Kalau fiksi yang bagus itu menurut Jon Garner harus seperti mimpi yang meninabobokan pembacanya, berarti mungkin saja estetika yang paling tepat untuk fiksi Indonesia saat ini adalah karya-karya fiksi semacam karya-karya yang Budi Darma, Seno Gumira, atau Eka Kurniawan, atau mungkin bahkan Djenar Maesa Ayu, atau Iwan Simatupang.

Yang saya maksud adalah karya fiksi yang dibutuhkan Indonesia itu mungkin bukan karya fiksi yang biasa-biasa saja, yang menceritakan tentang fenomena percintaan yang dipenuhi perselingkuhan, atau karya fiksi cinta yang “hanya” diwarnai hubungan seks, atau karya fiksi drama keluarga penuh gejolak. Yang dibutuhkan Indonesia mungkin kisah-kisah yang bombastis, separuh surealis, dipenuhi sakit jiwa, atau bahasa Inggris gaulnya “something mental gitu loch, ih, sih, dong, pun!”

Bagaimana tidak, lihatlah berita sehari-hari, semakin ganjil saja: seorang lelaki yang mengaku heteroseksual tiba-tiba kedapatan “menikah” dengan seorang lelaki hanya karena awalnya dia main-main jadi cewek di facebook dan sekalian saja diteruskan main-mainnya karena sudah kecebur (lihat Wawancara dengan “Icha” di Jawa Pos), atau seorang gadis yang tiba-tiba menghilang setelah kenal seorang lelaki di facebook dan sering bertelepon dengan si lelaki tanpa kenal waktu, atau seorang anak kecil yang gemar menghirup bau bensin hingga tidur pun bawa botol bensin kosong, seorang kakek bandar togel yang akhirnya merasa lebih senang hidup di penjara karena makan tiga kali sehari daripada hidup sebatang kara tidak jelas makannya, ada sebuah keluarga dengan tanpa ayah yang hidup kelaparan di sebuah kabupaten penghasil beras terbesar di Sulawesi, camat-camat nonton video porno saat sidang paripurna yang dipimpin bupati, seorang wakil rakyat dari partai Islam kedapatan “membuka konten porno” saat sidang paripurna, dan jangan sampai terlewat, sudah sangat biasa kita melihat pohon pisang ditanam di tengah jalan sebagai bentuk protes karena jalan berlubang sudah bertahun-tahun tidak dibetulkan.

Nah, kalau di kehidupan nyata saja kisahnya seperti ini, apa nggak hambar rasanya membaca fiksi yang isinya biasa-biasa saja, menggambarkan seorang lelaki yang merenungi patah hati dan angan-angan cintanya di sebuah restoran? Bagaimana rasanya membaca kisah cinta penuh perselingkuhan (tanpa disertai pembunuhan si lelaki saat tertidur pulas lho ya?) dan menguras air mata karena kisah cintanya begitu memilukan?

Atau, apakah justru yang seperti ini, yang jauh dari kesan bombastis ini yang dibutuhkan fiksi Indonesia sebagai sarana rekreasi dari hidup yang lebih fiksi daripada novel ini?

One thought on “Reformasi Estetika Fiksi, Apa Iya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s