‘Keren, kan, judulnya? Seperti semacam program studi di Ph.D. di MIT atau mana gitu, kan? Begitulah sodara-sodara. Sekedar FYI, itu adalah judul untuk sepedaan saya hari ini tadi. Terjemahannya menurut konvensi adalah Meraba-raba Jalur Sepedaan di Kota.

Kenapa harus meraba-raba? Ya karena saya memang nggak tahu jalur sepedaan di Malang. Padahal, barusan, saya nemun dari sebuah thread diskusi, yaitu http://sepedaku.com/forum/archive/index.php/t-18760.html, yang tanpa disengaja ternyata menjadi semacam katalog singkat jalur mountain biking di Malang. Jadi begitulah…

Raba-raba jalur hari ini dimulai di villa saya dan keluarga di kawasan Ketawang Gede. Dari situ saya menuju kawasan Dinoyo dan berbelok ke utara melalui kawasan pengrajin keramik. Dari situ teruuuuus ke utara sampai memasuki kawasan Tunggulwulung dan di perempatan Tawangmangu/Tunggulwulung (whichever applies) belok ke kiri, ke arah barat. Dari sini suasana sudah nggak kayak Malang lagi, padahal jarak dari Dinoyo cuman 5-7 menit nggowes. Jalan lobang sesekali muncul di jalan. Di kanan kiri hanya ada perumahan-perumahan baru dan di sela-selanya masih ada sawah. Setelah sekitar 1-2 kilo, yang ada hanya sawah terasering yang ngUbud sekali dan sesekali ada warung merah (mepet sawah) dan kuburan dan selep pengolahan gabah jadi padi (dan konon dekat situ ada lokasisasi terselubung, hehehe… konon lho ya…).

Eh, nggak terasa sudah kelihatan Masjid Malik Fajar, eh maksud saya Masjid Universitas Muhammadiyah, yang dulu peresmiannya menghadirkan menteri pendidikan Malik Fajar. Begitulah seingat saya. Setelah nggowes sedikit lagi tibalah di gerbang belakang kampus Unmuh. Okelah, saya pun masuk ke kampus yang menurut saya topografinya agak-agak mirip dengan taman rekreasi Lembah Dieng dan Sengkaling (kalau Sengkaling sih memang tetangga sebelahnya :D). Ada telaga-telagaannya lagi. Ada sungai arung jeramnya lagi. Saya terabas kampus Unmuh dan saat keluar lumayan nanjak tapi pendek. Kira-kira bandingannya sama tanjakan Dickson Street di sebelahnya Greek Theater menuju perempatan Kimpel Hall-Starbucks.

Dari situ saya masuk ke jalur yang sangat Malang, sangat penuh sepeda motor dan mikrolet dan senantiasa dikaruniai kemacetan. Tapi–sebagaimana saya mulai nikmati–ternyata sepedaan di Malang itu, terutama di kawasan-kawasan sibuknya, sangat menyenangkan. Kita bisa melaju dengan kecepatan yang setara dengan sepeda motor dan mikrolet, dan seringkali ketika sepeda motor pun tidak bisa berkutik kita bisa nyempil-nyempil dan menyalip sampai ratusan (bahkan ribuan, dan konon puluhan ribu) kendaraan.

Tapi, sebelum membikin orang-orang terlalu iri dengan kegesitan saya dan tunggangan saya mengkadali kemacetan, saya meninggalkan arena jalan Tlogomas itu dan masuk ke kanan ke kawasan perumahan tempat tinggalnya Aulia, sekitar kawasan STP Pertanian atau apa gitu. Dan masuk lah saya ke kawasan nJoyo, Merto Joyo or something Joyo gitu. Lagi-lagi saya ketemu jalan yang lumayan quasi-offroad. Lha gimana nggak quasi-offroad, lha wong banyak polisi tidur (konon sampai ratusan). Saking banyaknya polisi tidur, saya nggak berani pakai bel sepeda (cing-cing!), dan bilang “nuwun sewu” ketika melewatinya, takut membangunkan para polisi itu, hehehe… Jalur yang sama saya tempuh hingga tiba di kawasan ITN (kampus lama).

Dari situ, karena masih wegah dengan jalur sibuk, saya memilih lewat gang-gang kecil yang naik turun, dan sesekali, di sekitar belakang UIN, saya lewat sebelah kuburan dan jalannya jalan tanah dan ngoffroad abis. Dan setelah nyelempat-nyelempit sambil bilang “nuwun sewu” seribu kali demi menghormati warga kampung, sampailah saya kembali di jalan aspal Gajayana. Setelah lagi-lagi membikin orang iri dengan keuntungan naik sepeda di macetnya Malang, saya pun memilih masuk ke kawasan jalan Kerto-kertoan atau Sumbersari yang pernah saya sebut dalam sebuah cerpen saya seperti labirin itu. Kalau tidak biasa, kita bisa tersesat di dalamnya (hahaha!). Lagi-lagi di sini jalurnya quasi-offroad dengan bapak itu petugas tidur (maksudnya polisi tidur :D).

Eh, nggak terasa, sudah sampai lah deh di rumah, kringet ndrumus, tapi puas, kulit tambah hitam, tapi puas, nafas ngos-ngosan, tapi puas, manisan mangga nan kuning menyala di tas (saya beli dari ITN), tapi puas, … siap mandi … siap menjelang hidup kembali🙂

Hemat waktu, hanya butuh satu setengah jam saja, sudah menempuh jalur lumayan panjang, tanjakan sedikit-sedikit asal cardiovascular bekerja normal, dan panas matahari yang memelihara kegosongan kulit… Demikianlah, seperti kata salah seorang pengisi thread diskusi yang saya link di atas, “Malang Sorganya Mountain Bike.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s