Setelah beberapa abad yang lalu saya ceritakan bagaimana kami berangkat dan sampai di titik di mana kami mendirikan tenda, sekarang waktunya kita lanjutkan ke bagian yang lebih dalam.

Setelah mendirikan tenda, kami makan siang “back country” a la Scott, pimpinan rombongan. Waktu dikasih tahu kalau selama perjalanan kita akan makan dengan bahan-bahan antara lain tortilla, pita bread, tuna, keju, beigel, saya sebenarnya agak sangsi. Wah, ini jalan-jalan capek kok nggak ada nasi atau indomie-nya? Akan kuatkah saya? Tapi, waktu siang itu kami masing-masing disodori pita bread dan tuna dari Walmart dan semacam ramuan bumbu gaya Turki atau Yunani–pasangannya pita bread–dan mulai melahapnya, saya jadi agak tenang. Ternyata cukup mengenyangkan. Dan ternyata, jatah kami juga tidak cuman satu, yang kedua pakai keju parut yang saya kasih banyak-banyak. Dan tentu saja kenyang: dua lembar pita bread dengan isi macem-macem kayak gitu. Mungkin level kekenyangannya sama kayak makan sepiring setengah.

Sementara itu, saya mulai tambah akrab dengan Buddy dan Cookie, guguknya Darrell dan Lee. Sebagai orang Islam standar yang dibesarkan di Jawa Timur yang relatif sedikit guguknya, yang memandang anjing lebih sebagai seonggok najis berat yang setiap persentuhannya (apalagi kalau basah) harus diakhiri dengan “menyucikan diri” daripada sebagai makhluk yang bisa sangat setia, yang hubungannya dengan anjing hanya sangat takut atau sangat jijik, perkenalan dengan anjing tidak pernah bisa lancar. Saya ingat waktu pertama kali datang ke Outdoors Connection Center pagi harinya si Buddy langsung mendekati saya yang ada di pintu. Di hati pikir saya langsung, “Wah, sepertinya guguk hitam ini semacam curiga sama saya atau memang dia selalu ditugasi mengenali orang yang datang”. Ternyata, Buddy memang anjing yang selalu butuh teman, dia mungkin semacam mengajak kenalan, atau (yang ini pasti) dia selalu bertanya-tanya apa saya mau kasih makanan. Dan saya yang dengan standar bilang ke Darrell bilang agak takut anjing langsung dijawab, “Don’t worry, he’s very nice.” Saya kan nggak tahu bedanya anjing baik dan tidak, batin saya, lha wong dia kelihatan gede dan hitam dan matanya berkilat-kilat hitam gitu. Tapi, selama makan siang di atas guguran daun, reranting belukar, “ranting hidup”, dan suara alam itu, saya jadi tahu ternyata Buddy sangat penurut. Saking penurutnya dia jadi seperti komputer, asal kita bisa ngeklik dan ngenter dia pasti jalan. Bayangkan, seekor guguk yang selalu mengharap makanan bisa dilarang makan roti yang sudah 10 meter di depan hidungnya, dan disuruh nunggu sampai semenit, dan baru makan setelah dikasih ijin! Dalam bahasa Johnny Cash saya langsung “came up with a different point of view!” Saya jadi nggak takut-takut dengan dia, dan merasa bersalah sudah syu’udzon.

Dan selanjutnya kami ketemu lagi satu prinsip “Leave No Trace”. Biasa lah, sehabis makan kan ada “panggilan alam” yang mengharuskan beberapa di antara kami harus “undur diri” dari hadapan sidang jamaah kemping sekalian. Biasanya sih setahu saya kita akan memilih kali untuk buang air kecil atau besar. Tapi, ajaran “Leave No Trace” mengharuskan kami berjalan merasuk ke semak-semak sekurang-kurangnya 200 kaki dari air dan menjalankan bisnis kita itu. Kalau bisnisnya adalah “No.2” (istilah yang dipakai teman-teman) kita harus bikin lobang seukuran 6 inchi persegi dengan kedalaman 6 inchi. Hehehe… Guyonan saya ke teman yang “undur diri” adalah “Don’t forget to put your name tag!”

Setelah makan siang (yang baru jam 11-an itu) selesai, kami bersiap-siap merasuk lebih dalam ke lingkupan Richland Creek Wilderness Area. Kami akan menghabiskan hari ini menyusuri kali Tanah Kayo (Richland Creek) dan melihat beberapa air terjun di sana. Semua barang kecuali botol minuman kami tinggal di tenda. Karena tempat minum saya camelbak yang butuh tas, dan saya juga hanya membawa satu ransel, jadi ya … saya harus kosongkan isi ransel hinggal tinggal tersisa kantong minum saja. Teman-teman ada yang membawa tas kecil khusus untuk kamera dan air minum. Bahkan, beberapa cewek hanya perlu membawa satu botol air atau bahkan hanya “membawa diri baik-baik”😀, minumannya nunut pimpinan rombongan yang bawah water purifier. Dimulailah perjalanan, membelah daun-daun kering, suara beburungan dan derik semacam jangkerik dan deru air di balik semak-semak yang tak henti-henti menyoundtracki kami. Seratus meter pertama jalur perjalanan turun, mulai turun biasa saja sampai turun ekstrim. Turunan terakhir sangat ekstrim dan berujung di kali Tanah Kayo yang bening. Dari situ kami belok kiri dan berjalan menyusuri kali di ngarai kecil tersebut.

Saya ingat coban manten di Pujon. Musim Panas tahun 2002 (hahaha… maksud saya sekitar bulan Juni tahun 2002) saya bersama Widi dan mas Ulum kemping semalam di sekitar Coban Manten, yang posisinya relatif di atas Coban Rondo. Kami pasang tenda di tepi kali kecil, di sebuah lahan yang terbuka beberapa meter persegi saja di tengah semak-semak hijau. Waktu itu saya membayangkan hutan dan kali Amerika (menurut film-film) dan beruang yang bisa sewaktu-waktu muncul. Dan sekarang saya ada di “hutan dan kali Amerika” itu, dan tentu saja dengan kemungkinan ketemu beruang hitam asli Ar-Khansaw.

Sebentar-sebentar teman-teman berhenti untuk memotret kali dengan macem-macemnya yang ganjil menawan. Saya menikmati dinding ngarai sebelah kiri, yang merupakan bebatuan yang nyaris sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tapi biarlah saya coba lukiskan. Batuan sedimen itu seperti batu-batu pipih yang ditumpuk dan seolah bisa dilepas satu persatu. Di sela-sela batu-batu pipih itu terlihat semak-semak menyeruak. Bukan hanya bentuknya yang ganjil, warnanya juga tak kalah ganjilnya. Di satu spot saya melihat kombinasi yang well … mungkin istilah yang pas hanya “puitik”! Warna dasar bebatuan yang abu-abu berpadu dengan beragam warna lumut–mulai yang hijau segar sampai kuning muram–dan warna semak-semak yang mengering merah layaknya daun-daun lain musim gugur dan dibackgroundi langit yang lagi hiperbolis. Mak! Langsung Steve Taylor melengking memberikan soundtrack di pikiran saya “I can stay lost in this moment, forever. Every moment spent with you is the moment I’ll treasure!”

Di beberapa bagian terlihat di celah-celah bebatuan itu air menetes-netes dengan tempo yang sangat teratur, disaring lumut-lumut, dengan satu dua “ranting hidup” merambati air murni itu….

Tidak seberapa setelah kami mulai menyusuri kali Tanah Kayo dengan ngarai kecilnya yang eksotirs, sampailah kami di air terjun pertama yang tingginya kurang lebih antara 3-4 meter. Di sebelah kenan air terjun terdapat batu yang menjorok, seakan melongok ke bagian atas air terjun, dan di ujung longokan batu itu tumbuh sebatang pohon yang langsung lurus menjulang. Dari atas batu itu tidak terlihat ada yang aneh, hanya pohon yang tumbuh dari tanah, tapi dari bawah batu itu terlihat bagaimana pohon itu tumbuh di ujung batu cadas. Saat teman berpoto-poto Scott minta bantuan saya mengisi botol-botol air untuk teman-teman. Ternyata meskipun masuk hutan bukan berarti kita harus hidup “darurat” dan minum air dari alam seadanya sebagaimana lazimnya saya dulu bersama teman-teman di Indonesia. Di kali yang bahkan tidak boleh kami kencingi itu Scott tetap memakai “water purifier”. Alat pompa kecil itu tinggal diceburkan di air dan kita tinggal memompa, seorang lain pegang botolnya. Saat pertama kali mencicipi air yang sudah “disucihamakan” itu saya langsung kaget, “Wow, bener-bener seperti air minum botolan!” Memang, air dari alam… disaring lagi.

Mau nggak mau, saya jadi ingat sejarah saya bersama air dari alam. Sejauh ini, saya–dan saya yakin semua pendaki juga–hanya menerima air dari alam apa adanya untuk urusan minum, tanpa perlu memasaknya. Waktu naik ke gunung Panderman, Malang, saya ingat ada satu sumber terakhir yang airnya cukup deras sekitar 2-3 jam sebelum sampai puncak. Di situ kami harus banyak-banyak mengisi air dan biasanya langsung dikasih extra joss, hehehe… Kalau JALAN ke gunung Bromo lewat jalur sebelah kanan gunung, dari arah Jarak Ijo, Ngadas, kita akan ketemu sumber air yang sebenarnya airnya kurang meyakinkan, tapi ya namanya orang hiking langsung saja ditenggak (biasanya sih biar nggak kerasa aneh langsung dikasih extra joss :D). Sejauh ini, hubungan dengan air yang paling ekstrim buat saya adalah ketika saya dan Heru Sudarmanto al-baroni terpaksa harus bermalam di gardu tepat di pertigaan antara Ranu Pane, Bromo, Ngadas karena terjebak hujan. Karena tidak ada rencana bermalam di situ, kami tidak bawa air. Tapi, karena keadaan tidak memungkinkan untuk berjalan dan hujan cukup deras, akhirnya kami menggunakan plastik-plastik kresek yang ada sebagai penadah air hujan, dan kemudian air itulah yang jadi kuah Indomie dan kopi susu kami malam itu. (Her, masih ingat nggak katanya kamu dulu lihat “bayangan putih” plus lagunya Peter Pan antara mimpi dan terjaga… jam 2 malam jauh dari peradaban. Hahaha…). Kalau naik ke gunung Arjuno dan Welirang ada “Pet Bocor” dan “Kop-kopan” dan “Pondok Welirang” yang punya sumber air langsung minum … Semuanya langsung minum, dan kayaknya tubuh kita langsung menerapkan standar ganda dengan air macam ini. Kalau naik gunung sih oke-oke saja, tapi kalau di rumah minum air mentah, mungkin sakit perut… mungkin lho ya…

Dan sekarang, bersama hiker betulan, kami malah jadi bisa minum air yang baik-baik… (bersahambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s