Sejak awal Manji memperhatikan adanya hal-hal yang tidak menyenangkan dalam praktek keseharian kaum muslim. Di keluarganya sendiri dia melihat, saat masih tinggal di Uganda, bagaimana ayahnya memperlakukan pembantunya yang orang asli Afrika dengan semena-mena, seperti memperlakukan seorang budak. Pada masa kecilnya, ketika sudah tinggal di Kanada, dia juga melihat bagaimana ayahnya memperlakukan ibunya dengan tidak pantas, tetapi ibunya sangat menurut dan tidak pernah protes, padahal sebagaimana tersirat dalam bukunya, sang ibulah yang bekerja keras di bandara Toronto sementara ayahnya di rumah. Namun, berbeda dengan Mohammed Arkoun yang membedakan antara Islam yang diajarkan Rasulullah (Salallahu Alaihi Wasallaam) dengan praktik Islam yang terkadang menyimpang (yang dia sebut sebagai “Islam”, dengan tanda kutip), Manji malah menafsirkan perkataan Rasulullah bahwa “agama adalah cara kita bersikap terhadap orang lain—bukan teorinya, tapi praktiknya” sebagai sesuatu yang berarti bahwa “perilaku Muslim ADALAH Islam”. Dengan begitu, Islam, Islam yang ada di hari ini, adalah sesuatu yang pantas ditolak. Seolah dia tidak mau mendengar orang yang membela Islam saat ini sebagai Islam yang menyimpang. Islam di jaman sekarang adalah Islam. Titik. Tapi, alih-alih langsung menolak, dia berpandangan bahwa masih ada nilai-nilai dari Islam yang patut diselamatkan, dan banyak lainnya yang harus dikritisi. Dalam The Trouble with Islam, dia mengajukan beberapa poin terkait pengamatannya atas “masalah-masalah” Islam di hari ini.

Pertama, yang penting dibahas di sini adalah pandangannya bahwa ijtihad adalah sebuah upaya menafsir hukum secara perorangan. Dia mendapatkan ini dari seorang pembaca yang menulis surat kepadanya, yang mengingatkannya bahwa ijtihad adalah “Islamic tradition of independent reasoning” (Manji 50). Dengan ini, dia percaya bahwa sebenarnya Muslim tidak hanya harus tunduk kepada apa yang dikatakan oleh para pemuka agama mereka. Menurutnya, eksklusifitas ijtihad menjadikan Alquran sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh kaum awam. Kaum awam saat ini hanya semacam diharuskan membaca saja tanpa tahu artinya. Dia berpandangan bahwa sebenarnya Dari pertemuannya dengan seorang wanita Afghan, dia menyiratkan bahwa sebenarnya masih ada harapan di kalangan orang-orang tertentu untuk bisa memahami Alquran, setidaknya “to find out if what the mullah says is in the Quran is really true” (Manji 165). Dia menyiratkan bahwa eksklusifitas ijtihad dan penafsiran Quran menjadikan kita semakin jauh dan cenderung mati-otak.

Kedua, masih terkait matinya otak Islam, Manji menganggap bahwa sebenarnya sumber kematian itu bukanlah karena tekanan para pemimpi Kristen, melainkan karena para pemimpin Islam sendiri. Pada masa keemasan Islam, antara tahun 750 hingga 1200 M, segala hal yang bisa diidamkan dari Islam menjadi kenyataan. Secara pemikiran, Muslim di Persia, yang saat itu menjadi ibukota kekaisaran Islam, maupun yang di Spanyol, yang merupakan bagian paling barat dari kekaisaran tersebut, memiliki kegairahan yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan. Baghdad memiliki 70 perpustakaan, dan di Kordoba terdapat tempat-tempat di mana para intelektual berkumpul dan berdiskusi tentang banyak. Karya-karya Yunani diterjemahkan dan ditafsir secara meluas baik di Persia maupun di Spanyol. Demikian juga dalam kaitannya dengan toleransi. Kaum Muslim hidup berdampingan dengan damai bersama kaum Kristiani dan Yahudi, bahkan banyak orang Yahudi yang memegang jabatan-jabatan penting di ibukota kekaisaran Muslim. Di Spanyol, pemikiran bebas umat Islam ini berhenti sejak Almoravids dari Maroko, atas undangan gubernur Spanyol Al-Mutamids, datang untuk melindungi Spanyol dengan cara mengalahkan kerajaan Kastil akhirnya mulai memaksakan apa yang mereka percayai, yakni penafsiran Quran secara harfiah. Pemikiran bebas pun mulai mati perlahan-lahan. Dalam bahasa Irshad Manji “Muslim didn’t crumble because of ravenous Christians😀 Christians scooped up the pieces, but the brutes who brought down Muslim Spain were Muslims” (Manji 57). Begitu juga dengan pimpinan syiah di Iran yang meskipun awalnya sangat menekankan pentingnya pemikiran bebas, dan bahkan menghukum mereka-mereka yang menafsirkan Quran secara harfiah, pada akhirnya jatuh ke tangan penguasa yang hanya mau menerima apa yang dikatakan Alquran saja. Tren ini, menurut Manji, semakin menjadi-jadi saat gerakan Wahhabi di Arab dirangkul oleh dinasti Saud dan akhirnya menjadi aliran yang resmi di Arab dan bisa menyebar atas bantuan penguasa dan dana yang bisa digerakkan dengan mudahnya. Dengan itu, Manji menyimpulkan bahwa keruntuhan Islam sebenarnya bukan hanya karena serangan dari prajurit perang salib dan Mongol saja, melainkan dari kaum Muslim sendiri—sebuah kesimpulan yang tidak bisa dibilang baru, sudah pernah dilontarkan mulai satu abad yang lalu.

Ketiga, Barat adalah jawaban untuk reformasi Islam. Manji memperhatikan bagaimana penerapan hukum-hukum syariah yang baginya banal, seperti misalnya seringnya korban perkosaan dihukum seperti halnya seorang pezinah, tidak manusiawinya hukuman buat orang yang telah diputuskan oleh sidang melakukan perzinahan, dan kesan bahwasanya kehidupan di bawah hukum Islam, seperti kata teman Manji, “bernuansa abad pertengahan” (Manji 60). Tidak pernah benar-benar ada demokrasi yang dilandasi oleh kesejahteraan bersama, pertukaran pendapat, di tempat-tempat yang mengaku diri negara Islam. Masyarakat dan negara-negara seperti ini cenderung tidak toleran, dan menganggap agama lain sebagai agama yang salah, dan tak jarang mengambil tindakan-tindakan yang relatif brutal terkait keyakinan agama. Terlebih lagi, masyarakat muslim cenderung memandang rendah kaum perempuan. Manji mengajak kaum Muslim memperhatikan bagaimana barat mempraktikkan nilai-nilai yang bagus, hak asasi manusia, penghormatan terhadap martabat kaum perempuan, dan demokrasi. Baginya, adalah tugas kaum Muslim di Barat, yang memiliki “luxury of exercising civil liberties, especially free expression, to change tribal tendencies” (Manji 186). Dengan kebebasan mereka untuk mengungkapkan pendapat, juga termasuk di dalamnya menafsir sendiri berdasarkan kesejarahan dan nilai-nilai yang beradab. Dengan merengkuh nilai-nilai yang penting dari peradaban Barat seperti disebutkan di atas, umat Islam akan bisa terbebas dari “Islam padang pasir”, yakni Islam yang terpengaruh nilai-nilai yang lazimnya dipegang oleh suku-suku padang pasir, yang sebagian besarnya negatif dan terkesan barbar. Manji menggunakan Israel, berdasarkan kunjungannya sekitar empat hari di negara tersebut, sebagai model negara yang menggunakan agama sebagai pokok ideologinya, tapi tetap bisa menerapkan nilai-nilai demokrasi seperti kebebasan berpendapat dan toleransi terhadap perbedaan.

The Trouble with Islam mendapatkan cukup banyak sambutan positif, terlepas dari tanggapan keras yang bisa dibilang pasti akan dia akan terima dari kaum Muslim sendiri. Dalam edisi bahasa Indonesia buku tersebut, yang berjudul Beriman Tanpa Rasa Takut, terbit 4 tahun setelah karya aslinya pertama kali diluncurkan di pasaran, Manji menceritakan bagaimana di antara berbagai ancaman yang diterimanya dari kaum Muslim yang menganggap dia telah melecehkan agamanya sendiri, menunjukkan borok-boroknya kepada dunia, dia juga mendapatkan pemudi-pemuda yang mengunjungi websitenya dan meninggalkan komentar-komentar yang bernada positif, seperti misalnya. Sebagian besar tanggapan positif yang datang langsung kepadanya lebih kurang berisi dukugan bahwa dia telah mengungkapkan “kejujuran” dan “cinta kepada kemanusiaan” (Manji 210). Prof. Khaleel Muhammad, mengawali pengantarnya untuk buku tersebut dengan ucapan

“Sebuah fakta yang sederhana: Saya sepatutnya membenci Irshad Manji. Jika kaum muslim mendengar kata-katanya, mereka akan berhenti mendengar orang-orang seperti saya, seorang imam yang melewatkan waktu bertahun-tahun di universitas Islam. Dia mengancam otoritas lelaki saya dan berkata banyak hal tentang Islam yang saya harap tidak benar. Dia bermulut besar dan menjalin fakta di atas fakta untuk membenarkan analisisnya.” (Manji 2)
Pembaca non-Muslim, sebagaimana terlihat dalam beberapa resensi atas buku tersebut, cenderung memberikan tanggapan positif atas buku Manji ini, terutama karena keberaniannya menyampaikan kritik, atau mungkin lebih tepatnya protes, terhadap agamanya sendiri. Apalagi buku tersebut ditulis di masa sekarang, ketika bisa dibilang citra Islam terancam karena banyaknya kelompok-kelompok Islam fundamentalis yang melakukan pembunuhan, dalam bentuk apapun, atau hal-hal yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ini merupakan sesuatu yang berbeda, terutama di jaman sekarang, ketika bahkan pemerhati Islam yang non-Muslim pun sering bersikap apologetik, membela nama baik Islam dengan mengatakan bahwa pelaku tindak-tindak kejahatan tersebut adalah kelompok-kelompok dalam Islam yang tidak benar-benar menjalankan Islam sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah, melakukan penafsiran yang terlalu harfiah atas ayat-ayat Quran, dan sejenisnya.

Namun, banyak juga penulis yang mengambil jarak dan cenderung mengkritik keras Manji terkait The Trouble with Islam. Muhammad Z. Iqbal, di website http://www.islamamerica.org merangkum beberapa peresensi yang memandang negatif buku Manji ini. Buku Manji yang sangat personal dan kurang didukung metodologi dan riset yang kokoh menjadikan buku ini mencurigakan. Salah satu peresensi yang Iqbal kutip adalah Khan yang menyinggung perihal akurasi sumber dan terjemahan Quran yang dipakai Manji dengan mengatakan bahwa “Manji’s convoluted methodology of interpretation is repeated throughout the book. She frequently relies on unreliable translations of Qur’anic verses, disregards context and shows no interest in probing deeper” (Iqbal). Terkait pembahasan geopolitik Manji mengenai konflik Israel-Palestina, Iqbal mengutip Sullivan dari The New York Times yang menganggap pandangan geo-politik manji “naif”. Satu hal yang tak lupa disoroti Iqbal adalah sikap oportunis Manji baik itu dalam hal mencari kontroversi maupun mengeksploitasi “keterancamannya”; Iqbal menyatakan, “The fact that she is able to travel freely around the world, including Muslim countries, delivering lectures to anyone who is willing to listen leads one to question how much of this persona of a victimized woman has been fabricated to generate sympathy for her and increase sales of her book.” Stefan Weidner, yang meresensi edisi Jerman buku tersebut mengakhiri resensinya dengan menunjukkan kemalasan Manji melakukan riset untuk penuliskan buku ini sehingga di sana-sini terlihat kesalahan-kesalahan terkait detil sejarah. Michael Muhammad Knight menyoroti juga sikap oportunis Manji yang menjadikan dirinya seolah satu-satunya tantangan yang ditakuti para mullah selama empat belas abad dan, bagi Knight, bahwasanya Manji “writing about Islam’s treatment of women, she made no mention of scholars like Amina Wadud that have been promoting feminist readings of the Qur’an for years, adalah bukti bahwa “memiliki sekutu atau dekengan akan mengurangi melodrama” Manji (Knight 207). Berlawanan dengan resensi-resensi koran, seperti misalnya The New York Times yang sangat menghargai keberanian Manji dan menyebutnya “Mimpi Buruk Bin Laden”, kalangan-kalangan yang peduli dengan sejarah dan menghormati akurasi dan keterandalan sumber cenderung bersikap negatif terhadap buku Manji ini, dan akan terlalu memakan ruang jika harus mendaftarnya di sini.

Pada akhirnya, terlepas dari penilaian kritis atau akademis atas The Trouble with Islam yang cenderung negatif, harus diakui bahwa buku ini telah berhasil mendapat sorotan yang besar, setidaknya di Amerika Utara. Banyak Muslim yang dibikin resah oleh buku ini, dan banyak non-Muslim yang akhirnya memiliki pandangan negatif atas Islam. Dengan ini, Manji pun mendapatkan tempat di jajaran penulis Muslim yang heretik atau membahayakan keimanan (saya sendiri kurang sreg menggunakan istilah “bid’ah” sebagai terjemahan atas “heretic”, sebagaimana ditunjukkan kamus; saya kok merasa kurang tepat menggunakan “bid’ah” di sini; apa mungkin karena saya nggak ngerti bahasa Arab ya?). Namun, sebagaimana Iqbal kutip dari Sheema Khan,

“Muslim yang kokoh imannya tidak akan terancam oleh The Trouble with Islam. It is mildly annoying and downright irrelevant, for they are confident of dealing with contemporary issues within the timeless framework of the Qur’an. A book like this does, however, affect Muslims’ daily lives, because it spreads so much false information about the faith, which in the post-9/11 era heightens the polarization between civilizations.”

Sumbar-sumber:
1. The Trouble with Islam (Irshad Manji, 2004)
2. Beriman Tanpa Rasa Takut (Irshad Manji, 2008, terjemahan buku di atas, dengan judul baru, dengan pengantar baru, dalam bentuk .pdf)
3. “The Trouble with Islam” by Irshad Manji (Muhammad Z. Iqbal, 2008) http://www.islamamerica.org/ArticleLibrary/BookReviewTheTroublewithIslambyIrshadM.aspx
4. “Bin Laden”s Nightmare” Seek Islamic Reformation (Stephen Bates, 2005) http://www.guardian.co.uk/uk/2005/may/09/religion.world
5. Blue-Eyed Devil (Michael Muhammad Knight, 2006)
6. The Trouble with “The Trouble with Islam” (Stefan Weidner, 2004) http://www.qantara.de/webcom/show_article.php/_c-310/_nr-52/i.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s