Sudah lah. Jangan terlalu khawatir kalau anak-anak atau adik-adik kita suka nonton animasi kayak Backyardigans, Finding Nemo, Toy Story, atau Despicable Me. Mereka juga banyak baik-baiknya kok, ada ajaran-ajaran eksplisit di dalamnya. Contoh ya: di Backyardigans selalu ada ajaran untuk tidak bersikap jahat (para makhluk dongeng dalam episode ‘Escafe From Fairy Tale Village’ bilang “kami memang besar dan kuat, tapi kami tidak memakan pengantar koran, karena itu tidak baik” dan anggota geng motor dalam seri valentine bilang “kami kuat dan cepat, tapi kami baik, we’re the do-gooders), di Toy Story 3 juga begitu (ingat scene ketika Woody kabur lewat kamar mandi, di situ meskipun sedang buru-buru dia tidak lupa meletakkan tisu dulu sebelum naik ke atas toilet duduk). Sebenarnya contohnya bisa lebih banyak lagi. Yang jelas, mereka tidak lupa mengajarkan yang baik-baik kok.

Yang akan saya obrolkan kali ini bukan lagi ajaran-ajaran kebaikan dari film animasi buat anak-anak kecil, tapi potensi yang bisa direnungkan dari film-film animasi buat kita yang nemani anak-anak nonton. Ya, biar kita juga bisa ikut mengambil hikmah dari film animasi lah. Baik, yang jadi fokus saya adalah film Despicable Me yang dirilis kira-kira pertengahan tahun lalu. Meskipun film ini berkisah tentang persaingan antar penjahat, tapi banyak sekali hal yang bisa jadi bahan renungan buat kita-kita non-pejahat ini. Apa saja? Pokoknya, saya berani berargumen bahwa Despicable Me mengajarkan untuk tidak begitu saja menerima apa-apa yang indah di hadapan kita. Untuk jelasnya, mari ikut saya.

Despicable Me, sejak pertama sekali, menunjukkan bahwa misteri hanya mampu disibak oleh dia yang tidak lurus-lurus saja sikapnya. Di scene pembuka, terdapat sekelompok turis Amerika (mungkin orang Amerika udik dari kawasan selatan, karena di situ yg dijadikan soundtrack adalah lagu Lynyrd Skynyrd Sweet Home Alabama, yang setiap kali dipakai sebagai soundtrack dalam film selalu untuk memberikan kesan southern, udik, kampungan, ingat misalnya adegan joged-joged dalam film Con Air) yang mengunjungi piramid Giza. Si bapak repot foto-fotoan berlagak menjunjung piramid, di luar pagar pengaman. Sementara itu, si anak kecil yang sulit dikendalikan orang tuanya lari ke bagian yang tidak diperbolehkan didatangi pengunjung, lolos dari perhatian ibunya sekaligus penjagaan aparat keamanan. Tapi, ujung-ujungnya tingkat anak kecil inilah yang membuat semua orang tahu bahwa piramid Giza telah dicuri dan yg ada hanya piramid karet berisi angin. Kalau dipikir-pikir, kalau si bapak itu tidak terlalu udiknya minta istrinya memotretnya penuh gaya di depan piramid, tidak mungkin si ibu lengah dan lupa anaknya yang super sulit dikendalikan itu. Dan kalau si anak yg sulit dikendalikan itu tidak menerobos batas-batas yang sudah ditetapkan oleh aparat (semacam dilarang mendekati dan menyentuh piramid, pasti orang-orang itu tidak akan tahu bahwa sebenarnya piramid kecintaan mereka telah dicuri. Semua misteri, sebuah kejahatan besar, tidak diketahui ironisnya karena semua orang telah mematuhi peraturan dan bersikap baik-baik saja. Itu baru yang pertama.

Despicable Me juga menunjukkan bahwa fungsi lebih penting dari tampilan (dan merk). Mari kita ingat, kita para eksponen Generasi F ini seringkali sulit menghindarkan diri dari pesona tampilan dan merk dagang. Gampangannya adalah soal handphone. Meskipun sama-sama bisa dipakai internetan, bertelpon dan bersms, kebanyakan dari kita (termasuk saya hehehe) akan memilih Nokia daripada HP mocin (ya… model-model HP Cross dan teman-temannya itu lah). Meskipun HP-HP mocin itu bisa dipakai nonton TV dan dual SIM Card dan jauh lebih murah, tiga hal yang sulit ditemukan di HP-HP Nokia. HP China itu rasanya cheesy dan takut nggak tahan lama, begitu mungkin alasan kita. Tapi di dalam hati terlintas pikiran “Iya, HP ini kesannya cheesy dan harganya murah, dan ORANG TAHU KALAU HP INI MURAH.” Dan lagi, sudah banyak orang bilang bahwa what we wear defines who we are; merk sepatu, baju, handphone, mobil dll define who we are. I NIKE up (CONVERSE up, D&G up, BB up, NOKIA up), therefore I am. Kira-kira begitu ilustrasi dari saya tentang kita (berdasarkan pengamatan atas diri saya sendiri :D).

Bagaimana dengan Despicable Me?

Di film ini, kita bisa lihat tokoh (penjahat) kita mengendarai mobil yang bentuknya mirip kapal selam, kulit luarnya agak kasar dengan lembar-lembar plat yang sambungannya terlihat jelas dengan keling (mengingatkan saya pada supercopter Airwolf yang kalau dilihat dari dekat penuh plat besi yg disambungkan keling-keling rata), dan tanpa merk. Kendaraan itu tidak mulus mengkilap seperti Ferrari-nya suami Melinda Dee. Kendaraan itu berbeda dengan kendaraan yang biasanya dipakai para pimpinan kriminal di film-film pada umumnya (biasanya kendaraan mereka kalau nggak sedan sport minimal Ferrari atau apa lah ya limosin yang super nyaman, yang memungkinkan mereka ngobrol strategi sambil minum champagne). Tapi yang pasti kendaraan unik Gru ini lebih fungsional, dan mesin pendorongnya jet, yang memungkinkannya melesat secepat pesawat tempur klasik F-16 Fighting Falcon yang juga memiliki pendorong jet tunggal itu. Dan Gru oke-oke saja dengan kendaraan yang tidak indah itu, bahkan dia bisa dengan gampangnya menyorong-nyorong mobil orang sampai penyok tanpa takut mobilnya sendiri penyok. (Memang keunggulan yg terakhir ini agak nakal, sih. Jangan lupa bilang ke si kecil “kalau punya mobil bagus jangan suka ngrusak mobil orang lain ya? Itu Gru masih nakal, mungkin nanti dia jadi baik, mungkin lho ya.” :D). Buat Gru, urusannya jadi: aku bangga karena apa yang bisa kulakukan, bukan aku bangga karena apa yang aku punyai–meskipun yg kita punyai bisa melakukan banyak hal). Sedikit banyak, mungkin bisa dihubungkan dengan iklan NOKIA, it’s not the technology, but what we can do with it matters.

Despicable Me, yang tak kalah pentingnya, menunjukkan kepada kita lagi kekuatan dari apa yang kita miliki, bukan kekuatan dari hasil pinjaman. Di jaman ini, kita banyak menghargai orang yang berani mengambil resiko meminjam dari bank untuk memulai sebuah usaha. Banyak sekali orang-orang yang berhasil dengan cara seperti itu. Pinjaman dari bank berhasil digunakan dengan efisien dan terukur, bisnis berjalan, sebentar saya balik modal, dan selanjutnya memanen kekayaan. Tapi ya, tidak semua berhasil seperti itu. Banyak juga orang yang gagal menggunakan modal pinjaman itu. Dan ujung-ujungnya, jika tidak dapat melunasi pinjaman, bank akan dengan mudah menyita properti kita. Dan bank seringkali sangat kuat dalam kasus-kasus seperti ini. Setidaknya begitulah yang sering terjadi Amerika Serikat sebagaimana bisa kita lihat di film dokumenter Capitalism: A Love Story karya Michael Moore. Di dunia hari ini, di mana uang tanpa kita sadari sudah menjadi sesuatu yang seolah-olah tak mungkin dipisahkan dari dunia. Mustahil kita membayangkan ada sebuah dunia tanpa uang. Segalanya direduksi menjadi uang. Semua diberi harga: barang, pikiran, cinta, tenaga dan lain-lain. Karena itulah, yang berkuasa adalah yang memiliki uang dan yang bisa meminjamkan uang. Salah satu eksesnya adalah ketika orang malah lebih senang meminjam uang demi memberinya kenyamanan dan (seolah-olah) kebahagiaan daripada berpuas dengan segala harta benda yang dimilikinya. Kira-kira mungkin seperti itu motif yang mendasari ketika seseorang meminjam uang dari bank dan menyerahkan sertifikat propertinya sebagai jaminan.

Despicable Me memberi menunjukkan di awal cerita betapa penting arti memiliki modal cair, uang, dalam kehidupan dewasa ini. Kecenderungan ini ditunjukkan dengan adanya Bank of Evil, bank yang khusus dijalankan oleh, dari, dan untuk penjahat dan kejahatan. Gru, tokoh jahat kita bersama, menuju Bank demi melakukan kejahatannya. Dia butuh pinjaman modal untuk membangun pesawat luar angkasa untuk terbang ke bulan. Mungkin memang itu yang akan terpikir oleh banyak orang. Anda butuh uang, pergi ke bank. Dan ketika dua kali permohonannya ditolak oleh Bank, padahal dia sudah menunjukkan keunggulannya (nah, ini dia pertentangan antara uang dan kemampuan), Gru putus asa tak habis-habisnya. Hidupnya seolah tak berguna lagi (padahal dia punya kemampuan, dia punya ilmuwan yang bisa membuat nyaris segala teknologi yang dia pesan, dan ratusan antek-antek setia, dll), hanya karena dia tidak mendapatkan uang yang dia butuhkan untuk membuat pesawat luar angkasa. Justru para antek-anteknya, makhluk kuning tak jelas jenis kelaminnya itu (atau mungkin juga tidak [perlu] punya kelamin, ini akan kita bahas tersendiri nanti) yang menyadarkannya. Para antek ini mengumpulkan harta benda mereka, mulai dari uang recehan, sofa, sampai mahkota yang entah telah mereka curi dari istana mana (sepertinya sih Perancis :D). Mereka mampu menunjukkan bahwa kalau dicari-cari, setiap orang itu punya potensi, dan kalau potensi ini diseriusi maka man jadda wajada kata A. Fuadi😀. Siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses. Dan tidak perlu lagi menggantungkan diri pada pemilik modal yang biasanya hanya mau meminjamkan dengan imbal balik yang jelas tapi jumlahnya bisa tak terbatas (bunga pinjaman).

Despicable Me menampar saya. Begitulah, tanpa sadar dia membisikkan kepada saya, jangan terlalu mengejar uang. Bukan kebetulan kalau saya menyadari hal ini persis ketika saya sedang bekerja, sedang mengetik mencari duit dengan kecepatan 80 kata per menit, mengumpulkan rupiah demi rupiah demi sesuatu. Ah, bisikan itu menampar. Menampar saya yang terlalu terpancang pada uang.

Despicable Me, selain kedua hal tadi, juga menyindir kita kaum laki-laki yang terlalu menganggap diri kita berbeda dengan perempuan. Memang sudah bukan jamannya lagi menganggap perempuan lebih rendah daripada laki-laki, thanks to Ibu Kita Kartini kalau di Indonesia. Hampir semua lelaki terdidik sudah menyadari itu: laki-laki dan perempuan itu sama. Tapi, tetap saja banyak laki-laki tidak mau disamakan dengan perempuan. Contoh ekstrim: saat seorang balita keluar rumah tidak memakai sandal, seorang tetangga bertanya “Kok mas Lintang nggak pakai sandal?” dan pak Misdi, bapak si Lintang, biasanya akan menjawab “Ndak papa bu, wong anak laki-laki saja, biar kuat.” Nah lho, seolah-olah, hanya anak laki-laki yang bisa kuat seperti itu. Contoh non-ekstrim, kalau seorang mahasiswa ingin beli jas hujan ke Indomaret dan tersisa hanya satu, warna pink, akan besar kemungkinannya dia akan pergi ke Indomaret yang lain. Karena pink adalah “warna cewek.” Begitulah, “adat” global ini telah membuat laki-laki kehilangan warna pink. Warna pink hukumnya haram buat laki-laki.

Despicable Me menunjukkan bagaimana Gru tidak lagi terpenjara oleh konstruksi sosial yang membentuk indentitas laki-laki dan perempuan. Ada beberapa scene yang menunjukkan ini. Yang paling menonjol adalah baju astronotnya. Baju astronot yang semestinya berwarna putih (kalau melihat konvensi NASA dan kebanyakan proyek antariksa–meskipun pernah ada yg berwarna oranye, yang dipakai oleh Yuri Gagarin, dan kemudian ditiru angkasawan dadakan di film Armageddon) di film Despicable Me menjadi berwarna pink karena kelunturan baju-baju balet Margo, Edith dan Agnes. Bagaimanapun, buat Gru itu bukan soal yang serius. Dia tetap mengenakannya dengan bangga. Bayangkan, Gru sang “greatest criminal mind of the century” yang berwajah mengerikan itu (seperti kata Agnes) dengan gagahnya mengenakan baju astronot warna pink. Buat Gru belakangan: what’s wrong with pink? Toh, warna kuku kita juga pink. Lidah kita juga.

Apakah kita bisa seperti Gru, yang bisa tidak memilah-milah mana yang untuk pria mana yang untuk wanita? Dia memakai celemek dan memasak untuk anak-anak adopsinya. Dia membacakan cerita dan menemani tidur anak-anak adopsinya. Dia (berusaha) datang ke acara pementasan balet anak-anak adopsinya (Apakah kita para bapak sudah bisa datang ke TK menemani anak kita yang sedang ada lomba menggambar ketika ibunya tidak bisa ikut? Apakah kita para bapak ini yang mencuci piring di rumah?) Semoga Anda iya. Kalau tidak–atau belum–mari bareng-bareng sama saya nonton Despicable Me dan mendengar wejangan Gru, agar kita berubah.😀

Sementara, karena saya sudah mengantuk, tiga poin itu saja dulu lah yang ingin saya kemukakan tentang bagaimana Despicable Me (dan banyak film animasi lain) adalah sebuah pedang bermata dua. Dia menghibur dan memberi ajaran buat anak-anak, tapi juga berpotensi mengajak berpikir para orang tua yang menemani mereka menonton (atau menonton sendiri tanpa disuruh siapa pun :D). Mengajak berpikir. Mengajak berkaca. Mengajak menelanjangi betapa perlu diajarinya kita. Ah, mungkin bukan kita. Mungkin cuma saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s