Mungkin ini cicilan pertama tulisan tentang yang bisa dipelajari dari pengajaran sastra di universitas-universitas di Amerika Serikat. Sebenarnya, yang diamati di sini adalah Universitas Arkansas.

Satu hal tentang kuliah sastra yang mencolok adalah “langsung dagingnya.” Mungkin ini istilah yang saya ambil entah dari mana (mungkin dari Damhuri Muhammad). Maksud saya di sini adalah, mahasiswa benar-benar harus mengunyah karya sastra, tidak hanya diajari tentang karya sastra.

Contoh kongkrit. Saat mengambil mata kuliah Realisme Sastra Amerika beberapa tahun yang lalu, profesor yang ngajar langsung menyebutkan sejak awal bahwa kuliah akan berfokus pada karya-karya Henry James, Mark Twain dan William Dean Howells, tiga orang kampiun sastra realis Amerika. Pelajaran satu semester itu isinya adalah membahas karya-karya ketiga kampiun itu satu per satu.

Teknisnya. Sejak beberapa hari sebelum kelas mulai mahasiswa yang mengambil kelas ini mendapat email bahwa mereka (kami) harus punya buku-buku, misalnya, Daisy Miller, Huckelberry Finn, Modern Instances, dll. Dan kami diminta baca minimal 10 halaman pertama sebelum masuk kelas di hari pertama.

Di kelas, setelah basa-basi sedikit, profesor mulai ceramah tentang hal-hal penting yang perlu disoroti pada halaman pertama, misalnya. Dia kemudian juga mengundang mahasiswa untuk menyampaikan komentarnya tentang hal-hal tertentu. Bisa dibilang, pada titik ini kelas berlangsung seperti sebuah close reading. Sambil menggali misteri di balik kata-kata di halaman pertama ini, si profesor (yang sangat ahli sastra realis amerika ini) juga membocorkan sejumlah informasi penting terkait Daisy Miller, Henry James, dan pada akhirnya, realisme sastra di Amerika Serikat.

Pada akhir semester, mahasiswa diasumsikan sudah mendapatkan informasi-informasi penting terkait realisme sastra Amerika Serikat sekaligus mengetahui sendiri rasa daging realisme sastra di Amerika Serikat.

Waktu saya kuliah S1 di Malang dulu, hal yang paling mirip ini (meskipun sebenarnya sangat jauh berbeda) adalah ketika saya mengambil kelas Prose Fiction yang diajar bu Prof. Siusana Kweldju. Ketika itu kami baca A Thousand Acres dari Jane Smiley dan Animal Farm dari George Orwell selama satu semester dan sebuah cerpen Anton Checkov. Intensitas close reading-nya seingat saya sangat mirip dengan yang diberikan profesor untuk Relisme Sastra Amerika (yaitu Richard C. Adams), meskipun banyak perbedaan dalam hal-hal lain. Sayangnya, dulu sepertinya saya kurang mengapresiasi kelas bu Siu tersebut. Padahal kalau dipikir-pikir, berkat beliaulah saya sekarang tahu betulan seperti apa rasa daging Animal Farm itu.

One thought on “Langsung Dagingnya (1)

  1. wakakakakakaakak ..

    yang paleng suka adalah bahasan dan ingatan tentang bu Siu, semoga saja dia tahu kalo sedang diulas dan dibahas di website mu

    tapi kalo ga kenal a Thousand Acres, mungkin aku ga bakalan garap skripsi tentang novel itu Wan …

    ya, those are memorable things especially related to your gossip .. hahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s