Barusan saya nelpon petugas di kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jl. Raden Intan. Begini pembicaraan saya:

“Assalaamualaikum, Pak?”

“Waalaikum salaam. Bisa saya bantu? Dari mana ini?”

“Ini dari ***, Pak. Dari Malang sini saja. Ini lho pak, anu, saya mau tanya status-nya Semeru.”

“Oh, kalau lihat di page facebook-nya sih, Mas, masih ‘in an open relationship.’ Kalau sampean gimana?”

“Saya sih sudah–eh, kok status itu? Maksud saya kemarin kan katanya Semeru habis ngeluarkan material vulkanik (saya mencoba menggunakan bahasa yang tidak menyinggung).”

“Oh, sedikiiit, batuk-batuk saja, sekarang sudah nggak kok.”

“Oh, gitu ya pak.”

“Iya, Mas. Namanya juga pergantian musim, kan wajar kalau batuk pilek begitu.”

“Iya juga sih, Pak. Saya juga nih.”

“Nah, kan? Hahaha…”

“Jadi kalau saya mau ke Ranu Kumbolo gitu aman ya, Pak?”

“Pendakian diperbolehkan sampai ke Kalimati.”

“Oooh begitu ya, Pak?”

“Nggih, mas. Ada lagi?”

“Ngaten mawon, Pak. Matur nuwun. Assalaamualaikum.”

“Wa’alaikum salaam. Selamat mendaki, Mas.”

Ceklik. Telepon pun saya tutup. Saya lihat Edelweis berseri di puncak itu. Di puncak hati dengan ketinggian 3676 mdpl. Tapi anehnya hawanya hangat, dan matahari terbit tiada henti. Ciyyeeeh2011x.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s