Gadis Kerudung Jingga (sebenarnya judul aslinya adalah The Girl in the Tangerine Scarf) karya Mohja Kahf adalah sebuah novel perkembangan atau bahasa seriusnya bildungsroman kontemporer dalam sastra Amerika. Namun, berbeda dengan kebanyakan novel Amerika lainnya, GKJ ini hadir dalam bingkai Muslim Amerika. Memang, sejauh ini sastra Muslim Amerika relative masihdalam proses perkembangan dan masih terlalu dini untuk menentukan kecenderungan-kecenderungan utamanya. Sastra dari kalangan muslim yang berlatar Afrika Amerika biasanya tidak bisa lepas dari gerakan Black Power (Marvin X, Malcolm X, Sonia Sanchez, Imamu Amiri Baraka), yang berasal dari kalangan Muslim suni pendatang dari Timur Tengah biasanya terkait masalah imigran dan politik Timur Tengah (Suheir Hammad), yang berasal dari kalangan sufi cenderung mengusung kisah khas sufi (Irving Karchmar, Daniel Abdul-Hayy Moore). Gadis Kerudung Jingga sendiri berkisah tentang perkembangan seorang anak imigran yang menjadi Muslim progresof tanpa meninggalkan fundamen Islamnya.

Sebagai sebuah novel perkembangan Gadis Kerudung Jingga terdiri dari beberapa tahap untuk mencapai kondisi terkini. Tahap pertama adalah masa-masa penanaman fundamen Islam. Khadra, si gadis kerudung jingga, datang ke Amerika ketika dia masih sangat kecil bersama orang tuanya yang kuliah pasca sarjana dan seorang abang. Setuntas sekolah orang tuanya, mereka tinggal di sebuah lingkungan Muslim di Indiana dengan sebuah Lembaga Dakwah yang aktif, di sinilah fundamen Islam ditanamkan oleh keluarganya. Tahap kedua adalah tahap benturan. Khadra melihat bagaimana seorang lelaki Arab yang dari luar terlihat sangat kuat Islamnya memperlakukan seorang istri dengan sangat otoriter, dalam artian berani melarang-larang istrinya, dan pada akhirnya memaksa sang istri mengikuti kemana dia pergi, padahal sekolahnya tinggal sedikit lagi selesai. Di sinilah Khadra mulai menemukan satu hal yang sangat tidak disukainya dari sekelompok Muslim. Tahap ketiga adalah tahap perubahan paradigma spiritualitasnya. Jika awalnya Khadra diajari dan berpandangan bahwa satu-satunya spiritualitas, atau cara menuju Tuhan adalah melalui Islam, dan yang lain adalah salah, maka paradigma ini benar-benar berubah secara drastic ketika dia mengunjungi nenek-bibinya di Syria. Di sini, Khadra bersentuhan dengan neneknya yang sangat menggemari syair dan lagu, dan sangat menikmati indahnya hidup. Selain itu, dia juga berkenalan dengan seorang penyair yang menunjukkan kepadanya bagaimana cinta kepada Tuhan. Selain itu, dia juga tersadar ketika berkunjung ke sebuah sinagog di Damaskus, yang dianggap sebagai sinagog tertua yang masih beroperasi. Di sana dia ketemu seorang rabbi Yahudi yang ternyata adalah seorang arab lokal, sebuah fakta yang mengejutkan, mengingat sebelumnya yang dia ketahui tentang Yahudi adalah agamanya orang-orang Israel atau orang-orang yang ada di Amerika atau belahan dunia lainnya, dia tidak pernah tahu bahwa banyak orang beragama Yahudi yang tinggal di segala penjuru Arab dan hidup rukun dengan Muslim maupun umat Kristen. Tahap terakhir, atau yang dalam skema saya adalah tahap keempat, adalah tahap pembentukan kesadaran progresifnya. Di tahap ini, Khadra memutuskan untuk melepaskan diri dari lingkungan full-muslim dan mencoba melihat ke luar dan berkumpul dengan orang-orang dari berbagai latar keagamaan. Di sinilah dia mulai mengetahui orang-orang yang memiliki sudut pandang bermacam-macam tentang Islam dan permasalahan sosial, dan dengan kebijakannya sendiri dia selalu mencoba merenungkan segala permasalahan yang ditemuinya dengan bantuan ajaran Islam, kemaslahatan, dan menimbang dengan sangat jernih, atau bahkan mungkin terlalu jernih. Dan pada akhirnya dia menjadi seorang Muslim yang tetap menjaga Islamnya tanpa harus menutup diri dari orang yang beragama lain dalam pergaulannya.

Gadis Kerudung Jingga menyuarakan kritik yang bisa dibilang sangat keras terhadap kecenderungan fundamentalisme dan “tidakramahterhadappemelukagamalainisme” yang ada di kalangan umat Islam, tapi juga tetap berupaya mempertahankan martabat umat Islam. Satu hal yang paling menonjol dan mendapatkan pembahasan agak panjang adalah perihal perang teluk yang pertama. Ketika mengetahui bahwa Amerika menyerang Iraq dan melakukan “carpet-bombing,” yang kira-kira artinya adalah pengeboman secara pukul rata, dan banyak nyawa penduduk Iraq melayang, dia sangat berang. Memang benar Saddam adalah orang yang layak dibenci, tapi ketika tentara Amerika melakukan “carpet-bombing” atau bahkan “smart-bombing” (ngebom tebang pilih) masih saja banyak rakyat tak bersalah yang ikut jadi korban, sementara Saddam tetap bisa menyelamatkan dirinya. Begitu juga sikapnya terkait konflik Israel-Palestina, dia bisa berpandangan bahwa memang yang dilakukan oleh Nazi terhadap orang Yahudi sangat layak dikutuk, tapi adalah sangat tidak benar juga jika akhirnya yang dijadikan korbannya adalah orang Palestina. Dia juga tahu bagaimana anak-anak muda Palestina melempar batu untuk menyerang balik tentara Israel. Dan meskipun dia sangat menghormati keyakinan Yahudi temannya yang berdebat dengannya soal krisis Israel-Palestina itu, dia tetap saja mengeluhkan kenapa di dalam konflik yang sifatnya adalah politik dan perebutan tanah ini Israel cenderung menggunakan agama sebagai sebuah senjata untuk menjustifikasi tindakan mereka. Dan satu hal yang menarik adalah ketika dia kembali dari Damaskus dan sudah mendapatkan “pencerahan” dan menjadi Muslim yang bisa menjalankan spiritualitasnya tanpa harus hard-core Islam, dan jilbab bukan lagi sebuah keharusan mutlak, dia malah tetap memakai kerudung ketika memasuki bandara Internasional O’Hare dengan alasan memakai kerudung adalah kebanggaan etnisnya dari Syria, sebagai penonjolan identitas.

Yang juga tak kalah menonjolnya dari novel ini adalah kecenderungan multi-tasking. Kita sering mendengar bagaimana bahkan novelis besar pun sering mendapat kritikan karena karya-karya mereka terlalu cerebral (seperti misalnya novel Rumah Kaca Pramoedya Ananta Toer yang disinggungkritik oleh Ignas Kleden) atau karena dialog-dialognya lebih seperti orang yang selalu diskusi serius tiada henti. Gadis Kerudung Jingga ini bisa menghindari ini dengan cara menerapkan “multi-tasking,” sesuatu yang konon merupakan kemampuan khas perempuan. Sepertinya, ini adalah cara khas Mohja Kahf dalam mengkontekskan dialog-dialognya. Dialog yang terjadi ketika sedang berbelanja harus mau disela ketika tokoh sudah menemukan lorong supermarket yang dia cari-cari. Dalam sebuah adegan sholat, Khadra terpikir tentang satu hal dan akhirnya mengalirlah alur kesadarannya atau (ehem-ehem) stream-of-consciousnessnya. Di satu titik, karena yang dipikirkannya menyenangkan, maka dia pun dalam hati bilang “alhamdulillah” dan langsung kaget dan mengubahnya jadi subhana rabial a”la karena ternyata waktu itu dia sudah sampai pada gerakan sujud. Dan puncak terganas dari multi-taskingisme ini adalah ketika Khadra berbincang-bincang dengan nenek-bibinya sambil memotong-motong dan menggoreng terong. Dialog yang mencekam itu diakhiri dengan manis (maaf, sebenarnya ini fakta yang menyentak!) dengan masuknya terong ke penggorengan.

Ketiga elemen tersebut bergabung menjadi satu menciptakan sebuah novel yang secara gagasan sangat segar dan mengundang pemikiran lebih jauh, tapi secara kriya juga sangat rapi dan layak dijadikan contoh buat para penulis pemula. Dengan ini, mungkin tidak berlebihan jika Michael Muhammad Knight dalam catatan perjalanannya Blue-Eyed Devil memberikan sebuah pujian selangit dan terima kasih yang amat sangat kepada Mohja Kahf atas saran-saran atas bukunya The Taqwacores, saran-saran atau komentar yang layaknya diberikan seorang penulis kepada penulis yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s