Baru satu jam yang lalu saya sampai di rumah setelah ikut menghadiri diskusi launching buku puisi Nanang Suryadi yang berjudul Biar. Awalnya, Denny Mizhar, penyair dan aktivis budaya yang sedang panas-panasnya menghubungkan berbagai elemen kesenian Malang, meminta saya menjadi moderator. Saya sudah setuju. Tapi, pada hari H dan jam J, ketika mau mengeluarkan sepeda pancal dari rumah, anak saya ingin ikut. Karena tidak tega kalau meninggalkan rumah, ya … saya ajak saja dia. Konsekuensinya, saya tidak bisa memoderatori acara, tapi untungnya Xeno jadi kenal yang namanya baca puisi, musikalisasi puisi, dan beberapa jenis makanan ringan. Haha…

Selain penyairnya sendiri, Mas Nanang Suryadi yang tentunya hadir di TKP, ada dua pembicara yang menelisik sajak-sajak mas Nanang dengan pendekatan kritis masing-masing. Kedua pembicara tersebut adalah mas Yusri Fajar, penyair, cerpenis, kritikus yang juga dosen sastra di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, dan pak Joko Saryono, kritikus dan dosen sastra dari Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. TKP-nya sendiri adalah basement Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, yang merupakan stomping ground-nya mas Nanang. Btw, saya infokan juga ya, mas Nanang sang penyair ini sendiri sebenarnya Pembantu Dekan III di Fakultas Ekonomi UB tersebut. Hehehe… Jadi, ada kemungkinan sebentar lagi Anda sekalian akan kenal penyair yang juga Dekan, dan mungkin Rektor, insya allah.

Mas Yusri Fajar mendekati puisi-puisi mas Nanang pertama-tama menerapkan taksonomi sastra, menggolongkan puisi-puisi mas Nanang dalam antologi Biar ini ke dalam puisi yang dipengaruhi paham estetisisme. Maksudnya adalah, antologi ini menunjukkan kecenderungan komitmen lebih besar kepada estetika ketimbang politika. Puisi berkutat pada keindahan bahasa, imajinasi dan kebebasan ekspresi si penyair. Dia tidak lagi menjadi sarana untuk penyampaian muatan-muatan semisal ajaran agama, kepedulian sosial, penyampaian kritik, dst.

Ada hal-hal lain yang disoroti mas Yusri dari antologi Biar. Salah satunya adalah penggunaan gaya dongeng. Mas Nanang, menurut mas Yusri, sepengingatan saya yang agak pelupa ini (hehehe…), adalah seorang penyair yang suka meminjam dari folklore. Hal itu dibuktikan dari banyak puisi yang bergaya dongeng (sebut saja Dongeng Daun, Dongeng Ikan Laut Dalam, Kucing, dll).

Hal lain yang juga disoroti mas Yusri adalah penggunaan metafora binatang yang banyak bertebaran di dalam puisi-puisi mas Nanang. Banyak di antara binatang-binatang itu dipinjam dari folklore, misalnya naga, ikan, kucing dll. Btw, kucing yang mengalir dalam darah pecinta yang disitir mas Nanang di sajak ‘Dongeng Buat Dimas Tentang Seekor Kucing’ itu kayaknya diculik dari folklore Mbak Tardji ya?

Kayaknya mas Yusri banyak bicara tentang hal lain. Tapi saya belum sempat lihat catatan. Jadi ya… sementara ini saja dulu. Yang jelas, seperti lazimnya kritikus yang tegas, mas Yusri mendukung argumen-argumennya tentang antologi Biar ini disertai tembakan-tembakan jitu pada judul-judul puisi tertentu dan terkadang baris-baris puisi tertentu.

Setelah mendengar telaah mas Yusri, saya mulai makan satu kue lumpur yang lembab-lembab enak itu. Tanpa sadar, waktu menikmati pengkajian tadi, saya sudah menghabiskan secangkir plastik kopi. Xeno hanya kebagian kopi sedikit, dan waktu dia minta kopi lagi saya lihat cuma tinggal ampas. Dia ambil cangkir saya dan meminum beberapa tetes saripati kopi yang tersisa di atas ampas. Dalam hati saya membatin akan membikinkan kopi Bali Banyuatis plus krimer kalau sampai di rumah nanti.😦

Bagaimana dengan pak Joko? Dengan gayanya yang lebih santai, tanpa terlebih dahulu membuat makalah seperti yang dibuat mas Yusri dan dibagikan kepada hadirin sebelum acara dimulai, pak Joko menyajikan telaah kritisnya atas antologi Biar tanpa benar-benar melepaskan diri sang penyair.

Ada beberapa hal yang disampaikan Pak Joko tentang Biar. Pertama-tama pak Joko mengawali dengan menegaskan bahwa penyair Indonesia modern adalah manusia yang paradoksal. Para penyair ini menulis puisi, sebuah bentuk sastra modern yang mengklaim diri modern (beliau tidak merinci kenapa modern, tapi kira-kira karena puisi ini tidak terkekang bentuk-bentuk puisi yang baku seperti halnya karya susastra lama) tapi menyebut dirinya sebagai “penyair” atau “pembuat syair” (di sini syair mewakili bentuk susastra lama).

Kedua, Pak Joko menyebutkan bahwa mas Nanang, sebagai penyair, adalah seorang penyair yang terjebak dalam “paradoks dalam paradoks.” Hmmm… saya agak lupa apa pastinya yang membuat mas Nanang ini paradoks. Kira-kira mungkin karena mas Nanang ini adalah orang non sastra yang selalu bergelut tanpa henti dalam bidang sastra, yakni dalam berpuisi. Dan itu dia lakukan tanpa henti.

Saya tidak ingat argumen kedua yang disampaikan oleh pak Joko tentang antologi mas Nanang ini. Yang pasti beliau mengutip Nassim Nicholas Taleb dalam karya terbarunya. Aduh, saya lupa lagi bagian mana dari buku Taleb yang dikutip pak Joko. Ya sudahlah. Pokoknya begitu ingat nanti akan saya tuliskan di sini.

Oh ya, begini, kembali ke soal paradoks dalam paradoks dalam diri Nanang Suryadi: double paradox yang dialami mas Nanang ini adalah 1) paradoks sebagai penyair Indonesia modern (sebagaimana saya sebutkan di paragraf sebelumnya) dan 2) pengaruh yang membentuk mas Nanang. Suatu kala pak Joko pernah menyebut mas Nanang sebagai penyair yang terpengaruh oleh Afrizal Malna, dan di saat lainnya mas Nanang terpengaruh Sutardji. Kini pak Joko merevisinya: mas Nanang bukan hanya terpengaruh Afrizal dan Sutardji, tapi dia merupakan seorang penyair yang pandai berkata-kata dengan gaya ungkap berbagai penyair.

Untuk mengambil istilah jaman sekarang, pak Joko menyebut kebergantigantigayaungkapan mas Nanang ini dengan istilah modern “multi-tasking.” Atau, “untuk lebih menghibur mas Nanang,” begitu kata pak Joko, kita sebut saja mas Nanang ini sebagai penyair “montase.” Saya lupa pastinya beberapa ungkapan yang dipakai pas Joko untuk mewakili kecenderungan multi-wajah mas Nanang ini. Yang jelas tadi bagian ini lumayan lucu.😀

Kira-kira begitulah dari pak Joko. Mohon maaf, saya tidak bisa mengingat lebih detil. Seingat saya, pak Joko tidak melakukan pengutipan-pengutipan spesifik pada judul-judul puisi tertentu atau baris-baris tertentu. Beliau hanya mengambil beberapa baris puisi tanpa menyebutkan judul puisinya yang mana. Yang pasti menarik juga.

Oh ya, dalam diskusi, mas Nanang sendiri didapuk salah seorang dari hadirin, cak Jumali, untuk melakukan pembelaan atas puisi-puisinya setelah mendengar telaah kritis dari kedua pembicara. Mas Nanang sendiri menyebutkan (menanggapi telaah mas Yusri) bahwa puisi-puisinya yang memiliki muatan baik itu teori ekonomi (bidangnya), kepedulian sosial dan politik, dst, dia kumpulkan dalam buku puisi yang dia siapkan untuk diterbitkan terlebih dulu tapi sampai saat ini belum terbit (yakni buku Orang-orang yang Menyimpan Api dalam Kepalanya). Mas Nanang juga bilang bahwa dia memang mencoba menggunakan berbagai gaya ungkap dan telah mendengar orang-orang mengidentifikasi puisi-puisinya terpengaruh Sutardji, Afrizal dll, tapi waktu dikonfirmasi sendiri dengan Sutardji, katanya puisinya malah lebih menyerupai Sapardi Djoko Damono.

Bagaimana menurut saya sendiri? Sayangnya saya hanya sekali membaca kumpulan puisinya mas Nanang dan baru menyoroti sedikit puisi saja secara serius. Tentunya membaca sekali sangat tidak memadai untuk ikut menelaah sebuah kumpulan puisi. Pertama membaca saya langsung merasa: wah, mas Nanang berpuisi ke dalam sendiri, tidak lagi menunjukkan kepedulian sosial. Saya curiga ada apa-apa dengan mas Nanang. Hal ini berbeda dengan apa yang diriwayatkan Cak Mukhid: mas Nanang dulu suka ikut demo 98 dan di demo-demo lainnya dan membaca puisi dalam kesempatan-kesempatan itu. Di puisi-puisi sebelumnya, termasuk yang pernah diterbitkan di Jurnal Baca Bengkel Imajinasi, puisi mas Nanang yang bergaya dongeng, juga mengandung nuansa kritik sosial yang kuat. Tapi sekarang? Kok puisi-puisinya banyak berbicara tentang kesunyian puitik, meninggalkan hiruk-pikuk duniawi dan menikmati kesunyian untuk kemudian mendapatkan sabda/hikmah/puisi (Belajar pada Kesunyian), melepas lelah di dunia puisi (Di Dedahan Sajak), memperturutkan nafsu menulis puisi atau kecanduan puisi (Seekor Naga), dsb? Apakah after all these years akhirnya Nanang Suryadi benar-benar menjadikan puisi sebagai tempat “jiwa[nya] singgah istirah melepas lelah” (Di Dedahan Sajak)?

Nantilah pendapat saya sendiri. Apalah…

Lagipula, saya sendiri pulang hanya beberapa menit selewat jam 12, setelah menyimak pembacaan puisi Skizo (karya mas Nanang) oleh mas Syaiful Alim penulis Kidung Cinta Pohon Kurma. Syaiful berbicara dengan percaya diri, menekankan suku kata demi suku kata seolah tak ingin pendengarnya melewatkan satu kata pun darinya. Pembacaan puisinya (yang dia klaim sebagai pembacaan dari non-penyair, dan katanya tidak tahu maksud dari “Skizo” itu) lantang dan menggelegar dan ada kalanya semilir (saking dahsyatnya kekuatan teriakannya, Xeno sampai bilang “Yah, teriak-teriak mas-nya” :D). Belakangan saya ketahui bahwa buku Kidung Cinta Pohon Kurma itu diterbitkan oleh penerbit Kata Kita dengan duo-editor Joko Pinurbo dan Sitok Srengenge. Dengan reputasi kedua penyair itu bagi banyak pembaca puisi, saya langsung mikir “Memang pantas mas Syaiful menjadi orang yang percaya diri.”

Ba’da pembacaan puisi Skizo oleh Syaiful Alim, saya langsung pulang demi mengingat di rumah sedang ada sepupu dari Pemalang, yang sejak SMP tidak pernah lagi saya temui, yang kini mampir di rumah karena kebetulan sedang prajabatan di Malang.

Jadi begitulah bunyinya. Selanjutnya saya akan “istirah melepas lelah di dedahan puisi” mas Nanang Suryadi. Uh-oh? Sssst…

One thought on “Peluncuran Antologi Puisi “Biar” karya Nanang Suryadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s