Mulai lagi ceritanya kembali ceritanya berulang. Hari-hari ini lumayan banyak yang saya baca dan lumayan banyak juga yang sudah mulai saya tulis, baik untuk blog maupun untuk hal-hal lain. Tapi, karena banyak hal lain, saya jadi tidak bisa meluangkan waktu secara khusus untuk menuliskannya, mengeblogkannya, dan memanifestasikannya…

Awal bulan ini saya selesai membaca novel Anak Kesembilan, sebuah novel karya penulis Hongaria Ferenc Barnas yang diterjemahkan dari bahasa Inggris. Novel ini berkisah tentang kehidupan sebuah keluarga miskin di Hongaria ketika negara tersebut masih berada dalam cengkeraman rezim komunis. Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berkat kucuran dana dari PEN American Literary Award. Tapi, novel ini tidak hanya berkisah tentang perlakuan kejam rezim komunis terhadap keluarga Katolik taat. Nah, baru seuprit saja dari penjelasan saya sudah terlihat bibit-bibit topik yang bisa dituliskan untuk sebuah postingan blog atau bahkan sebuah makalah. Tapi ya itu… tetap saja saya belum bisa menuliskannya.

Menjelang akhir minggu pertama bulan ini, saya menyempatkan diri membaca otobiografi pembalap Lance Armstrong yang pernah 7 kali berturut-turut memenangkan Tour de France, ajang lomba balap sepeda klasik paling dihormati di antara publik balap sepeda. Buku ini berkisah tentang kisah Armstrong mulai kecil hingga menjadi atlit dan kemudian terkena kanker dan kemudian bangkit lagi hingga memenangkan Tour de France untuk pertama kalinya. Tentu saja ceritanya seperti itu, namanya juga otobiografi. Di buku itu disebutkan bagaimana semangat juang Armstrong begitu besar dan di sana-sini tampak sekali Armstrong sang narator menunjukkan betapa bencinya dia dengan doping dan obat-obatan haram dalam dunia olahraga. Belakangan, di internet saya temukan bahwa Armstrong terus-terusan mendapat serangan dari pembalap lain (yang kebanyakan adalah mantan rekan satu tim Armstrong sendiri) tentang keterlibatannya dalam penggunaan doping. Dari situ saja, sebenarnya ada potensi topik yang bisa dibahas untuk sebuah postingan blog. Tapi saya belum sempat menuliskannya.

Beberapa hari yang lalu, saya jalan-jalan ke Yogya untuk mengikuti acara Obrolan Sastra 10 Buku dalam Semalam yang digelar atas kerjasama antara milis Apresiasi Sastra dengan I:Boekoe. Acara itu memiliki arti yang tersendiri buat saya. Saya bertemu dengan sejumlah teman anggota Apsas dan kontak di Facebook yang sebelumnya hanya saya kenal lewat diskusi sibrawi (cyber :D) dan bahkan ada yang namanya saja yang saya kenal. Sungguh unik. Di akhir acara obrolan, saya juga menikmati “sup sastra,” yakni “jangan sop” biasa yang makaroni-nya berbentuk huruf-huruf mungil. Kang Sigit Susanto membawakannya secara khusus dari Swiss, di mana dia tinggal dan pernah mengikuti sebuah event sastra yang sebagai konsumsinya dihidangkan sup sastra ini. Pada jalan-jalan ke Yogya itu juga saya sempat main ke Segaran Tamansari dan Sumur Gumuling, dua buah situs yang selalu “menghantui” saya sejak kecil. Dulu, waktu masih SD dan SMP, di rumah ada majalah Kartini yang membahas tentang Keraton Yogyakarta dan, khususnya, segaran Tamansari. Saya ingat waktu itu di majalah Kartini itu terdapat gambar rekaan bentuk Segaran Tamansari ketika jaman dahulu. Keinginan saya untuk ke Sumur Gumuling juga menjadi sangat besar ketika saya melihat video klip Yogyakarta untuk pertama kalinya ketika masih SMP dulu, di acara Video Musik Indonesia di TVRI. Di video klip itu, Katon-Lilo-Adi beraksi di Sumur Gumuling. Pada kunjungan kemarin itu, saya terkaget-kaget ketika mengetahui bahwa Sumur Gumuling dan Segaran Tamansari ada di lingkungan yang sangat padat, bahkan ada orang yang rumahnya tepat di atas terowongan Sumur Gumuling itu. Saya langsung ingat bahwa di majalah Kartini itu memang dibandingkan rekaan sumur gumuling dengan keadaan Sumur Gumuling saat ini yang berbaur dengan atap-atap rumah penduduk. Ah, itu juga mestinya saya tuliskan tersendiri…

Tapi ya, karena ini itu, semuanya hanya saya rangkum satu paragraf saja dan saya bundel jadi satu di sini… Semoga segera ada waktu untuk kembali menulis dengan santai, menceritakan hari-hari seorang individu tanpa pretensi macam-macam… Sejarah dunia terbentuk dari sejarah orang per orang, kan?

2 thoughts on “Hongaria-Yogya-Perancis

  1. Tak kulihat tulisan. Hanya ada halaman kosong. Karena semuanya belum sempat dituliskan.

    Btw, kok gak kabar-kabar pas ke Jogja? Terus jadi ke Kendal ndak? Hapeku kok gak kemasukan SMS dari sampean sama sekali se?

    1. aw! sorry kang. kemarin gak jadi ke kendal, soale acarane pas ulang tahune xeno. hehehe… kalau ke jogja, kemarin mepet sekali, kurang dari 2×24 jam… jadwal padat, semua keraton harus dikunjungi, semua dinding benteng harus dilewati, semua gambar harus diambil… dan semuanya pikiran harus diperhatikan. haiyyah. insha allah brother, there’s a time for everything, all we gotta do is sort things out, no?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s