Sebelum saya lanjutkan ke buku kedua Michael Muhammad Knight, salah satu penyumbang dalam Sastra Amerika Syarekat muslim, ada dua hal yang terlewatkan dalam cicilan postingan kemarin.

Yaitu:

Arti penting parade musik punk yang digagas oleh Jehangir. Seperti diceritakan sebelumnya, Jehangir adalah satu-satunya penghuni rumah punk di Buffalo ini yang tahu tentang adanya para punker muslim di Khalifornia. Tapi, ada satu orang lagi yang juga tahu tentang itu, yaitu Muzammil, seorang gay (ingat kan istilahnya: liwatiyyun) yang baru mereka kenal dan kebetulan juga pernah tinggal di Khalifornia. Karena Muzammil masih baru-baru saja pindah dari negara bagian yang dipimpin sang Governator Arnold Schwazenegger itu, dan tentunya lebih up to date informasinya mengenai anak-anak Taqwacore di sana, maka Jehangir berkonsultasi dengannya untuk tujuan menentukan siapa-siapa saja band yang akan diundang untuk tampil di parade musik mereka.

Proses pemilihan band-band ini terlihat unik. Menurut Muzammil, mereka tidak perlu mengundang Bilal”s Boulder, band anak-anak Arab yang cenderung garis keras dan tidak memperbolehkan ada perempuan di sidang jamaah konsernya. Ini berhubungan langsung dengan Muzammil, kalau perempuan saja tidak boleh hadir, apalagi kaum homoseksual? Terus bagaimana dengan band-band lain yang sebagian atau seluruh anggotanya perempuan? Bagaimana dengan band-band Liwaticore (punker homoseksual)? Tapi, dengan kebijaksanaan seorang pemimpin yang progresif wal-liberal wal-inklusif, Jehangir bilang:

“Yeah,” ucapnya halus. “Yeah, Muzammil. Mereka benci kamu. Mereka juga benci aku. Mereka benci kita semua karena satu atau lain hal. Mereka benci aku karena tanganku nyekek botol bir. Kamu karena mulutmu mengoral penis orang. Rabeya karena klitorisnya nggak disunat. Kita semua melakukan sesuatu yang haram. Lihat saja kita. Kita selalu dianaktirikan, dikucilkan, takut menjadi diri kita sendiri di hadapan saudara-saudara kita sesama muslim. Mereka nggak mau bangun masjid buat kita. Kita harus bikin masjid sendiri. Masjid homo di Toronto, itu aku dukung. Imam perempuan, semoga dirahmati Allah. Macam itulah. Apa saja. Tapi jangan sampai kita ikut-ikutan mereka. Jangan pinggirkan orang lain kalau kita lagi punya wewenang, seperti halnya kita dipinggirkan. Apa kamu cuma ingin punya komunitas agar bisa menjadikan orang lain ”orang luar”?” Suaranya berangsur-angsur naik. “Taik,” katanya tajam. “Taik orang-orang kerdil seperti mereka itu. Jadilah besar! Lebih besar. Hajar mereka dengan keramahan. Bagaimana mungkin mereka mau membencimu kalau kamu cinta mereka?”

Maka, jadilah konser punk itu sebuah jamaah yang inklusif. Semua diterima. Dan Bilal”s Boulder pun akhirnya tampil (sebagaimana sidang jamaah milis sekalian baca di postingan sebelumnya, ketika mereka naik panggung dan mengajak sholat isya” berjamaah). Adegan ini jadi semacam pembalikan dari kebijakan-kebijakan pimpinan organisasi agama yang memfatwa haram ajaran2 tertentu atau menganggap kelompok2 tertentu sebagai penyeleweng ajaran agama yang sejati.

Hal lain yang perlu saya tambahkan masih dalam kaitannya dengan The Taqwacores ini adalah bahwasanya buku ini memang sangat erat kaitannya dengan konteks Amerika, di mana kebebasan berbicara nyaris tak terbatas, di mana (misalnya) bisa ada iklan Telkomsel bisa bilang “Jangkauan kami sampai ke kecamatan, nggak seperti Pro XL yang baru sampai ke kabupaten!”. Dan ketika sebuah penerbit Inggris meminta copyright penerbitan novel tersebut di Inggris, mereka menuntut dilakukannya penyensoran. Banyak bagian negatif yang berhubungan dengan Rasulullah dihapus. Bahkan, judul majalah indie terbitan Rabeya “Ayesha”s Hymen” (atau “Selaput Dara Aisya”) harus dihilangkan. Dan banyak lainnya. Dalam memoar terakhirnya yang berjudul “Perjalanan ke Ujung Islam”, Michael tahu itu pasti berhubungan dengan kasus-kasus seperti kontroversi kasus Rasulullah di Denmark, dsb. Michael bilang, “Penyensoran novelku di Inggris memperlihatkan pandangan penerbit bahwa pengalaman pribadku sebagai muslim tidak sah dan representasi Islam yang paling pas adalah mereka-mereka yang disebut fundamentalis. Demi toleransi dan penghormatan atas perbedaan budaya, penerbit tersebut mengingkari bahwa Islam sendiri sebenarnya bisa beragam.” (hal. 82).

Jadi ya, demikianlah tambahan dari saya tentang The Taqwacores. Selanjutnya insya allah kita sudah siap melompat ke memoar “Iblis Mata Biru”. Oke? Salaam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s