Beberapa saat setelah The Taqwacores dijilid dan diterbitkan sendiri oleh Michael Muhammad Knight, sang penulis, novel tersebut akhirnya bisa terbit dengan bentuk yang layak beli dan distribusi yang lebih baik pada tahun 2003. Karena kisahnya yang tidak wajar tentang kelompok muslim punk itu, buku ini mendapatkan reaksi beragam dari pembacanya. Sebagian besar kaget dengan “pelecehan agama” yang ada dalam novel tersebut. Novel ini dibuka dengan sebuah puisi yang menggambarkan Muhammad sebagai seorang nabi yang berpenampilan seperti anak punk. Semakin ke dalam, pembaca akan melihat bagaimana sosok Nabi Muhammad yang sangat dijunjung tinggi oleh umat Islam, dan oleh hampir semua muslim dianggap sebagai tokoh yang tak dapat diganggu-gugat kedudukannya, tersebut mendapatkan gugatan dari kanan kiri. Hal ini membuat banyak Muslim memandang Michael sebagai seorang murtad. Namun, hal itu malah menghubungkan Michael dengan akademisi-akademisi muslim yang menerima gagasan-gagasan yang dia munculkan dalam novel The Taqwacores tersebut. Sepertinya gagasan-gagasan yang disodorkan Michael dalam novel yang kehidupan para tokohnya disajikan dalam kerangka kehidupan anak-anak punk itu sesuai dengan gagasan-gagasan Muslim progresif. Salah satu yang menjadi contoh adalah gagasan imam perempuan. Beberapa tahun setelah Michael menerbitkan novelnya, Michael akhirnya berkesempatan menghadiri acara sholat jumat yang dipimpin oleh seorang imam dan khatib perempuan. Dengan adanya dukungan nyata dari seorang sarjana Islamic Studies ini, The Taqwacores yang awalnya novel DIY itu tidak bisa lagi dianggap ringan dan sekedar “melecehkan agama”. Sekilas bisa dirasakan adanya penafsiran agama yang di luar kotak. Namun, ada satu hal yang menggelitik dalam novelnya tersebut, yakni penggunaan tokoh-tokoh punk–yang dianggap sebagai kelompok menyimpang dalam masyarakat–sebagai anak-anak Muslim yang melakukan dekonstruksi ajaran-ajaran Islam dan menghadirkan penafsiran-penafsiran baru tersebut. Anak-anak punk, yang di Inggris pada tahun 1970-an dianggap sebagai kelompok yang menyimpang dan harus ditertibkan dengan berbagai cara, baik itu melalui hukuman maupun melalui perangkulan media, di novel ini menjadi anak-anak yang bisa memberikan penafsiran Islam yang akhirnya diakui oleh sarjana Islam dan bagaimana Islam mereka itu sesuai dengan Amerika, sebuah negara di mana mereka–sebagian–dilahirkan, dibesarkan, dan kelak akan melanjutkan hidupnya. Dari sini muncullah satu pertanyaan besar: mengapa kisah tentang anak-anak yang “menyimpang” itu diakui sebagai sesuatu yang layak dipertimbangkan oleh seorang profesor? Seluruh tulisan ini akan berupaya menjawab pertanyaan tersebut. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan.

Yang pertama adalah tentang latar belakang tokoh-tokohnya. Semua tokoh penting dalam novel tersebut adalah imigran. Meskipun tidak diberikan latar belakang mendetil oleh penulisnya pembaca bisa menyimpulkan dari serpihan informasi yang ada bahwa sebagian besar dari anak-anak ini adalah imigran generasi kedua. Sebagian besar tokoh dalam novel ini adalah arketipe tokoh dari budaya-budaya tertentu. Sebagai arketipe, sifat masing-masing tokoh memiliki keterikatan dengan tempat asal mereka. Tapi selebihnya, tampaknya detail masing-masing tokoh tak lebih penting daripada bahwa fakta bahwa mereka adalah anak imigran yang dibesarkan atau dididik di Amerika. Konflik dari benturan antara ajaran domestik keluarga dengan kehidupan Amerika inilah yang lebih disoroti dalam The Taqwacores. Di satu sisi mereka masih tetap keluarga imigran yang diajarkan dan dipaksa mempraktikkan nilai-nilai yang dipercaya orang tua mereka sebagai nilai-nilai yang baik dalam hidup dan sudah semestinya dijalankan. Namun, di sisi lain mereka mendapati bahwa nilai-nilai yang dipercaya oleh orang tua mereka itu tidak sesuai dengan kenyataan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari sementara pada saat yang sama mereka harus menyesuaikan diri dengan nilai-nilai Amerika. Tapi, mengingat banyaknya kasus di mana seorang anak meninggalkan agama orang tuanya sepenuhnya atau malah tidak terlalu peduli dengan agama, tokoh-tokoh dalam The Taqwacores ini bisa dibilang agak unik, karena mereka malah memiliki perhatian yang sangat besar terhadap agama. Seberapapun mereka menerima pengaruh pergaulan, mereka tetap mencoba menghubungkannya dengan agama, atau bahkan tetap mempertahankan ajaran-ajaran agamanya di tengah anakronisme. Yang lebih unik lagi adalah bagaimana mereka bisa melakukan penerjangan ajaran-ajaran Islam tertentu tapi mempertahankan beberapa ajaran Islam dengan sekuat tenaga. Mereka malah melakukan pemberontakan yang keras, penolakan keras terhadap nilai-nilai yang dianggap mutlak dalam Islam, namun pada saat yang sama mereka tidak meninggalkan nilai-nilai yang lebih inti. Yang ada adalah upaya mendekonstruksi nilai-nilai asli tersebut dan merekonstruksi nilai-nilai itu menjadi sebuah bangun agama yang lebih sesuai dengan mereka. Dari sini muncullah pertanyaan yang membantu kita memahami lebih jauh tentang pemberontakan gaya mereka ini, yakni “apa yang membuat mereka begitu berani menentang kebudayaan asli mereka itu?”

Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah hal terpenting kedua yang harus dijadiikan bahan pertimbangan, yakni ideologi punk. Menurut film dokumenter Punk: Attitude, satu hal yang pasti dari punk adalah penolakan terhadap kemapanan. Tidak ada yang absolut bagi anak-anak punk, setidaknya dalam pandangan Hebdige yang mengamati anak-anak punk di Inggris pada pertengahan dekade 70-an. Nilai-nilai sosial kemasyarakatan seperti penghormatan kepada orang tua, kasih sayang, dan apalagi tentang ide monarki menjadi sesuatu yang tidak pada tempatnya untuk dipertahankan. The Punk, sebuah novel karya Gideon Sams yang bisa dijadikan sebagai dokumen kultural yang bagus menceritakan bagaimana Adolph Sphitz, ketika akan meninggalkan rumahnya untuk hidup lebih bebas, meneriaki dan mengumpat orang tuanya–bahkan dia tidak hanya tidak menghormati ruang tuanya, dia juga tidak menghormat orang tua seorang gadis yang disukainya, yang artinya adalah ketidakhormatan kepada siapa saja. Dick Hebdige menegaskan kecenderungan serupa ini di kalangan anak-anak punk Inggris di pertengahan dekade 70-an itu. Tampak juga penentangan terhadap monarki Inggris sebagaimana terlihat pada maraknya foto Ratu Elizabeth yang divandalisasi dalam zine-zine atau sampul album band-band punk. Bahkan dalam sebuah konsernya, The Sex Pistols menunjukkan ketidakhormatannya kepada keluarga kerajaan Inggris dan membuatnya harus meringkuk di tahanan selama beberapa waktu. Dan yang lebih menonjol di kalangan banyak orang adalah penentangan mereka terhadap komersialisasi atau kapitalisme. Seorang anggota sebuah band dari tahun 70-an menunjukkan bagaimana mereka mereka malah senang setelah mencoba melakukan pementasan yang sangat tidak sopan sehingga akhirnya seorang perwakilan dari sebuah label menyatakan bahwa dia tidak akan meluncurkan album mereka. Penolakan terhadap uang, pemerintah, dan orang tua adalah tiga dari pemberontakan yang paling besar di jaman ini. Ketiga hal ini menunjukkan betapa anti-nilainya anak-anak punk itu. Di dalam novel The Taqwacores, kita bisa melihat tokoh-tokoh yang tidak terlalu menghargai nilai-nilai mutlak sebagaimana wajarnya seperti misalnya dengan tiada henti mengkonsumsi alkohol dan ganja dan melakukan seks bebas. Ada juga tokoh yang tidak terlalu peduli dengan komersialisasi atau mendapatkan uang, sebagaimana bisa dilihat dalam film dokumenter Punk’s Not Dead. Namun, ada juga yang menarik, bahwa di antara semua penentangan yang mereka lakukan itu, mereka masih percaya bahwa ada satu Tuhan yang mereka percayai sepenuhnya dan kecenderungan untuk menunjukkan nilai-nilai humanisme. Hal ini menunjukkan “berkas-berkas” ajaran agama. Mengapakah di antara banyaknya penyimpangan terhadap nilai-nilai yang oleh banyak orang dianggap sebagai nilai mutlak, sesuatu yang sangat cocok dengan “nilai-nilai” punk, masih ada nilai-nilai penting yang masih dipegang erat dan dipromosikan, sesuatu yang agak tidak sesuai dengan nilai punk? Sepertinya hal ini bisa dijawab dengan cara yang mereka tempuh dalam mendekonstruksi Islam.

Hal penting ketiga yang perlu dibahas di sini adalah desakralisasi, yang merupakan salah satu langkah praktis dalam dekonstruksi Islam yang dilakukan The Taqwacores. Desakralisasi di sini menargetkan apa-apa yang secara tradisional dipercaya sebagai nilai-nilai Islam. Michael Muhammad Knight menyatakan bahwa satu hal yang membuatnya sangat tertarik kepada Islam adalah pandangan Islam bahwa ada satu kekuatan ilahi yang tunggal yang mengatur seluruh alam, dan berbeda dengan agama-agama lain yang memiliki otoritas keagamaan atau perantara antara manusia awam dengan tuhannya, Islam benar-benar melarang kaumnya menyekutukan Tuhan sementara pada kenyataannya manusia seringkali menghormati perantara antara manusia awam dengan tuhan sedemikian rupa hingga nyaris-nyaris menyekutukan Tuhan. Dengan sikap yang seperti itu, Michael lebih mudah bersikap netral terhadap semua tokoh dalam Islam. sikap netral semacam ini, Michael bisa melihat dan mengakui adanya sisi negatif maupun positif dalam diri Rasulullah maupun ajaran-ajaran Islam yang dibawakan ke manusia lewat tangan Rasulullah dan budaya Arab. Selain tokoh-tokoh Islam, ada juga hal-hal yang mengalami penilaian kritis lainnya, antara lain perintah dan larangan yang dipercaya sebagai perintah dan larangan yang ada dalam agama Islam. Di antara perintah-perintah yang mengalami telaah kritis di sini adalah perintah sholat lima kali sehari, wudhu sebelum sholat, puasa, sunat klitoris buat perempuan, penggunaan wangi-wangian. Sholat menjadi sesuatu yang tidak terlalu signifikan untuk dilakukan sesuai dengan waktu-waktu yang semestinya harus dipatuhi untuk menjalankan sholat. Mereka menjalankan ibadah sholat ketika mereka ingat dan itu pun seringkali dilakukan dalam keadaan mabuk atau dalam hadas besar maupun kecil. Seolah-olah ada kesan bahwa selama tujuan utama dari sholat, yaitu menjalankan spiritualisme, bisa terpenuhi, hal-hal kecil lainnya tidak terlalu siginifikan untuk dipatuhi sampai mendetil. Desakralisasi ini juga tampak apalagi pada praktik-praktik agama yang sifatnya kultural, seperti misalnya praktik sunat klitoris oleh orang-orang India dan infibulasi oleh orang-orang Afrika buat para perempuan muslim atau kebiasaan menggunakan wangi-wangian dalam beribadah oleh orang-orang Arab. Dalam hal larangan-larangan dalam agama Islam, The Taqwacores juga menunjukkan bagaimana larangan-larangan yang seolah bersifat mutlak juga dilanggar dengan sesuka hati. Bahkan, di situ seolah-olah tidak ada istilah “melanggar” karena larangan-larangan itu juga tidak dianggap sebagai larangan yang sebenarnya. Mereka adalah hal-hal yang dilarang oleh orang-orang Islam di Arab sementara di Amerika, di mana hal-hal tersebut sudah menjadi hal-hal yang lazim, dan sulit kiranya anak-anak itu menghindarinya, hal-hal tersebut tidak lagi menjadi larangan. Di antara hal-hal tersebut adalah praktik hubungan seksual di luar pernikahan, masturbasi, memakan produk-produk yang mengandung babi, penggunaan ganja, minum minuman keras, sholat pada waktu datang bulan. Larangan-larangan tersebut kehilangan sakralitasnya dan dengan mudahnya bisa diterjang. Semua hal tersebut dilanggar dengan sadar oleh tokoh-tokoh dalam The Taqwacores asalkan mereka tinggal mengurangi spiritualitas dan tidak merugikan atau menyakiti orang lain. Salah seorang tokoh menggunakan ganja dengan gampangnya karena dia beranggapan bahwa ganja bukanlah sesuatu yang dilarang dalam Islam. Produk-produk babi juga demikian halnya, seperti misalnya gelatin, yang porsinya babinya bisa dibilang sangat kecil, dan itu pun tidak ada daging babi yang asli. Tokoh-tokoh, perintah, dan larangan dalam Islam dipandang dari sudut pandang ilmiah dan sejarah sehingga tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral dan akhirnya bisa diamandemen. Dengan begitu, mereka bisa menemukan hal-hal yang prinsipil dalam agama Islam, yakni kepercayaan kepada Allah Swt dan cinta kepada sesama.

Selanjutnya hal tersebut diikuti dengan elemen terakhir dekonstruksi Islam, yakni, sakralisasi. Sakralisasi ini berupa pemberian arti penting kepada hal-hal duniawi yang dirasa memiliki arti terkait pengembangan spiritualitas seseorang. Selanjutnya mereka menggunakan prinsip-prinsip dasar Islam itu dalam melihat segala sesuatu di sekitar mereka, di negara Amerika. Dari situ, mereka pun menemukan hal-hal yang menarik di Amerika atau di barat yang memiliki nilai-nilai Islam seperti misalnya lirik-lirik lagu punk, karya sastra, tokoh sastra, dan bahkan sistem jalan raya antar negara bagian Amerika. Seorang anak Taqwacore bisa menghayati arti sebuah lagu punk dan menemukan arti pentingnya dan menganggap di situ terdapat nilai keislaman. Salah seorang tokoh sangat suka berbicara dengan sepenuh iman tentang jalan lintas negara bagian, seolah-olah itu adalah sesuatu yang suci, yang mau tidak mau sangat dekat hubungannya dengan gagasan hijrah dan kesunyian atau meditasi. Begitu juga dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Para penulis Amerika seperti Mark Twain yang mengajak banyak orang memikirkan soal moral dan penghargaan terhadap orang kulit hitam, mendapatkan penghormatan yang tinggi dan bahkan makamnya mendapatkan guyuran air zamzam. Gagasan bidah, yang berarti inovasi, juga mendapatkan pandangan positif dan dipandang sebagai sesuatu yang bagus, berbeda dengan pandangan muslim kebanyakan yang menganggap inovasi sebagai sesuatu yang sifatnya negatif. Ada juga di sini ajakan untuk menghargai hal-hal yang ada di luar Islam, di luar hal-hal yang lazimnya dianggap sebagai sesuatu yang suci. Nilai-nilai tersebut mungkin saja ada dalam Islam namun pada jaman sekarang ini tidak tampak praktiknya. Termasuk di sini antara lain adalah humanisme yang dipercaya sebagai sesuatu yang diperjuangkan oleh orang-orang Amerika sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan, seperti misalnya kasih sayang, sayang binatang, hak asasi manusia, menghargai perbedaan dijadikan nilai-nilai yang harus dipertahankan. Dengan sikap serupa itu, umat Islam bisa hidup di manapun di seluruh dunia tanpa harus tampak berbeda dengan nilai-nilai yang memang sudah bagus di daerahnya sendiri.

Dengan poin-poin penting tersebut, maka wajar saja jika The Taqwacores di satu tempat dianggap “melecehkan” tapi di sisi lain mendapatkan penghargaan yang cukup bagus, terutama dari kalangan progresif, karena sumbangan pencerahannya. Penggunaan kerangka kehidupan anak-anak punk sebagai bungkus untuk penyampaian gagasan-gagasan fenomenal itu membuat mereka bisa menyampaikan suara keras tapi tetap masuk akal. Seseorang mungkin bisa memahami penyimpangan pikiran mereka seperti halnya orang-orang tua akhirnya memahami bagaimana anak-anak punk bisa menjadi semacam “kotoran rakyat”. Tapi, tidak dipungkiri bahwa sebenarnya anak-anak punk ini sebenarnya “hanya” punk dalam hal keberanian mereka memberontak. Masing-masing mereka ternyata dibekali hasil-hasil pemikiran banyak ilmuwan Islam besar, terutama ilmuwan sosial, filsalfat, maupun sejarah. Dengan menyadari nilai-nilai paling elementer dalam Islam, mereka bisa mendesakralisasi nilai-nilai Islam yang, menurut mereka, mengandung elemen-elemen sejarah maupun budaya. Dalam suasana yang kosong itu, mereka bisa melihat sisi spiritual dari elemen-elemen kehidupan Amerika mereka. Dengan itu, spiritualitas Islam tidak hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang hidup di negara-negara Islam, karena bahkan masing-masing negara Islam itu juga membangun Islam dari elemen-elemen budaya mereka sendiri-sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s