Setelah membaca Anak Kesembilan untuk kesekian kalinya, akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa motif penting yang tak sedikit pun terucap dalam novel tersebut adalah sodomi. Beberapa hal yang sangat menonjol sekaligus tidak menonjol, yang muncul berulang kali secara samar-samar dalam cerita, yang mendasari kesimpulan saya tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

Pertama, kisah dibuka dengan mimpi buas, yang mengisahkan bagaimana si tokoh kita membantai tiga anak (masih belum jelas di sini siapa mereka, apakah mereka temannya ataukah bukan, berapa usia mereka, dst., si tokoh kecil kita hanya satu bahwa salah satu dari mereka bernama Perec) di sebuah danau, dan dia melakukannya dengan berani (ada kutipan “dalam mimpi itu aku pemberani”), dan dia puas dengan itu (Barnas 7-8). Saya mereka-reka bahwa ada kejadian penting dalam kehidupan nyata si tokoh yang membuatnya bermimpi sedemikian rupa. Dan lagi, kemungkinan bahwa mimpi ini merupakan sublimasi dari suatu kejadian nyata didukung oleh adanya mimpi-mimpi lain di sekujur cerita yang kuat indikasinya merupakan sublimasi dari kejadian-kejadian nyata. Jadi, mimpi-mimpi lain yang “terinspirasi” kejadian nyata yang diceritakan kepada pembaca merupakan support system untuk mimpi pembantaian yang kejadian nyatanya belum diceritakan kepada pembaca ini.

Kedua, tokoh kecil kita ketakutan melihat adegan “kawin” padahal dia sendiri belum memahami konsep seksualitas. Tokoh kecil kita ketakutan setengah mati ketika dia menyaksikan di hadapan matanya adegan “dua anjing yang saling memunggungi dan melolong” (20). Sekilas saja kita akan tahu bahwa yang dimaksud di sini adalah anjing kawin. Banyak dari kita tahu bahwa pada saat kawin, kemaluan anjing jantan membesar dalam liang kemaluan anjing betina, sehingga kedua anjing menempel terus hingga beberapa saat (bisa mencapai 30 detik). Di YouTube kita bisa melihat bahwa meskipun “posisi kawin” pada awalnya adalah bertunggangan, biasanya setelah beberapa saat posisi anjing bisa berubah, tapi tetap menempel. Salah satu yang umum adalah mereka “saling memunggungi.” Sekedar sorotan, mungkin lebih tepatnya adalah “saling membelakangi” karena yang menempel adalah pantatnya, bukan punggungnya, dan mungkin ini bisa dijadikan pertimbangan buat penerjemahnya yang menerjemahkan “saling membelakangi” dari frase bahasa Inggris “backed up against each other.” Si tokoh kita ketakutan setengah mati, padahal teman-teman seumurannya seperti senang melihat kejadian itu. Saya berargumen bahwa anak ini takut karena pernah melihat hal seperti itu terjadi pada dirinya. Tapi tentu saja argumen saya ini baru masuk akal setelah kita memahami secara keseluruhan hal-hal yang mendukung adanya sodomi dalam novel ini.

Perlu ditegaskan di sini bahwa anak ini tidak memahami konsep seksualitas ketika adegan yang dilihatnya ini terjadi. Buktinya adalah: 1) dia suka “bergelung” dengan Bubu kakaknya di dalam kamar bersama adik-adiknya yang lain dan ibunya melarang, tapi dia tidak tahu kenapa ibunya melarang, 2) dia ingat dengan jelas bagaimana ibunya melarang dia dan saudara-saudarinya yang lain membuka baju di hadapan satu sama lain, tapi dia tidak tahu kenapa ibunya melarangnya seperti itu, 3) dia tahu bahwa kakaknya pernah menyukai seorang pater di sekolahnya tapi dia memahami kesukaan si kakak itu berdasarkan pengalamannya sendiri yang menyukai (dan selalu merindukan :D) bu Vera karena suaranya yang indah, 4) dia tahu bahwa ibunya dan seorang komponis saling mencintai tapi dia menjelaskan bahwa saling mencintai berarti suka menyanyi dan bermain piano bersama. Jadi, konsep seksualitas tidak mendasari pemahamannya atas hal-hal yang secara umum, menurut pandangan orang dewasa, berhubungan dengan seksualitas.

Ketiga, si tokoh kecil selalu memahami kekerasan dari teman-temannya dengan kesadaran bahwa dia pernah mengalami yang lebih menyakitkan dari itu. Di sepanjang cerita, tokoh kecil kita beberapa kali menerima pukulan dan tendangan dari seorang bocah bernama Molnar. Di salah satu adegan pemukulan, saya ingin kutipkan:

… lalu melanjutkan lagi perjalananku, dan yakin bahwa Molnar pasti sudah menungguku di depan bioskop. Benar, ia ada di situ, tapi bahkan ketika ia sibuk menyelesaikan urusannya [memukuli si tokoh kecil kita], aku malah memikirkan Perec dan teman-temannya, tentang aku dan mereka pergi ke danau […] Setelah itu yang terasa hanyalah panas sekujur tubuh, tapi entah bagaimana dingin juga: persis seperti yang terasakan sekarang di trotoar di depan bioskop, tempat aku duduk setelah Molnar meninggalkanku (126-127).

Sebelum bagian ini, diceritakan juga bagaimana ketika Molnar menghajarnya dia tidak merasakan sakit, karena dia merasa seperti pernah mengalami kejadian ini sebelumnya, dan dia sendiri memang mengaku seringkali merasa pernah mengalami sesuatu sebelum sesuatu itu benar-benar terjadi. Dia bilang:

…tapi ternyata dia hanya memukuliku. Di sini sedang kosong, dan itu membuat aksinya jadi lebih mudah. Selain itu, ia terlihat hampir seperti orang dewasa. Pukulannya tak terasa, mungkin karena ketika dipukuli aku sibuk memikirkan sepertinya aku pernah mengalami ini sebelumnya. […] Masalahku ialah aku tahu kejadian-kejadian seperti ini sebelum benar-benar terjadi. (120)

Kedua kutipan di atas menunjukkan bahwa pemukulan-pemukulan yang dia alami bukan sesuatu yang benar-benar menyakitkannya. Di kutipan pertama, jelas-jelas dia teringat akan sebuah kejadian yang membuatnya merasakan panas-dingin seperti habis dipukuli.

Alasan keempat kenapa saya membaca sodomi meskipun tak sedikit pun kata “seks” atau pun “sodomi” terucap adalah penggambaran sebuah kejadian di danau yang samar-samar tapi indikatif, yaitu:

… tentang aku dan mereka pergi ke danau: mereka memakai kaus kutung dan celana olahraga hitam, dan entah mengapa mereka mengajakku pergi. Walau begitu, kuikuti juga mereka karena bingung harus melakukan apa lagi, seperti saat Perec berkata, “Ayo, bocah bongsor, kita berenang.” Bahkan ketika berendam pun aku berpikir mereka hanya ingin berenang denganku; kami pasti sudah ada di dalam sana sekitar sepuluh menit, berkali-kali aku melihat ke Bukit Meselia, dan kereta api di kejauhan sana berbelok ke arah Szentendre. Lalu kami berempat keluar dari air. Matahari bersinar, tanpa seorang pun di sekelilingnya. Ketika kami duduk di tepi danau, tiba-tiba anak yang paling muda tertawa-tawa. Perec berdiri dan melorotkan celana olahraganya. Setelah itu, yang terasa adalah panas sekujur tubuh, tapi entah bagaimana dingin juga… (126-127)

Belakangan–yang merupakan alasan kelima saya–tokoh kecil kita menyatakan bahwa dia tidak mau “berbagi semua rahasia dengan Tuhan” (175). Dia sendiri tidak tahu dosa apa yang telah dia lakukan, terutama terkait dengan danau. Dia bilang “[a]ku tetap bungkam tentang danau itu, lagian aku tak begitu yakin dosa apa yang seharusnya kuakui” (175). Kalimat ini mengimplikasikan bahwa telah terjadi sesuatu kepadanya di danau itu dan dia memandang itu sebagai sebuah dosa, tapi dosa macam apa itu dia tidak tahu.

Alasan terakhir yang membuat saya samar-samar membaca sodomi dalam novel ini adalah pernyataan tokoh kecil kita pada akhir bab keenam:

… mungkin itu sebabnya ia mengizinkan kami pergi ke danau sore hari. Aku tetap di rumah, tapi aku senang Jungkit dan Benjamin bisa berenang lagi. Mereka pergi ke danau sesering mungkin. Aku sudah tak ikut ke san alagi sejak Juni lalu. Jika sedang ingin dan punya waktu, aku lebih memilih pergi ke dermaga–hanya beberapa ratus meter di belakang stasiun kereta. (198-199).

Entah bagaimana, saya yakin bulan “Juni” di sini tidak muncul dengan sendirinya. Dan ada kemungkinan di bulan Juni itulah terjadi insiden berenang dan panas dingin yang saya kutipkan di atas. Lagi pula, Juni adalah bulan musim panas, ketika anak-anak bisa berenang di danau.

Begitulah ceritanya bagaimana saya menemukan “sodomi” di pinggiran kisah, tersempil di antara berbagai permasalahan lain yang berhimpit-himpitan dengan elok dalam novel Anak Kesembilan.

Sumber Acuan
Barnas, Ferenc. Anak Kesembilan. Saphira Zoelfikar, Pent. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2010. Cetak.
Barnas, Ferenc. The Ninth. Paul Olchvary, Pent. Illinois Northwestern University Press. 2009. Cetak

2 thoughts on “Membaca Sodomi dalam Anak Kesembilan?

  1. mas wawan, sangat mengejutkan mas wawan punya interpretasi yang benar-benar di luar dugaan. alasan-alasan yang diajukan juga menarik dan mendukung. salut. jelas inilah gunanya pembacaan ulang, agar interpretasi-interpretasi atas teks tersirat bisa diurai dengan baik oleh pembaca. jujur saja, aku enggak terpikir sama sekali soal sodomi waktu baca Anak Kesembilan. blas. pembacaan anda sangat jeli.

    nah, btw, kalau sudah baca 9 summers 10 autumns (iwan setyawan) yang sedikit kita obrolkan kemarin, mungkin mas punya kesimpulan serupa dengan aku. aku merasa, dari cara ungkap, tindakan, dan pilihan kosakatanya, 9 summers 10 autumns mengandung kisah homoseksualitas dari sang protagonis. aku ingin mengungkapkan hal ini tapi masih bertele-tele dan belum jelas. semoga sebentar lagi.🙂

    keep up the good work.

  2. saya nggak tahu mas, ya, apa memang begini kenyataan di balik indikasi-indikasi singkat yang saya beberkan itu. jangan-jangan hanya pikiran saya saja🙂. tapi ya, kalau dari sudut pandang kita yang bukan anak kecil lagi ini, sepertinya berdasarkan berita dan kisah-kisah, tidak ada kejahatan (selain pembunuhan tentu saja) yang lebih mengerikan dan traumatis yang bisa dialami seorang anak kecil selain sodomi (paksa)–kalau bukan sodomi paksa, well, … sepertinya tidak pada tempatnya kita ikut-ikutan membahasnya secara publik. ditambah lagi, paragraf pembuka itu terasa buas sekali meskipun dijelaskan dengan sangat wajar-wajar saja dalam kerangka mimpi. saya jadi terpikir, apa signifikansinya bagian ini? kenapa ini yang dipakai untuk membuka cerita? trauma macam apa yang bisa menyusup ke dalam mimpi hingga menimbulkan defence mechanism seperti ini? atas dasar-dasar itulah saya pertama kali “menuduh” sodomi sebagai “pelaku” dari tindak pentraumaan ini🙂

    soal 9 summers 10 autums, saya belum baca mas. kemarin saya akhirnya putuskan baca buku lawas tolstoy (tuhan maha tahu, tapi dia menunggu, terjemahan anton kurnia) dan negeri 5 menara dulu, alasannya hanya karena buku ini muncul lebih dulu dan banyak yg membandingkan 9 summers 10 autums ini dg negeri 5 menara. (dan tolstoy saya baca hanya karena saya ingat chris mccandless yang diperkirakan membaca “kebahagiaan keluarga” sebelum dia memutuskan kembali ke peradaban dari hutan semak alaska, sebelum akhirnya gagal menyeberang kali dan mati di sana, innalillahi wainnailaihi rooji’uun). tapi kalau mas wartax sudah menerbitkan review-nya, saya akan senang sekali baca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s