Pada hari pertama ketika baru datang ke kampus, dia menemui pegawai di kantor jurusan. Sejak sebelum tiba di kota kecil itu dia sudah mendapat email dari si pegawai jurusan, seorang perempuan rambut hitam berombak yang sangat murah senyum dan mengenakan kacamata persegi panjang dengan frame tebal. Email itu memberitahukan bahwa dia mendapat jatah kotak surat dan kantor. Ketika dia datangi kantor jurusan, barulah dia tahu bahwa kotak surat dan kantor itu berhubungan dengan kunci. Dia akan mendapat tiga kunci: kunci kantor jurusan (tempat kotak surat), kunci kantor kerja (berbagi dengan profesornya), dan kunci pintu belakang gedung bertingkat di mana kantor-kantor itu berada.

Si pegawai jurusan memberinya secarik kertas karton berisi tiga poin, dua nama ruangan dan satu kode pintu belakang. “Silakan bawa ini ke Kantor Kunci buat mengambil kunci yang sampean perlukan,” kata pegawai jurusan yang diselimuti senyum abadi itu. Begitu ada kesempatan dia langsung ke Kantor Kunci. Di kantor kecil yang merupakan bagian dari gedung Fasilitas itu, dia memberikan kertas yang dia dapatkan dari jurusan, menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa, menandatangani secarik kertas tadi, dan kemudian mendapat tiga kunci kekuningan. Setelah itu dia pun pulang sambil menggenjot sepedanya.

Kini dia punya tambahan tiga kunci terbendel di gantungan kuncinya. Sebelumnya di gantungan kunci itu hanya ada tiga: kunci apartemen, kunci kotak surat dan kunci sepeda. Kini, dia punya enam kunci. Entahlah, dia merasa gagah memegang gantungan kunci yang kini isinya sangat banyak itu. Mungkin akses dan kendali membuatnya merasa aman. Apalagi, khusus untuk kunci kantor yang dia pakai bersama profesornya itu memungkinkannya “menguasai” buku-buku yang ada ada di rak milik profesornya itu.

Ternyata, urusan kunci belum selesai. Sebagai mahasiswa pasca sarjana, dia berhak meminta diberi ruangan kecil untuk membaca di lantai tiga dan empat perpustakaan utama kampusnya. Dia dulu memang suka membaca di ruangan itu kalau ingin suasana membaca yang tanpa gangguan. Di ruangan yang lebarnya kira-kira hanya satu kali satu meter itu dia bisa membaca dan menulis tanpa terganggu siapapun. Tapi, buat dia dan teman-temannya, yang lebih penting dari ruang mungil itu adalah karena mereka bisa menggunakannya untuk sholat tanpa merasa risih atau tidak nyaman.

Maka, begitu ada kesempatan dia langsung meminta diberi ruangan tersebut kepada perpustakaan. Dia mengisi aplikasi, dan petugas memberitahunya bahwa kalau disetujui, beberapa hari lagi dia akan mendapat email dari perpustakaan. Akhirnya, setelah genap tiga hari dia pun mendapat email dari perpustakaan yang menyatakan bahwa permohonannya disetujui dan dia bisa mengambil dokumen terkait kuncinya. Maka, dari perpustakaan dia mendapat lagi secarik kertas bertuliskan nomor bilik belajar.

Dia pun kembali mengunjungi kantor kunci untuk mendapatkan kunci bilik belajar itu. Ketika di sana, dia berkesempatan melihat petugas kunci membuka lemari seng yang bergemerincing karena isinya adalah kunci, kunci, kunci dan kunci. Dia juga menginting ke bagian belakang kantor kunci itu. Dia melihat kunci berjajar berbaris-baris, rapi jali, indah sehati. Semuanya kunci. Semuanya menunggu jemputan. Terdengar lagi gemerincing kunci ketika si petugas kunci menutup pintu lemari seng. Ternyata, bukan gemerincing yang dia dengar. Ternyata kunci-kunci itu menyampaikan rasa syukur dan salam perpisahan kepada temannya yang menangis karena aku adopsi.

One thought on “Kunci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s