Dalam sejarah hidup saya, ada hubungan yang naik turun antara sakit dan naik gunung. Pengalaman naik gunung pertama saya adalah ketika entah kelas berapa (kalau tidak salah antara kelas 1 – 3 SD) saya ikut acara pendakian dari SD Purwojati I Kec. Ngoro (SD tempat bapak saya waktu itu menjadi guru) sampai ke pemandian Jolotundo. Yang selalu ada di ingatan saya adalah jalan yang naik turun tiada henti, tapi saya berhasil sampai ke tujuan. Saya juga ingat menceritakan perjalanan naik gunung pertama kali itu kepada Yoyok, teman main masa kecil. Dalam cerita itu, saya peragakan naik turunnya jalan menuju air terjun Jolotundo.

Kelak, ketika saya sudah kelas 1 di SMPN I Krembung, saya tahu teman-teman saya yang ikut ekstrakurikuler Pramuka berlatih agak keras selama beberapa bulan, karena mereka ingin naik gunung Penanggungan. Banyak sekali teman-teman saya yang biasanya bukan anggota pramuka langsung ikut. Syaratnya adalah menyerahkan surat kesediaan dari orang tua. Saya minta bapak ibuk saya menandatangani surat kesediaan itu, tapi mereka tidak memperbolehkan saya karena saya sering sakit sesak nafas. Seingat saya sakit sesak nafas itu dimulai ketika saya masih kelas 4-an SD. Akhirnya, ya… saya terpaksa hanya menikmati cerita-cerita dari teman-teman saya ketika mereka menceritakan bahwa mereka habis naik gunung yang sebenarnya terlihat sangat jelas dari sekolah saya itu.

Sejak itu, tidak ada yang namanya acara naik gunung. Saat di SMA pun, saya tidak pernah ikut acara pramuka saat mereka mengadakan pendakian ke gunung-gunung. Saya hanya mengikuti cerita mas Arif TP (seorang kakak kelas dan karib di tempat mengaji). Dia menceritakan bahwa dia pernah naik ke gunung Raung, di mana dia dan teman-temannya sesama pendaki SMA terengah-engah sementara para tentara yang berlatih seperti tidak kerepotan sama sekali saat mencoba mendaki gunung tersebut. Dia juga bercerita tentang jalan kaki mulai Pacet sampai Batu. Mulai jalan dan tidur di pinggir jalan hingga memakai baju kotor sambil jalan-jalan di kota Batu.

Ah, sungguh saya sangat iri waktu itu. Saya hanya tahu bahwa orang tua saya khawatir sesak nafas saya kumat saat kami jauh di dalam hutan. Meskipun ketika SMA itu sesak nafas saya hampir tidak pernah kambuh, kemungkinan besar karena rajin latihan Kungfu (sebenarnya sih, aliran silatnya disebut Okinawate atau Serikat Ilmu Karate Kungfu/SIKAFU) dan latihan pernafasan Taichi secara rutin. Sesak nafas saya baru mulai kambuh lagi ketika saya sudah mulai jarang berlatih beladiri dan, khususnya, pernafasan Taichi.

Uniknya, pada saat itulah saya mulai kenal naik gunung, seiring perkenalan saya dengan kebebasan, karena mulai hidup terpisah dari orang tua. Pada liburan semester pertama kuliah, saya dan beberapa teman akrab, Nasim, Dian, dan Heru, ingin naik ke gunung Penanggungan, gunung yang terlihat dari depan kampung saya tapi tidak pernah saya capai puncaknya. Oh ya, sekedar info, dua tahun pertama dalam saya saya tinggal di desa Belik Kec. Trawas, desa yang sawah-sawahnya langsung berbatasan dengan hutan gunung Penanggungan. Nah, tambah ganjil kan rasanya kalau saya belum pernah mencapai puncak gunung itu?

Begitulah, akhirnya pada liburan semester ganjil itu saya ke Trawas dan minta bantuan seorang teman seumuran di Trawas untuk mengantarkan kami ke gunung Penanggungan. Ketika itu saya sudah mulai jarang olah raga. Liburan semester ganjil tahun 98/99 itu nyaris berdekatan dengan hari raya Idul Fitri, yang jatuh pada bulan Desember. Saya ingat, beberapa hari setelah idul fitri saya menyempatkan diri lari-lari sore dengan harapan untuk melatih fisik saya. Tapi baru lari seratus meter di pinggir Kali Kanal, di sebelah selatan pabrik gula Krembung, saya sudah merasa super ngos-ngosan, akhirnya tidak pernah lagi saya coba lari sore.🙂

Tepat pada saat pendakian itu, ternyata gunung Penanggungan adalah medan yang tidak main-main. Baru lima belas menit berjalan, rasanya saya sangat ngos-ngosan. Apalagi, waktu itu penunjuk jalan kami (Wir, anak yang seumuran dengan saya itu) sepertinya menggunakan ritme jalannya yang biasa. Kira-kira setengah jam setelah mulai naik itu, saya langsung merasa berkunang-kunang. Segala yang ada di sekeliling saya menjadi putih, putih silver metalik. Ah, saya tahu kalau saya akan pingsan. Saya minta teman-teman saya untuk berhenti sebentar, saya langsung mengambil posisi rukuk. Saya pejamkan mata, takut jangan-jangan pemandangan semakin mengerikan. Nafas saya tersengal-sengal luar biasa. Wir, langsung memberi saya air, menyuruh saya duduk, menenangkan diri dulu sejenak. Sekitar lima menit kemudian saya berani membuka mata. Kali ini semua tampak cerah. Nasim, Heru dan Dian antara cemas dan pingin ketawa melihat tingkah saya saya.

Sesudahnya, kami mulai lagi perjalanan. Saat itu, saya terus-terusan merasa sakit di ulu hati (istilah Jowo-nya “Suduken”). Tapi saya tidak berhenti. Entah, apa yang membuat saya enggan menghentikan pendakian. Sebentar-sebentar saya berhenti, tahu diri. Tapi saya sangat menikmati apa yang terjadi selama perjalanan itu. Saya lihat Wir memasang jaring di pepohonan-pepohonan terakhir sebelum memasuki kawasan Ilalang kering dan tanah berpasir mendekati puncak penanggungan. Wir memasang jaring itu untuk menangkap burung. Saya lihat juga bagaimana kami mendaki dengan merayap saat ada di bagian yang dekat puncak itu. Saya lihat ke bawah dengan agak-agak ngeri, kemiringan yang dahsyat, tanah berpijak yang hanya tanah, pasir, kerikil dan batu yang sangat murah longsor. Saya ingat bahwa di pikiran saya saat itu adalah “setelah ini tidak akan lagi saya naik gunung.” Saya ingat betapa senangnya kami saat mulai menemukan gua-gua batu ketika semakin mendekati puncak. Dan, yang tak kalah membahagiakannya adalah betapa senangnya saya ketika akhirnya kami benar-benar mencapai puncak Penanggungan, ketika saya tahu bahwa di atas situ ada sebuah konstruksi beratap seng yang konon dihuni seorang anggota Koramil atau semacam angkatan bersenjata. Saya lihat tower yang dari bawah hanya terlihat seperti ujung jarum. Saya takjub ketika mendengar dari Wir bahwa tentara yang tinggal di puncak Penanggungan itu seringkali turun ke bawah kalau ingin minum (karena Penanggungan adalah gunung yang “miskin” air).

Pada saat berada di puncak itulah saya tahu: SAYA INGIN MERENGKUH PUNCAK-PUNCAK LAIN. Ketika itu di sebelah selatan gunung penanggungan terlihat jelas Gunung Arjuno dan Welirang. Saya sadar diri bahwa saya adalah yang secara fisik paling lemah dalam pendakian pertama saya itu. Tapi saya tahu semua orang punya hak berada di ujung-ujung pasak dunia. Tak terkecuali siapapun!

Sepertinya akan sangat tepat kalau saya akhiri dulu cicilan tulisan ini di sini…. ketika saya sadar bahwa SAYA INGIN MERENGKUH PUNCAK-PUNCAK LAIN!

One thought on “Naik Gunung dan Sakit (1)

  1. Weh..seneng. Cuma 2 puncak yang pernah kutaklukkan, Bromo ketika masih jaman di UKM ama anak HMP ama anak German. Lalu yang sangat terkesan ketika SMA, lucunya kami gak tau klo itu bakal pendakian sehingga salah satu seniorku masih pake rok. Yg kutau sekedar ikut teman, katanya tamasya mrngasyikkan..walah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s