Dia berjalan menaiki bukit menuntun dua sepeda. Satu sepeda adalah sepedanya sendiri: sebuah sepeda dual-suspension versi murah yang dia beli seharga 60 dolar dari seorang mahasiswa yang membelinya senilai 80 dolar dari mantan roommate-nya yang membeli langsung dari Walmart seharga 160 dollar. Si pemilik pertama menjualnya karena sepeda itu terasa terlalu besar/tinggi buat dia. Pemilik kedua juga begitu. Sedangkan dia sendiri, tokoh kita ini, membelinya karena sepeda itu kelihatan masih baru tapi sangat murah. Sepeda satunya lagi adalah sepeda milik kampus yang dia pinjam beberapa hari yang lalu karena dia harus pulang cepat-cepat dari kampus sementara waktu itu dia berangkat ke kampus jalan kaki.

Yang penting dari cerita ini bukanlah sepedanya. Kedua sepeda itu hanya untuk menunjukkan bahwa dia sedang dalam keadaan lambat tak berdaya. Dia harus menuntun dua sepeda yang terkadang satu ingin ke kanan dan satu ingin ke kiri. Dia juga harus menjaga agar kedua sepeda itu tetap berdiri tegak. Itu yang sepertinya menguras tenaga. Pundaknya kanan kiri terasa kaku dan sakit. Padahal dia baru berjalan dua blok dari apartemennya. Tentu saja, jalan North Leverett Avenue ke arah kampus memang menanjak. Kampusnya berada di atas bukit. Dalam hati, dia merancang kalimat yang akan dia lontarkan andai berpapasan dengan orang dan ditanya apa tidak sulit menuntun dua sepeda seperti itu. Dia akan menjawab: “Nggak juga, bayangkan saja kayak mengajak jalan dua anjing pulang dari taman. Satu pingin ke kanan dan satunya pingin ke kiri.” Dua blok ini–sekarang menjelang blok ketiga–belum ada yang bertanya.

Mendekati ujung blok ketiga, tepat di asrama Chi Alpha Ministry, entah mengapa pandangannya tergiring ke tempat sampah tepat di belakang bangunan fraternity itu. Di dekat tempat sampah itu dia melihat seperti anjing besar berwarna keemasan, coklat-coklat madu, mirip warna singa. Sekilas dia meyakinkan hatinya: oh anjing, sepertinya diikat.

Dia terus perhatikan binatang itu. Dia punya riwayat takut anjing. Dia perhatikan saja sekadar jaga-jaga. Lama-lama dia mulai curiga. Anjing itu tidak terikat. Selain itu, jalannya sangat elok. Dia merasa sangat akrab dengan gaya jalan nan elok itu. Pundak binatang itu naik turun dengan gagahnya. Dia langsung merasa jangan-jangan itu singa gunung. Singa gunung yang turun gunung. Atau setidaknya lepas dari taman safari di Gentry. Lagipula, Arkansas punya riwayat pernah memiliki singa gunung, meskipun keberadaannya saat ini masih diperdebatkan.

Dia sendiri terus menuntun sepedanya menaiki bukit. Dia bersiap, begitu “singa” tersebut menoleh kepadanya atau bersiap mengejar, dia akan segera melepaskan satu sepedanya. Dia putuskan akan melepaskan sepeda kampus, yang meskipun terasa lebih ringan tidak bisa lari lebih cepat karena gir depannya kecil. Oke, dia akan pakai sepedanya sendiri. Dia berencana menggenjot sepedanya naik ke bukit di ujung blok, dan selanjutnya dia genjot terus agak turun sampai di pertigaan dan belok ke kiri karena di situ jalannya menurun. Tidak jauh dari situ, kalau turun terus, dia akan sampai ke bar dan masuk ke salah satunya. Atau, dia juga bisa minta tolong mobil-mobil yang bersliweran sedikit-sedikit itu.

Sambil merencanakan itu semua, dia melihat ke belakang. Dia perhatikan singa itu sudah berjalan melewati rerumputan dan sudah ada di trotoar yang tadi dilewatinya. Singa tidak mengejarnya atau melihatnya. Dia hanya menoleh kanan kiri. Orang-orang seperti tidak ada yang mempedulikannya. Dari arah depan dia melihat seorang pengendara motor gede, gundul, berjenggot, menyapanya. Dia menyapa balik. Dia ingin mengatakan berhati-hati karena sepertinya ada singa di jalur yang akan dilewatinya. Tapi tentu saja tidak ada kesempatan untuk itu. Dia teruskan saja sampai singa itu tidak lagi terlihat karena tertutup punggung bukit. Dia pun semakin aman.

Di pertigaan, dia memutuskan berbelok ke kanan. Jalanan agak naik bukit lagi. Dia berpapasan dengan seorang mahasiswa gondrong berkacamata hitam, berjalan santai. Dia ingin sekali mengingatkan pemuda itu tentang singa yang baru saja dia lihat. Tapi, tentu saja akan konyol kedengarannya. Di film-film Hollywood saja orang akan menertawakan laporan semacam itu, apalagi di kehidupan nyata seperti ini. Akhirnya, dia biarkan dirinya dipapasi. Tapi dia perhatikan terus si gondrong itu sampai dia tiba di pertigaan. Untungnya dia lurus, tidak berbelok ke arah singa. Maka dia pun melanjutkan perjalannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s