu dia kerjakan. Biasanya, sebelum jam 9 sesekali dia masih bisa mendengar suara pintu membuka tutup di luar kantornya. Kadang ada satu dua orang bercakap-cakap di lorong sambil berjalan.

Yang hampir pasti adalah, sekitar pukul sembilan lebih sedikit, akan ada orang yang membuka pintu. Pertama kali dia mendengar itu, tokoh kita ini kaget jangan-jangan dosen yang dia asisteni itu datang malam-malam untuk mengambil sesuatu. Tetapi begitu pintu terbuka, dia langsung lega tapi juga kaget. Pertama dia lega karena si pendatang itu bukan di dosen. Tapi juga kaget karena itu artinya orang lain, yang kebetulan tidak dia kenali. Tapi, satu dua detik kemudian dia langsung mengenali bahwa perempuan itu (oh ya, orang yang masuk ini perempuan) adalah petugas kebersihan yang datang untuk mengambil isi tempat sampah.

Belakangan dia tahu bahwa para petugas kebersihan itu bekerja sampai sekitar pukul dua di gedung tersebut. Dia akhirnya akrab dengan beberapa dan selalu saling menyapa saat ketemu. Ada petugas yang sampai sering ngobrol dengannya saking seringnya mereka ketemu.

Kini, gedung yang sepi itu, yang lampu lorongnya baru dimatikan sekitar pukul 11 malam, tidak lagi terlalu terasa sepi. Dia yakin, entah di suatu lantai yang mana, di dalam kegelapan itu, ada satu dua petugas bersih-bersih yang bekerja. Dan kini, sudah tidak ada alasan lagi merasa aneh saat berada di gedung ini.

Dua tahun sebelumnya, dia sempat ngeri ketika lewat di depan gedung tujuh lantai itu. Alasannya sederhana saja: dia mengetahui dari surat kabar dan dari omongan beberapa orang bahwa sepuluh tahun yang lalu pernah terjadi pembunuhan di gedung itu. Seorang mahasiswa doktoral yang tidak lulus ujian komprehensif membunuh ketua jurusan setelah terlibat perdebatan keras. Kejadiannya: terjadi perdebatan, terdengar tembakan, terdengar pintu dikunci, tidak ada orang yang bisa masuk ke kantor ketua jurusan, lalu terdengar tembakan sekali lagi, lalu sepi sampai akhirnya polisi dan petugas pemadam kebakaran datang untuk mendobrak pintu dan menemukan dua tubuh bersimbah darah di lantai. Si tokoh kita, dua tahun yang lalu ngeri saat lewat depan gedung itu bukan karena takut hantu atau apa. Tapi dia ngeri membayangkan kejadian berdarah itu. Tapi kini, kejadian itu seperti begitu mudah tersapu. Lagipula kejadiannya sudah 10 tahun lalu.

Dan kantor ketua jurusan itu hanya terpaut dua pintu dari kantor tempatnya suka menyendiri sampai dini hari.

4 thoughts on “Di Sunyi Dini Hari

    1. Perlu dicurigai itu, mas. Semoga nanti ada kelanjutan kisah tentang si tokoh kita, biar kita tahu bagaimana sejatinya yang dia rasakan.

  1. mas, ini tak kutipkan kalimat sombong-sombongan dari Epik Shahnameh, di bab tentang Rostam dan Sohrab. waktu Sohrab dipanas-panasi, dibilang takut, dia berkoar:

    “If fear afflicts my heart, then I’ve no use for it. I’ll tear it from my chest.”

    Hmmm…

  2. Wuih, kutipannya itu lho… Mungkin dia sudah jadi seorang sufi ya. Sampai-sampai tak mengijinkan rasa takut menghinggapi hatinya. Bukankah dengan kata lain dia berkata: “mendingan aku mati, daripada takut..” Betul!?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s