Akhirnya beberapa hari yang lalu saya selesai baca novel karya Jules Verne yang berjudul Twenty Thousand Leagues under the Sea. Saya tidak tahu pastinya seberapa tebal novel ini. Saya bacanya dari e-book. Yang jelas, saya butuh dua bulan untuk menyelesaikan novel ini (tentu saja di tengah segala macam kesibukan, bacanya juga sambil menidurkan anak, sambil nunggu dipanggil dokter, sambil nunggu antrian di bank, sambil naik bis, sambil nongkrong… maaf, tidak sepatutnya saya ceritakan yang terakhir ini :D). Saya memutuskan membaca novel ini pada bulan Februari lalu, dan baru berakhir awal April ini. Hehehe…

Kalau Anda sekalian kebetulan pernah mampir di blog ini dua bulan yang lalu, di situ ada postingan tentang peringatan 183 tahun Jules Verne. Setelah mengetahui adanya peringatan itu, saya akhirnya memutuskan membaca salah satu novel Jules Verne. Kebetulan, yang belum pernah saya ketahui ceritanya adalah Twenty Thousand Leagues under the Sea ini.

Pertama kali saya melihat judul novel Jules Verne itu adalah beberapa tahun yang lalu. Suatu kali saya pergi ke Toga Mas. Entah tahun berapa. Yang pasti waktu itu Toga Mas Malang sudah pindah ke kawasan dekat Dieng Plaza. Dan saat itu bagian buku-buku sastra ada di lantai bawah sebelah timur.

Waktu di Toga Mas itu, saya lihat judul buku tersebut sungguh menarik, Twenty Thousand Leagues under the Sea. Saya langsung berpikir, “Wah, asyik ini, buku science fiction dari abad ke-19.” Pikiran saya langsung melayang ke H.G. Wells, yang kalau tidak salah sedang saya baca pada tahun itu juga (novel H.G. Wells yang saya baca waktu itu adalah Pulau Dr. Moreau, versi terjemahan dari The Island of Dr. Moreau). Saya waktu itu baru tahu kalau Jules Verne juga menulis science fiction. Sebelumnya saya hanya tahu bahwa panjenenganipun itu pernah menulis Around the World in 80 Days.

Hal lain yang saya pikirkan waktu membaca judul Twenty Thousand under the Sea (versi terjemahannya tidak berganti judul, dan belakangan saya ketahui penerjemahnya adalah Mbak Rahmani Astuti) adalah tentang arti judul itu sendiri. Saya tidak tahu apa artinya “league” itu. Dan kata “under the sea” itu membuat saya berpikir bahwa maksudnya adalah “kedalaman 20.000 league di bawah laut.” Saya langsung terpikir, mungkin “liga” itu semacam kaki atau inchi atau meter begitu. Terus terpikir lagi: sombong banget nih orang, abad ke-19 sudah memperkirakan kedalaman laut itu 20.000 meter? Langsung deh saya syu’udzon kepada Jules Verne. Padahal semuanya ternyata salah.

Ternyata “league” itu adalah satuan ukur panjang kuno yang sebenarnya bervariasi. Tapi secara umum satu liga sama dengan 3 mil laut, atau kira-kira 5,5 kilometer lah. Dan setelah baca selama dua bulan kemarin itu, ternyata yang dimaksud “under the sea” itu bukan mengacu pada kedalaman laut, tapi pada lamanya waktu berada di bawah permukaan laut. Jadi, akhirnya saya temukan bahwa “Twenty Thousand Leagues under the Sea” itu kira-kira berarti “menempuh perjalanan sejauh 20.000 x 5,5 kilometer di bawah permukaan lautan.”

Oh ya, dalam bahasa Perancis sendiri, ternyata judul aslinya bila diartikan secara harfiah ke dalam bahasa Inggris adalah “Twenty Thousand Leagues under the SEAS.” Jadi bukan hanya laut, tapi “lautan.” Dan menurut pembacaan, ternyata artian seperti itu lebih tepat, soalnya perjalanan tersebut mengkover semua samudera dan selat-selat penting yang ada di dunia.

Sepertinya begitulah. Kapan-kapan kalau ada waktu saya posting lagi tentang isi novelnya sendiri. Olret?

One thought on “Memahami Judul “Twenty Leagues under the Sea”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s