Tokoh kita bangun pagi-pagi di tempat kosnya di Jl. Jombang 1A. Setelah mandi dingin-dingin, dia pun berangkat ke kampus. Dia kuliah di Program Pasca Sarjana, di Universitas Negeri Malang, mengambil Magister untuk Bahasa & Sastra Indonesia. Ketika itu tahun 2005.

Di jalan dia berpapasan dengan seorang teman sekelasnya, seorang mahasiswa asal Malaysia yang mengambil Magister Bahasa dan Sastra Indonesia dan sedang melakukan penelitian tentang Sastra Indonesia Angkatan 66. Mereka berbincang-bincang sejenak, si teman Malaysia harus segera naik ke mikrolet begitu ada Mikrolet datang ke arah kota (jalur LG).

Ketika baru memasuki kawasan kampus, dia bertemu seorang mahasiswa yang pernah dia kenal di gedung pasca sarjana. Namanya Hatungimana. Dia adalah seorang mahasiswa asal Rwanda yang sedang mengambil program Doktoral pendidikan luar sekolah. Dia pernah beberapa kali bertemu Hatungimana ketika mereka bersama-sama main tennis di Jl. Gombong.

Ketika tiba di gedung pasca sarjana, menunggu dosen pembimbingnya yang belum datang, dia bertemu Danny Cash, seorang mahasiswa Doktoral Sastra Indonesia yang sedang mengerjakan Disertasinya mengenai karya-karya sastra Indonesia di negeri asing. Sudah beberapa kali mereka mengambil kelas bersama-sama. Danny Cash mengontrak sebuah rumah di jalan Terusan Surabaya. Dia tinggal bersama istri dan anaknya. Tokoh kita sudah beberapa kali diundang makan malam di rumah kontrakan Danny Cash.

Istri Danny Cash sendiri, Claire Cash, meskipun bukan mahasiswa, juga terbilang aktif mengikuti kegiatan kampus. Claire sering ikut program sukarela Tim Kebudayaan Dunia, sebuah unit kegiatan yang dinaungi Kantor Mahasiswa Internasional yang bermarkas di gedung H4. Tim Kebudayaan Dunia, yang dipimpin oleh bu Endang Siti Dumilah itu, sering mengadakan kegiatan memperkenalkan kebudayaan dunia kepada anak-anak sekolah dasar dan menengah di seluruh kodya Malang melalui acara presentasi-presentasi budaya di SD, SMP, dan SMA.

Ketika tokoh kita bertemu Danny Cash di gedung pasca Sarjana UM pagi itu, Danny bercerita bahwa istrinya baru saja berangkat untuk memberikan presentasi tentang budaya Amerika Serikat bagian Selatan di SD Dinoyo II bersama para anggota Tim Kebudayaan Dunia yang kebetulan hari itu anggotanya berasal berasal dari Nigeria, Italia, Australia dan Malaysia.

Sementara mereka berbincang-bincang itu, seorang mahasiswa asal Vietnam, Clarissa Hoang, sedang naik mikrolet ke arah pasar besar Malang. Dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar tapi dengan pengucapan sengau gaya Vietnam, dia berbincang-bincang dengan seorang ibu setengah baya yang berangkat ke Pasar Besar untuk beli kain dari toko Nelly yang ada di pasar besar.

One thought on “Andaikan Semua Ini di Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s