Membaca 168 Jam dalam Sandera karya Meutya Hafid (pasti Njenengan sekalian ingat kejadian tahun 2005 ketika reporter dan kamerawan Metro TV diculik di Irak), saya timbul rasa hormat yang amat besar kepada Meutya. Buku ini bersifat deskripsi yang “berimbang”, tentu di sini saya memakai “berimbang” bukan dalam artian yang biasanya dipakai di bidang jurnalistik. Maksud saya, Meutya semacam ikhlas untuk tidak menjadikan kisah penculikannya ini sebagai sebuah bombasme, sentimental, hiperbolik dll.

Meutya menceritakan penculikannya sebagai sesuatu yang (selain adegan penodongan dan peringkusan) wajar saja. Kalau pun ada yang tidak nyaman dalam “acara” penculikan itu, dari keseluruhan kisah kita bisa menyimpulkan bahwa hal-hal tersebut dikarenakan terdesaknya para penculik itu sendiri oleh kekuatan lain. Dia bergaul akrab dengan penculiknya. Dia tidak merasa dibatasi gerak-geriknya. Dan, terpenting, dia diperlakukan atau bahkan “dijamu” dengan baik layaknya seorang tamu. Bayangkan, sebagai seorang “terculik” dia bisa protes dan bahkan merajuk ke penculiknya.

Meutya yang kebetulan penuh prestasi itu tidak membumbui kisah suksesnya sebagai anchor yang sering ditugasi melakukan peliputan sulit itu dengan bunga-bunga tentang mimpi dan pencapaian keberhasilan. Dia kebetulan berasal dari keluarga terdidik dan mampu, dan karena aksesnya yang bagus atas informasi akhirnya beroleh kesempatan belajar di luar negeri. Dan ketika dia harus menceritakan hari-hari susahnya di Australia sebagai mahasiswa asing yang mendapat wesel minim dari orang tua, dia menceritakannya tak lebih dari satu halaman. Ah, Andai saya Meutya, pasti saya akan bikin bab khusus tentang ini, membayangkan bahwa obsesi terbesar saya untuk menjadi reporter internasional atau apapun lainnya muncul ketika saya direjam masa-masa sulit ini.

Sementara begitu dulu nilai yang bisa saya berikan kepada Meutya atas buku memoar penculikannya ini. Saya yakin, kita semua bisa mengambil hikmahnya, seperti halnya ketika kita membaca buku-buku memoar. Tapi, asyiknya, di sini kita tidak perlu dibuai dulu oleh mimpi-mimpi🙂. Berimbangkah ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s