Terjemahan sastra akhirnya bisa dihargai sebagai skripsi di Universitas Negeri Malang. Begitulah kabar yang saya temukan dari sebuah status facebook pak Arif Subiyanto beberapa waktu yang lalu. Dari komentasi (aksi berbalas komen) yang mengikuti status update tersebut, ada berbagai pandangan terkait skripsi “kreatif” tersebut: ada yang mempertanyakan karena jurusan Bahasa dan Sastra Inggris sendiri tidak punya profesor bidang penerjemahan (sastra), ada yang berkomentar “enak sekali mahasiswa sekarang” (yang tentunya memandang penerjemahan sastra sebagai sesuatu yang tidak sesulit skripsi dalam pengerjaannya), dan sebagainya dan sebagainya. Tepat esok harinya, waktu nunggu antrian tambal gigi di Puskesmas dinoyo, saya menyempatkan diri nulis komen di HP. Kini, setelah lewat sebulan, saya baru ingat kalau saya pernah nulis komen dan belum menguploadnya di blog. Baiklah:

Tentu ada beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan ketika sebuah jurusan/universitas mengizinkan mahasiswanya membuat karya kreatif (karya rupa, fotografi, prosa, puisi, atau penerjemahan sastra). Dalam posting ini, saya memfokuskan pada penerjemahan sastra dulu. Untuk selanjutnya ya monggo dilanjutkan sendiri-sendiri.

1. Harus ada dasar yang kuat sehingga kegiatan terjemahan ini tidak dijadikan sekadar pelarian bagi yang mentok saat ngerjakan skripsi standar. Salah satu upayanya kira-kira dengan penentuan prasyarat. Di UofA (University of Arkansas, satu-satunya universitas dengan program penerjemahan sastra yang saya kenal cukup baik :D), thesis kreatif dilakukan oleh mahasiswa yang mengambil program creative writing (terdiri dr poetry, prose dan literary translation), performing arts (teater) atau fine arts (patung, lukis). Khusus program Creative Writing, untuk mencapai thesis, seorang mahasiswa harus sudah mengambil sejumlah kelas workshop (tergantung jalur yang mereka ambil masing-masing). Dengan begini, seorang mahasiswa yang mengambil track penerjemahan sastra, misalnya, sudah sejak semester pertama dalam 3 tahun (minimal) masa kuliahnya, mengambil kelas translation workshop. Kelas workshop kira-kira isinya adalah setiap minggu menerjemah beberapa lembar (paling banyak 4) karya sastra, terus diberikan ke teman-teman dan dosen, selanjutnya dibahas bareng-bareng di dalam kelas, biasanya untuk membahas hal-hal yang perlu diperbaiki dari terjemahan. Baru setelah beberapa kali mengambil workshop, dan diasumsikan sudah menyerap banyak ilmu dari hasil pembahasan kawan-kawan/senior-senior/dosen-dosen, mereka bisa mulai mengerjakan thesis penerjemahan mereka. Biasanya, hasil akhir dari thesis ini layak untuk diterbitkan (saya kebetulan kenal beberapa teman yang karyanya (baca=hasil thesisnya) diterbitkan dan diterima pasar (baik itu dari track fiksi maupun penerjemahan). Btw, salah satu hasil workshop saya juga pernah diterbitkan di sebuah jurnal sastra di Amerika lho (ehem-ehem, curcol).

2. Pekerjaan penerjemahan yang dilakukan seorang mahasiswa hendaknya juga tidak sekadar pekerjaan penerjemahan yang dilakukan seorang mahasiswa secara perseorangan. Tetap dibutuhkan peran seorang dosen yang terus menerus mengawal terjemahan, atau dengan kata lain ada dosen yang menjamin kualitas terjemahan. Tentu saja ini bukan berarti memberi beban berlebih kepada sang dosen. Tapi ya, yang namanya pembimbing skripsi, pasti bapak-ibu dosen kita tercinta sudah siap mencurahkan segenap waktu dan tenaganya untuk menjamin kualitas hasil bimbingannya. Sekadar gambaran saja, saya pernah bertemu salah seorang dosen jurusan penerjemahan sastra, Geoff, yang duduk menyendiri di warung kopi Arsaga’s, teras perpustakaan umum Fayetteville, ada kopi di meja dan lembar-lembar kertas HVS dengan isi 2 spasi. Saya berhenti sejenak sekadar menyapa, dan dari situ saya tahu bahwa dia sedang memeriksa terjemahan salah satu mahasiswanya yang sudah siap dipertanggungjawabkan sebagai thesis. Tentu, para dosen ini baru bersedia mencurahkan waktu dan tenaga untuk memeriksa terjemahan itu setelah mereka yakin bahwa si mahasiswa sudah mengikuti sejumlah kelas workshop yang ketat dan, diasumsikan, sudah mempunyai kemampuan menerjemah yang mencukupi untuk dibaca dan diterbitkan.

3. Penerjemahan, yang dilakukan oleh seorang calon SARJANA sastra, hendaknya bukan hanya laku yang murni bergelut dengan mengalihbahasakan. Ada muatan yang besar dalam kata “sarjana” ini. Idealnya aktivitas ini juga melibatkan upaya memahami dan mencari karya sastra. Tentu di sini memahami berbeda dengan yang dilakukan oleh seorang yang murni menulis karya ilmiah. Praktisnya, proses pemahaman ini bisa berupa pemahaman atas karya yang diterjemahkan, karya-karya lain dari penulis yang bersangkutan, atau bahkan pemahaman atas penulis yang bersangkutan. Dengan begitu, diharapkan mahasiswa yang bersangkutan ini punya landasan yang kuat mengapa dia melakukan penerjemahan atas karya tertentu. Hasilnya, seperti yang lazim ditemui pada thesis terjemahan kreatif di UofA, skripsi karya terjemahan itu disertai dengan artikel/esai yang isinya bisa menjadi pertanggungjawaban penerjemahan. Pertanggungjawaban ini bisa berupa penjelasan tentang penulis (terutama tentang kekhasan atau sumbangan yang diberikannya kepada dunia sastra), karya yang bersangkutan, atau bahkan permasalahan-permasalahan khusus terkait proses penerjemahan itu. Dan tentu, yang membuat skripsi terjemahan itu nantinya bisa menjadi sumbangan yang penting adalah bila proyek-proyek penerjemahan ini menawarkan kebaruan. Di sinilah peran aktif mahasiswa dan dosen pembimbingnya diperlukan: mereka akan menjadi hantu-hantu referensi yang harus blusukan dari satu jurnal ke jurnal lain, dari satu majalah sastra ke majalah sastra lainnya. Semua ini guna menemukan karya penting yang sebelumnya masih tidak ada dalam versi bahasa Indonesia. Atau, kalau memang ingin menerjemahkan ulang, hendaknya dia harus menemukan alasan yg tepat utk melakukan proyek penerjemahan ulang (yang sebenarnya bukan tabu dalam dunia penerjemahan, lihat artikel ini) tersebut. Ah, semakin teknis dan cerewet saja si pemimpi ini.

4. Atau mungkin yang terakhir sementara ini, adalah bagaimana mengatur agar hasil karya terjemahan yang nantinya mungkin akan berlimpah itu menjadi sumber daya yang berguna sebagaimana mestinya. Kalau laku penerjemahan itu sendiri sejatinya adalah upaya transfer pengetahuan atau menyampaikan karya yang kalau tidak begitu tidak akan ada dalam bahasa Indonesia, maka kampus pun sebagai penaung bertanggung jawab jg untuk menerbitkan karya-karya terjemahan itu. Atau, kalau terjemahannya benar-benar disertai dengan artikel/esai yang mempertanggungjawabkan proses penerjemahan dan bisa menjelaskan kenapa karya ini memang penting untuk diterjemahkan, semestinya esai ini bisa juga menjadi “proposal” untuk diserahkan ke penerbit. Untuk penerbitan oleh kampus sendiri, sepertinya ada berjuta cara yang bisa ditempuh, mulai penerbitan kumpulan karya terjemahan tahunan dalam bentuk jurnal sastra hingga penerbitan buku elektronik yang berisi karya-karya tersebut.

Sepertinya, sampai di sini saya harus melihat kembali ke masa lalu, melihat bagaimana penerjemahan yang saya lakukan ketika sedang mandek dalam penggarapan skripsi saya itu tak lebih dari sekadar proyek sampingan, yang saya lakukan sendiri. Alhasil, sampai saat ini saya sudah mendengar sejumlah kritik atas karya terjemahan saya tersebut. Saya sangat berterima kasih atas semua itu. Bayangkan saja kalau saya tidak pernah mendengar kritik2 tersebut, jadi sesombong apa saya sekarang? Hahaha… Well, kalau Njenengan sekalian pingin menerjemah ulang karya yang pernah saya terjemahkan? Silakan lakukan error analysis dan mulailah penerjemahan ulangnya😀.

Btw, kok agak tidak adil ya: saya membayangkan skripsi penerjemahan yang digagas jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang UNTUK JENJANG SARJANA dengan program Creative Writing jalur Penerjemahan Sastra di University of Arkansas untuk JENJANG MASTER? Well, bagaimana lagi, lha wong almamater tercinta sudah berani mengambil gebrakan seperti itu yang mungkin belum banyak referensi atau perbandingannya?😀 Tapi ya, tentu saja ini cuman pandangan seorang pemimpi yang, seperti tradisi nusantara, bisa ditawar-tawar. Mana yang dirasa bisa diterapkan ya monggo diterapkan, mana yang rasanya harus dinegosiasikan ya silakan dinegosiasikan. Demikianlah adanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s