Matahari sudah sangat lingsir ke barat. Aku tidak bisa memastikan pukul berapa. Mungkin setengah lima. Mungkin pukul lima. Angin terbilang tenang untuk ukuran pantai, apalagi pantai yang langsung menghadap samudera Hindia. Plengkung. Setelah kemarin bersepeda sekitar 30-an kilometer, menginap di pos Penjaga Alam Pancur, dan tadi seharian melanjutkan berjalan sekitar 10 kilometer menyisir pantai di bibir alas Purwo, dan melihat betapa ganas pantai saat laut pasang, ketenangan sore seperti ini adalah surga.

Laut sudah surut. Awan berserak tak rapi di bagian barat langit. Sesekali matahari tertutupi, sesekali berhasil mengintip. Di pantai ini, bekas-bekas terumbu karang yang telah mati membentuk lobang-lobang yang ukuran diameternya antara setengah meter sampai empat meter.

Di bagian tepi sana, di dekat pos penjaga pantai tempat kami akan menginap malam ini, kubangan-kubangan itu tampak indah. Di dasar kubangan-kubangan itu terdapat pasir. Putih. Cantik. Seperti bak mandi alami yang nyaman. Atau bahkan sebut saja jacuzi–andai saja ada gelembung-gelembungnya dari bawah. Andai saja tidak lengket lazimnya air laut.

Tadi, begitu melihat kubangan-kubangan jacuzi made in ilahi itu, kami langsung memutuskan untuk mandi. Kami tanggalkan baju-baju yang basah oleh keringat perjalanan seharian ini. Langsung kami nikmati sejuknya air laut. Lengketnya juga. Beningnya juga. Kami putuskan saat itu juga bahwa kalau ada sorga di bumi, pasti tempatnya di Plengkung, atau lebih spesifiknya di kubangan-kubangan itu.

Begitu puas mandi dan berganti dengan baju kering, kami berjalan menyusuri pantai yang surut, mencoba melihat-lihat apa yang kira-kira dititipkan samudera Hindia untuk kami. Kami menyusuri kubangan-kubangan terumbu mati hingga ke ujung tanjung, sambil melihat vegetasi laut yang ganjil di sebelah kiri.

Di ujung tanjung ini, sekitar seratus dua ratusan meter dari pos penjaga pantai, di bagian yang karang-karangnya sangat kasar, di bagian yang langsung mengintip ke samudera Hindia, kami melihat sesuatu yang paling menakjubkan. Di dasar kubangan-kubangan terumbu mati yang diameternya tak lebih dari setengah meter itu, kami melihat apa yang kami sebut bintang laut. Tapi, ini bukan bintang laut yang segi lima tumpul dan keras dan lucu itu. Bintang laut ini sangat ramping dan panjang dan dipenuhi semacam bulu-bulu. Ada yang berukuran mungil seperti laba-laba besar dengan lima jari. Ada yang panjang jarinya sampai lebih dari tiga puluh sentimeter. Warnanya kehitaman, jari-jarinya panjang, bulu-bulunya terkesan lancip.

Kami tidak melihat cuma satu. Ada lebih dari satu di tiap kubangan terumbu mati itu. Dan berapa jumlah kubangan terumbu itu? Hanya Tuhan yang tahu. Kami berjalan dengan meniti puncak-puncak karang yang menyumbul di atas air yang dalamnya tak lebih dari dua puluh centi. Selama seratus meter kami berjalan meniti karang hingga agak ke tengah bagian pantai yang surut itu, kami hanya melihat bintang laut-bintang laut ganjil itu. Mungkin ribuan yang kami lihat. Ada semacam ngeri. Tapi aku tak bisa menyembunyikan ketakjubanku.

Ketika sudah puas kami melihat-lihat bintang laut itu, kami memutuskan kembali ke basecamp kami. Dalam perjalanan kembali ke kawasan yang berpasir putih itu, kami menyaksikan matahari yang semakin kehilangan silaunya. Yang semakin oranye. Yang semakin Nyeno Gumira Ajidarma. Kami tunggu matahari benar-benar tenggelam, seolah kami memastikan dia pulang dengan selamat ke peraduannya.

Setelahnya kami naik ke lantai dua pos penjaga pantai dua lantai dari kayu itu. Tidak ada David Hazzelhof di pos ini. Tidak pula ada Pamela Anderson seperti layaknya di pantai California. Plengkung ini juga resort selancar yang cukup populer secara internasional. Tapi hanya untuk bulan-bulan Juni-Juli. Kami ke tempat ini pada bulan Februari. Bukan bulannya selancar.

Tahun sebelumnya, pada kunjungan pertama kami di Plengkung, di pos penjaga pantai itu hanya ada dua perempuan tua pencari rumah kerang. Sepanjang sore, ketika pantai surut, mereka mencari kerang di sekujur pantai. Hasilnya mereka jual untuk dijadikan suvenir di Bali. Kedua nenek ini tidur di lantai bawah, di atas sebuah dipan di depan tungku tanah liat mereka. Diet mereka sederhana, nasi dan ikan yang diasinkan. Waktu itu, melihat kami makan nasi dan Indomie, salah satu nenek tersebut memberi kami sepotong besar ikan asinnya. Bukan ikan asin kering. Tapi, lebih menyerupai ikan tongkol yang diasinkan. Masih banyak dagingnya. Sangat enak. Sangat asin. Ulum, salah satu dari kami, berinisiatif membuat sambal mentah, dengan bawang merah, bawang putih, dan sedikit cabe hasil pemberian nenek-nenek itu. Untuk lalapannya, dia ambil segenggam daun beluntas yang tumbuh di sebelah pos itu. Itulah untuk pertama kalinya aku lihat lalapan daun beluntas, yang belakangan aku ketahui sangat “antibiotik” itu.

Malam ini, kedua nenek itu sudah tidak di pos ini. Kami tetap memilih tidur di lantai atas pos itu. Sudah satu jam aku merebahkan tubuh berselimut sarung. Teman-temanku juga berselimut sarung. Kami menghindari gempuran nyamuk kelaparan yang entah berapa lama tidak pernah lagi menghisap yang namanya darah manusia di tengah hutan ini.

Tapi, ada satu hal yang lebih tak bisa membuat aku tidur. Setiap kali aku pejamkan mata, selalu aku melihat bintang-bintang laut kehitaman, dengan jari-jari panjang penuh duri-duri mengerikan itu. Tidak hanya satu. Tapi ribuan. Mungkin puluhan ribu. Di hadapan mataku.

P.S. Belakangan, setelah bertahun-tahun, akhirnya saya tadi sempat browsing dan menemukan jenis bintang laut itu. Dalam bahasa Inggris, bintang laut itu disebut “brittle star,” atau nama KTP-nya Ophiomastix variabilis. Yang kami lihat mungkin black brittle star seperti di bawah ini.

black-brittle-star

P.P.S. Salam metal kepada para member perjalanan ini: Bang Udin, Widi, Fathun, dan Ulum. Dan salam juga kepada bapak ibunya Bang Udin yang telah mensupport kami selama seminggu di sana. Dan salam juga kepada sepeda-sepedanya Bang Udin yang telah berpartisipasi aktif dalam perjalanan ini pada tahun 2001 dan 2002.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s