“Ayyub moved on without a qualified expert to announce his emergence into the world” (77)

Novel kedua Michael Muhammad Knight yang berjudul Osama Van Halen ternyata beda dengan The Taqwacores, yang mengisahkan tentang sekawanan anak-anak punk Muslim di kota Buffalo, New York. Memang sih nggak ada dua hal yang sama di dunia ini. Sekedar mengingatkan kembali, Taqwacores secara sastra terbilang sederhana, dengan hanya satu-dua tokoh yang karakternya berubah sepanjang novel dan karakter yang lainnya tetap namun dengan karakterisasi tidak wajar, plotnya sederhana, dan bahasa yang digunakan terbilang sangat natural. Yang menonjol dari novel ini adalah isinya yang penuh dengan ikonoklasme atas doktrin, acuan ke berbagai khazanah teologi Islam, lontaran pemikiran yang pada pandangan pertama mungkin akan dicap sesat, dan kritik terhadap patriarki, tauhid, serta taqlid dalam Islam. Paduan antara kedua menjadikan Taqwacores novel yang besar potensinya menjadi populer. Memang benar, novel ini cukup populer. Subkultur Taqwacore yang pada awalnya hanya fantasi penulisnya akhirnya benar-benar ada. Awal tahun 2010 ini versi film dari novel Taqwacores muncul. Tapi, karena isinya yang radikal itu, seringkali orang memilih tidak mendekatinya entah karena langsung benci atau karena takut imannya terganggu (…btw, bukannya takut ke selain Allah itu syirik?). Osama, bedanya, tidak lagi memiliki kesederhanaan plot itu, menyerupai novel-novel “posmodern,” seolah mencerminkan semakin rumitnya problem yang dihadapi Muslim saat ini, dan mungkin lebih kecil potensinya untuk bisa “dinikmati” seperti halnya kakanya.

Kisah Osama diawali dengan tokoh Michael Muhammad Knight. Meski namanya adalah juga nama si penulis, digambarkan tinggal di sebuah rumah di Buffalo yang deskripsinya persis dengan rumah yang ditinggali si penulis, dan digambarkan juga sebagai penulis, Michael yang ini masih tetap sebuah sosok fiktif. Dia meninggali sebuah rumah bersama Amazing Ayyub, si punker skinhead syiah keturunan Iran tokoh dari novel Taqwacores. Selain Ayyub, ada satu lagi tokoh dari Taqwacores yang masih ikut main di novel ini, yakni Rabeya. Kali ini, Ayyub dan Rabeya menculik Matt Damon dengan misi mengancam Hollywood agar tidak lagi menggambarkan Muslim sebagai sosok jahat, bodoh, teroris, dan sebagainya dalam film-film mereka. Uniknya, Matt Damon mengingatkan bahwa dengan penculikan itu mereka malah sebenarnya menegaskan stereotipe itu. Karena satu kejadian, Ayyub terpisahkan dari rombongan dan akhirnya pergi sendiri ke Kalifornia, menemui sebuah grup Taqwacore yang memainkan musik metal (artinya “logam” kan?) dengan nama Zulfikar (nama pedang Ali bin Abi Talib yang tentunya terbuat dari logam :D). Karena Zulfikar akan mengadakan tur keliling Amerika, Ayyub bersedia jadi sopir mereka berangkat ke arah timur, kembali ke New York. Di kawasan Utah, ketika masuk ke sebuah masjid di tepi jalan besar, Ayyub yang sedang sholat tiba-tiba didekati zombi yang mau membunuhnya. Mulai dari situ, kisah berbelok ke arah pengejaran zombie. Di negara bagian Oklahoma Ayyub bertemu sekelompok jin punker. Setelah kisah berbelok ke kanan kiri, akhirnya sampailah kembali Ayyub di Buffalo, di tempat tinggalnya Michael Muhammad Knight. Ayyub sangat ingin mencarikan Michael pelacur di Buffalo. Tapi karena berbagai masalah, akhirnya mereka pun mencari penari telanjang di Kanada, yang sebenarnya adalah sebelahnya Buffalo. Cerita diakhiri dengan sebuah pembunuhan di Buffalo lagi. Di dalam kisah ini terdapat banyak tokoh nyata yang difiksikan. Band Taqwacores The Kominas, yang berasal dari Boston dan beranggotakan anak-anak imigran Pakistan ikut terlibat, beserta tokoh-tokoh lain yang merupakan teman-teman atau orang-orang yang ingin Michael kritik.

Plot yang sebenarnya sederhana tersebut menjadi rumit karena di sela-selanya terjadi peleburan antara fakta dan fiksi. Michael si penulis sendiri pada saat-saat tertentu masuk ke dalam narasi cerita dengan suaranya sendiri, memberikan komentar-komentar terhadap kisah dan kadang bercerita sendiri kejadian yang dia alami secara panjang lebar, sehingga bagian tersebut tak ubahnya adalah sebuah memoar atau catatan perjalanan. Gaya masuknya Michael ke dalam narasi ini mirip dengan cara Milan Kundera yang masuk ke dalam Kitab Lupa dan Gelak Tawa, yang masuk untuk memberi komentar terkait dengan situasi politik di Ceko yang dia alami sendiri. Di dalam bagian-bagian non fiksi ini juga muncul teman-teman Michael yang sebenarnya juga dia ikutkan di bagian fiksi novel ini. Tak lupa pula, di sini Michael juga membahas sejumlah hal terkait tokoh-tokoh novelnya dan bagaimana dia membangun karakterisasi tokoh-tokohnya tertentu.

Sekedar mengingatkan lagi, Taqwacores adalah buah dari krisis spiritualitas yang dialami Michael. Setelah masuk Islam pada usia 15 tahun, dia menjadi Muslim yang super ketat yang malah membuatnya kerepotan sendiri: dia beranjak puber, tinggal di Amerika dengan berbagai perbedaan cara pandang dan cara hidup dengan cara Islam, menuntut dirinya menerapkan doktrin-doktrin Islam yang cenderung Wahhabi-Salafi. Ditambah lagi, dia mulai menemukan satu persatu “cacatnya” Islam, misalnya ketidaksingkronan antara cita-cita Islam dengan praktik Islam di kenyataan, intoleransi sekelompok Muslim terhadap aliran lain, kecenderungan Muslim yang terlalu “mendewakan” Rasulullah Salallaahu Alaihi Wasallaam sehingga seolah lupa bahwa dia juga manusia yang bisa khilaf dan salah, dsb. Taqwacores yang menggambarkan fantasi Michael akan sebuah kelompok Muslim impiannya itu, yang dia pikir tidak akan mungkin terwujud di kenyataan, dia niatkan sebagai salam perpisahannya dengan Islam. Saat itu dia menolak Islam sebagai sebuah institusi agama, tapi tetap memegang teguh tauhid dan taqwa—sebab itulah dia memilih istilah “taqwacore,” bukan “Islamcore.” Uniknya, buku ini malah menghubungkannya dengan tokoh-tokoh Muslim progresif Amerika yang membuatnya tidak pernah benar-benar meninggalkan Islam. The Taqwacores adalah fiksionalisasi dari protes Michael terhadap Islam. Mirip dengan kelompok Muslim progresif—atau dalam konteks Indonesia mungkin bisa dicari banyak kesamaannya dengan kelompok Islam liberal—Michael melancarkan kritik terhadap Islam fundamentalis, utamanya sejak muculnya gerakan Wahhabiyah di Arab pada abad ke-18 yang akhirnya menyebar ke seluruh dunia berkat penguasaan aliansi Wahhabi-Saudi atas kota suci Mekkah dan Madinah dan juga berkat lancarnya aliran dolar berkat penemuan minyak di Arab pada awal paruh kedua abad ke-20. Pendeknya, kritik yang dilancarkan Taqwacores lebih banyak bersifat Islam global daripada Islam lokal Amerika.

Osama, bedanya, memiliki kandungan nilai Islam lokal Amerika. Di sini Michael menyasar kelompok Muslim progresif yang menurutnya masih kurang berbuat banyak buat Islam di Amerika Serikat. Dia juga mengkritik para Islamofil, yaitu tokoh-tokoh, utamanya akademisi, yang bukan Muslim tapi sangat gemar dengan bidang kajian keislaman dan seolah-olah tahu semua hal dengan Islam. Michael mempertanyakan motif mereka dalam melakukan hal itu. Dia juga menyasar para “selebritis” Islam Amerika yang menjadi panutan taqlid para pemuda Muslim Amerika, yang di sini dia kiaskan dengan tokoh Hamza Yusuf yang menyebarkan zombi—tentunya zombi yang pandangan matanya kosong dan hanya melakukan apa yang diperintahkan tuan zombinya itu merupakan kiasan hiperbolik dari taqlid. Dia juga kritik konferensi ISNA (Islamic Society of North America) yang diadakan setiap akhir Musim panas di Chicago itu: pada bagian fakta dari novel ini, Michael menggambarkan bagaimana para pemuda-pemudi ISNA clubbing dan bagaimana ISNA yang semestinya Islami itu menjadi ajang cari pacar. Tak lupa, khas Michael Muhammad Knight, dia juga melancarkan kritik kepada dirinya. Michael, seperti halnya pada buku-bukunya yang lain di mana tak pernah malu-malu menceritakan kisah percintaan dan masturbasinya, mengkritik dirinya sendiri, mempertanyakan motifnya menjadi Muslim, apakah karena dia suka gadis-gadis Asia Selatan atau apa.

Sejauh ini, saya masih sulit untuk bisa menikmati novel ini sebagaimana halnya ketika saya membaca novel-novel yang plotnya konvensional. Tapi, setelah selesai membaca, dan mengingat-ingat lagi momen dalam novel tersebut, muncullah di pikiran saya bahwa banyak sekali sebenarnya isi yang ingin ditawarkan novel ini, dan memang kritik-kritik seperti itu penting. Sayangnya, jika diingat-ingat lagi, lantas apa bedanya Osama Van Halen ini dengan buku-buku non fiksi lainnya jika yang kita dapatkan sebagai pembaca hanya kritik-kritiknya saja, tanpa adanya kenikmatan pembacaan yang lebih bisa merangsang imajinasi dan tentunya interpretasi yang tiada berujung? Tapi, bisa saja saya berpandangan seperti ini karena saya masih malas menyibak tabir pilinan fakta dan fiksi ini. Mungkin saja dari kerumitan itu bisa hadir interpretasi yang tak kunjung berakhir. Bisa jadi kerumitan gaya narasi itu merupakan satu-satunya cara menggambarkan silang-sengkarut konstelasi Islam di Amerika. Wallaahu A”lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s