nah, saya sendiri kalau memang ingin nulis postingan blog tentang novel 9 summers 10 autumns suatu saat nanti, mungkin akan membandingkan novel ini dengan novel sejenis lainnya, dan menyoroti sejumlah perbedaannya.

tapi sebelum masuk ke inti, kira-kira begini saya akan mengawali resensi/postingan blog itu:

seorang lelaki berkisah kepada seorang bocah kecil misterius di new york. kisahnya panjang. dia berkisah bahwa dia adalah seorang anak sopir angkot yang hidupnya serba mepet dan minimalis, awalnya tumbuh menjadi anak yang agak minderan di sekolah. tapi terinspirasi kakak-kakak perempuannya yang belajar keras. dia pun keras belajar dan hobi juara kelas. akhirnya, dia pun berkesempatan kuliah di kampus ternama. selulus kuliah, dia mendapat kerja bagus di sebuah perusahaan multinasional. seiring bergulirnya waktu, dia mendapat tawaran untuk menduduki sebuah posisi penting di kantor new york perusahaannya. dia pun menjalaninya. di new york inilah dia bertemu si bocah misterius. karirnya menanjak terus hingga dia menduduki sebuah kursi direktur di new york itu.

setelah membaca sinopsis itu, manakah pilihan berikut yang tepat menurut anda tentang kisah ini?

a) pernah ada sebelumnya.
b) termasuk dalam jajaran kisah-kisah inspiratif.
c) penulisnya pernah/berpotensi diundang ke kick andy.
d) best-seller.
e) semua jawaban di atas benar.

mungkin anda akan memilih opsi e. boleh saja. tapi, sebelum anda memilih, perkenankan saya sedikit membahas kemiripan dan perbedaan novel ini dengan dua sejawatnya.

kemiripannya, ada kecenderungan meleburkan atau “mengaburkan” perbedaan antara protagonis dengan penulis, misalnya dengan menyamakan alur hidup dan sejumlah besar detil, hingga menyamakan nama (membandingkannya dengan ikal hirata). ditambah lagi, selalu ada tulisan “terinspirasi” kisah nyata dan erat kaitannya dengan kick andy.

untuk perbedaannya, ada sejumlah hal yang menonjol:

pertama adalah bentuk keseluruhan kisah yang lebih menyerupai ringkasan kejadian-kejadian besar dalam hidup. ini berbeda dengan kecenderungan andrea hirata yang lebih menyukai penceritaan mendetail atas momen-momen tertentu di masa kecil ikal, masa remaja, masa kuliah, dan masa pra-kerja. 9 summers menceritakan keseluruhan rentang protagonis mulai kecil sampai besar sekaligus dalam bentuk semi ringkasan. bisa dibilang hanya sedikit bagian novel ini yang menceritakan kejadian-kejadian tertentu dalam hidup si tokoh secara mendetail. tapi, hal sepertinya sesuai dengan gaya naratif yang, dari sudut pandang tertentu, bisa disebut “dialog”, yang akan saya bahas berikut ini.

kedua, beberapa kisah inspiratif yang menjadi best seller sebelumnya cenderung menggunakan gaya naratif alur wajar-wajar saja, i.e. dimulai di masa kecil dan diakhiri di masa agak besar, sementara 9 summers memilih menggunakan “gaya”. si protagonis tidak hanya menceritakan perjalanan dari awal hingga akhir, atau seperti seseorang yang seolah mengingat-ingat masa lalu hingga masa kini, tapi dia memilih menyajikannya kepada pembaca lewat “dialognya” dengan si bocah baju merah-putih, dengan keluarganya (lewat email), kepada ibunya (lewat email via adiknya), kepada keponakan-keponakannya (lewat email via saudaranya), dan kepada pembaca secara langsung. dan alur cerita juga seperti paralel. dengan model dialog seperti ini, jadi masuk akallah kalau cerita seperti berbentuk “ringkasan,” sebab tentu saja tidak mungkin orang bercerita secara mendetail tentang masa lalu dengan menyertakan detil-detil yang renik.

ketiga, kalau trilogi laskar pelangi dan negeri 5 menara mengisahkan tentang orang yang menganggap sekolahnya di luar negeri sebagai salah satu tonggak sukses dalam hidup, novel ini mengisahkan “kerja” di luar negeri, mengungguli para lulusan luar negeri ketika berkantor di indonesia, dan menjadi jujugan belajarnya orang luar negeri ketika bekerja di luar negeri sebagai bukti sukses. menurut saya ini yang sangat berpotensi mengangkat moral bangsa . ada kalanya saya curiga dengan andrea hirata yang begitu mengagungkan sorbonne dan mentalitas barat (seperti misalnya di edensor, yang benar-benar menunjukkan inferiority complex negara dunia ketiga [amerika selatan dan indonesia] plus india [nggak tahu masuk kategori apa india ini :D]) dan sangat besar kemungkinannya dijadikan senjata para orientalis jika diterjemahkan ke dalam bahasa inggris. di sini, iwan menjadi orang indonesia yang bukan saja tidak mendapatkan keunggulan kinerjanya dari ajaran barat, tapi bahkan sampai menjadi orang yang dituju kalau orang-orang barat itu butuh tambahan ilmu. sepertinya itu poin plus.

yang terakhir, masih berhubungan dengan gaya, adalah penggunaan dialog bahasa inggris yang ekstensif pada saat diperlukan, i.e. ketika yang berbicara londo atau orang indonesia yang tinggal di amerika. tapi ada satu bagian yang menurut saya menarik: yaitu di halaman 171, ketika dia bilang “ibu, wis tak transfer yo, gak akeh sih” dan mengatakannya lagi dalam bahasa indonesia. ini dia uniknya, kalau bahasa inggris, dia tidak perlu repot-repot menjelaskannya kepada pembaca, tapi kalau bahasa jawa, dia merasa perlu (atau dipaksa editor? :D) untuk menjelaskannya (mungkin dengan asumsi bahwa tidak semua pembaca indonesia tahu artinya atau bisa menggoogletranslatenya kalau tidak tahu :D). roland barthes atau jacques derrida kayaknya bisa bikin satu artikel jurnal dari bagian ini saja. hahaha..

jadi begitulah… mengutip sebuah penutup esai di lembar kehidupan kompas puluhan tahun yang lalu tentang film india yang haram hukumnya menggunakan tarian yang sama untuk film yang berbeda, saya juga ingin bilang tentang novel ini: Cerita Boleh Sama, Tapi Joget Harus Beda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s