Satu hal lain yang mendukung gaya langsung dagingnya ini tampak pada keluwesan jurusan Sastra Inggris dalam hal mata kuliah yang ingin ditawarkan. Sekadar bandingan, di kampus saya waktu kuliah S1 di Malang dulu, kami para mahasiswa sudah tahu mata kuliah apa yang ditawarkan kampus dan apa saja yang harus kami ambil untuk memenuhi persyaratan kelulusan (seperti saya obrolkan di sini). Nah, beda halnya dengan yang terjadi di jurusan Sastra Inggris University of Arkansas.

Di kampus Arkansas ini, para mahasiswa (baik S1 maupun S2) hanya tahu bahwa syarat-syarat kelulusan adalah mengambil mata kuliah “klasifikasi-klasifikasi” tertentu dalam jumlah tertentu. Yang dijelaskan adalah “klasifikasinya,” dan nama mata kuliahnya sendiri bisa berubah-ubah. Jenis klasifikasinya antara lain: Sastra Dunia, Sastra Inggris, Teori, dll. Baru sekitar satu semester sebelumnya kita bisa tahu bahwa mata kuliah tertentu akan ditawarkan.

Contoh kongkrit, pada semester Spring 2009, saya baru tahu bahwa pada semester musim panas nanti akan ada mata kuliah “Marxism in Literary Criticism” atau pada musim gugur depannya akan ada mata kuliah “Jewish, Muslim and Catholic American Literature” atau “Contemporary African-American Literature” atau “19th Century Irish Poetry” atau “Arab-American Literature” atau lainnya.

Judul-judul mata kuliah ini sangat spesifik dan–khusus bahasan postingan ini–fokusnya adalah teks/karya sastra yang akan dibahas dalam mata kuliah tersebut. Sebagai misal, dalam mata kuliah “Contemporary African-American Literature,” batasannya sangat jelas: karya-karya sastra dari penulis Afrika-Amerika yang terbit sekitar tahun 40-an (pasca Harlem Renaissance 1920-30-an) yang dalam hal ini diwakili oleh Richard Wright hingga karya-karya yang terbit pada tahun 2000-an seperti misalnya Percival Everett atau Octvia E. Butler.

Dalam mata kuliah-mata kuliah yang spesifik ini, mahasiswa diajak membaca karya-karya sasaran dengan cara yang tidak terlalu jauh dengan yang saya obraskan di sini. Tapi tentu saja masih banyak cara lain yang dipakai para profesor untuk mengajarkan mata kuliah mereka (hehehe… kan kritik sastra Amerika berkembang cukup sehat sejak, tidak berhenti di New Criticism–yang sebenarnya sudah tua–tapi berkembang hingga ke arah Cultural Studies, Postcolonial Studies, dll).

Soal metodenya, insya allah akan saya bocorkan pada postingan mendatang. Salaam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s