Sudah lama sekali saya tahu banyak orang menyukai film Pulp Fiction. Biasanya, orang-orang yang suka Pulp Fiction ini bukan penggemar film biasa-biasa saja. Sebut saja mereka penggemar film berdedikasi tinggi🙂. Saya sendiri ketika pertama kali menonton Pulp Fiction baru dua-tiga tahun yang lalu langsung merasa bahwa film ini bukan film yang biasa-biasa saja. Kesan pertama yang saya rasakan dulu adalah: musik yang unik, perbincangan yang tengil, cerita yang hiperbolik, dan beberapa hal lain.

Kemarin malam, saya tonton lagi Pulp Fiction dari awal hingga akhir, sambil sebisa mungkin membuka hati saya🙂. Sekarang, saya akan mencoba mendaftar hal-hal unik dari film tersebut, yang mungkin, mungkin, mungkin telah membuat para penggemar film berdedikasi tinggi itu menyukai Pulp Fiction dan film-film Quentin Tarantino lainnya (perhatikan, baru pada paragraf kedua ini saya menyebut nama Quentin Tarantino, hehehe… saya bikin seolah tidak penting apakah saya kenal Quentin Tarantino atau tidak). Baiklah, saya akan mulai:

1. Pulp Fiction dipenuhi perbincangan menarik garing tengil garing cerdas garing seolah-olah selalu penting bagi yang terlibat padahal mungkin temanya sepele. Di bagian pembuka film, kita melihat pembicaraan antara sepasang lelaki-perempuan di sebuah restoran tentang pro-kontra merampok restoran dan diakhiri dengan “acara” perampokan. Di bagian selanjutnya kita melihat pembicaraan antara sepasang tukang jagal perlente tentang poin-poin seputar perbedaan antara Eropa (khususnya Belanda) dan Amerika.

2. Pulp Fiction dipenuhi diskusi yang menyerempet-nyerempet gaya hidup dan budaya massa. Banyak bagian dalam diskusinya dengan sadar diri menunjukkan kecenderungan masyarakat kontemporer yang lebih mendefinisikan sesuatu berdasarkan merk-nya. Lihat saja bagaimana Jules si tukang jagal itu menanyakan kepada Brad, salah satu calon jagalannya:

“Makan apa kamu?” tanya Jules.
“Ini lho, burger,” jawab Brad.
“Burger apa?” tanya Jules.
“Burger keju?” jawab Brad.
“Maksudku, burger apa? McD apa Burger King apa bla-bla-bla?” desak Jules terus.
“Oh itu tho, ini … burger Big Kahuna?” jawab Brad.

Model-model perbincangan seperti ini ada di seluruh film. Mereka cenderung menyebut merek, bukan lagi jenis barang.

3. Pulp Fiction bisa jadi merupakan sinonim dari “gaya” atau “style”. Para tokohnya ingin melakukan segala hal tidak hanya dengan serius, tapi juga dengan “gaya.” Salah satu contoh yang paling menonjol dari gejala ini adalah ketika tokoh Butch berhasil meloloskan diri dari penyekapan dan mencari senjata untuk membalas lawan. Dia melihat seisi toko dan menimbang2 senjata apa yang bisa dipakai. Dia temukan palu, dia pertimbangkan pro-kontranya. Kurang memuaskan. Dia temukan graji mesin garing chain saw. Dia timbang-timbang. Sepertinya masih ada yg lebih gaya. Pada akhirnya, dia temukan di atas lemari: Samurai. Nah, ini dia, alat bunuh yang cool. Selanjutnya, ketika dia berhasil kabur pun, yang dia kendarai bukan lagi sedang hatchback Honda, tapi…. Harley Davidson chopper. Amboi gayanya. Saya langsung teringat serial Renegade dan video klip Meat Loaf. Keduanya adalah kisah pelarian yang menghindari kejaran hukum dengan choppernya–sambil membonceng dewi surgawi nan elok.

4. Pulp Fiction dipenuhi dengan selingan-selingan tengil yang menunjukkan kesan adanya hal-hal sepele yang buat sebagian orang merupakan hal-hal yang penting. Kebetulan saya barusan ngomong tentang “chopper”. Ketika Butch menjemput kekasihnya, dalam kegopohan itu, dia berulang kali mengoreksi kekasihnya yang menyebut “chopper” itu sebagai “motorcycle.” Setiap kali si kekasih yang panik itu bilang “motor siapa ini?” si Butch dengan sabar membetulkan “ini bukan motor, sayang, ini chopper.” Sepertinya banyak lagi lainnya.

5. Pulp Fiction adalah kisah tentang betapa lemahnya manusia di hadapan takdir. Tentu saja saya tidak memaksudkan ucapan saya ini sebagai ucapan yang “spiritual”. Saya menggunakan istilah “takdir” karena menurut saya “kebetulan” saja masih kurang untuk melabeli apa yang ada di hati saya tentang kejadian-kejadian di luar rencana yang bertebaran di sekujur film. Tentu, banyak contohnya. Tapi saya ambil dua saja yang paling menonjol. Pertama ketika ada seorang bersenjata tiba-tiba menyembul dari persembunyian dan menembakkan pistolnya lima kali ke arah Vincent dan Jules (si tukang jagal yang saya sebutkan di atas). Lima tembakan yg diperhitungkan dengan rapi itu gagal melukai kedua tukang jagal. Tapi, di kesempatan lain, Vincent yang iseng-iseng menodongkan pistolnya ke seorang tawanan tiba-tiba kaget karena tanpa sengaja pelatuk pistolnya tertarik dan tewaslah tawanan itu.

Kelima hal di atas sepertinya jarang ditemui di film-film lain (khususnya produksi Hollywood), apalagi ditemukan kelima-limanya dalam satu film sekaligus. Apa mungkin ini yg membuat banyak penggemar film berdedikasi tinggi itu menyukai Pulp Fiction. Wallahu a’lam bissawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s